Dilema Kecanggihan Teknologi Aplikasi: Memblongkir Dengan Dua CaraOrang Tua dan Eyang Juga Perlu Edukasi

WAWAN DWI/RADAR JEMBER Anak zaman now sudah terbiasa dengan  teknologi yang diberikan smartphone.  Termasuk dengan meniru kebiasaan orang untuk selfie.

ORANG tua punya peranan penting dalam menyaring pengaruh negatif dalam penggunaan media sosial, gawai serta aplikasi media sosial bagi anak-anak. Kesadaran itulah yang mendorong Komunitas Tanoker yang berbasis di Kecamatan Ledokombo, untuk memasukkan materi tentang internet sehat bagi anak, ke dalam “kurikulum” sekolah orang tua yang mereka gagas.

IKLAN

“Ini bukan sekolah yang formal. Jadi kita saling berdiskusi dan membangun bersama, sehingga sifatnya bukan top down melainkan buttom-up,” tutur Farha Ciciek, salah satu pendiri dan penggerak Komunitas Tanoker kepada Jawa Pos Radar Jember.

Sekolah atau forum diskusi tersebut sudah digalakkan Komunitas Tanoker sejak lima tahun terakhir. Namun kesadaran diskusi tentang internet sehat bagi anak baru dilakukan sejak setahun terakhir. Tak hanya kepada orang tua, sekolah tersebut juga menyasar kepada kakek-nenek yang ada di sekitar wilayah Ledokombo.

“Karena di sini kan kantung pekerja migrant di mana banyak orang tua yang migrasi ke luar negeri untuk bekerja sehingga menitipkan pengasuhannya kepada kakek-neneknya,” urai Ciciek.

Salah satu poin penting dari literasi tersebut adalah kesadaran bahwa gadget bukan untuk diberikan kepada anak-anak, melainkan dipinjamkan. “Dipinjamkannya pun dengan aturan tertentu. Yakni setelah anak-anak menyelesaikan kewajibannya seperti belajar, mengaji atau membersihkan rumah. Juga di batasi jamnya,” tutur Ciciek.

Anak-anak baru diperkenankan memiliki gawai atau ponsel misalkan setelah berusia diatas 17 tahun. Selain itu, materi yang mengemuka dalam literasi tersebut adalah proteksi dalam gawai sehingga anak-anak tidak bisa mengakses konten-konten yang tidak seharusnya mereka saksikan. Seperti konten dewasa atau kekerasan.

“Intinya orang tua dan kakek nenek juga harus paham tentang penggunaan media sosial dan internet sehingga bisa mengimbangi anak-anaknya,” tegas istri dari Suporahardjo ini.

Jika diarahkan dengan tepat, Ciciek menilai media sosial dan internet bisa membawa yang positif bagi anak-anak. “Seperti di daerah kami di mana banyak anak-anak yang ditinggal orang tuanya untuk bekerja di luar negeri. Orang tuanya masih bisa mengontrol tumbuh kembang anak-anak mereka dengan rutin berkomunikasi misalnya lewat video call atau aplikasi percakapan. Ini bentuk distance parenting,” jelas Ciciek. (ad/ras)

Reporter :

Fotografer :

Editor :