Social Entrepreneurship, Ingin Berdayakan Potensi Wisata Jember

TBK for Radar Jember CINTA JEMBER: Salah satu kegiatan Tamasya Bus Kota (TBK). Gerakan pemberdayaan ini memanfaatkan media sosial untuk promosi.

RADARJEMBER.ID- “Apa sih pekerjaan sampean mbak, kok bisa sering jalan-jalan ke luar negeri?” Pertanyaan sederhana itu sering tertuju kepada Hasti Utami, yang memang hobi berwisata sejak masih kecil.

IKLAN

Sejatinya, Hasti memang menjalankan berbagai macam bisnis, mulai dari tour & travel, entrepreneur training centre, interior, handycraft, spa, hingga kuliner. Namun, kegiatan jalan-jalannya ke berbagai destinasi cantik baik di dalam maupun luar negeri yang rutin dilakoni Hasti memang tidak sekadar senang-senang. Saat ke Korea Selatan, Brunei, dan Malaysia misalnya, sembari berwisata, Hasti juga membawa beberapa produk kerajinan buatan pengrajin di Balung, Jember untuk ia pasarkan ke negara tersebut.

“Menurut saya, generasi muda perlu memang untuk banyak berwisata. Bukan sekadar senang-senang, tapi juga untuk membuka wawasan tentang betapa besarnya potensi bangsa kita yang belum kita garap,” ujar Hasti.

Suatu saat, terbersit dalam pikirannya tentang sejauh mana kontribusi yang bisa dia lakukan untuk bangsa yang amat ia cintai ini. Terutama di Jember, yang ia nilai masih memiliki kesenjangan dan kantong kemiskinan.

Lantas, pandangan Hasti tertuju pada sebuah bus kota Damri yang kerap melintasi jalanan kota Jember, dengan penumpang yang sangat minim. “Aku dapat info dari teman, padahal bus itu dapat subsidi dari pemerintah. Cuma sekarang masyarakat kan banyak yang naik kendaraan pribadi untuk mobilitasnya. Sayang juga, uang rakyat itu tidak bisa dipergunakan dengan optimal,” ungkap Hasti.

Dengan berbekal pengalamannya dalam berbisnis tour & travel, tercetuslah ide untuk membuat kegiatan wisata ke beberapa destinasi di Jember dengan menggunakan bus Damri perintis. Untuk menyiasati kekurangan bus, Hasti lantas banyak menggunakan bus Damri yang kondisinya sudah jadul. Ia menamakan kegiatannya itu Tamasya Bus Kota (TBK). “Saya mulai pada November 2017 dengan rute tamasya ke Pantai Payangan. Karena konsepnya empowerment (pemberdayaan), saya mengajak kerja bersama dengan masyarakat di sekitar,” tutur alumnus SMAN 1 Jember ini.

Hasti mewujudkan TBK setelah berdiskusi dengan David K. Susilo, praktisi pariwisata yang juga dosen di IKIP PGRI Jember dan Unej. Selain itu, terdapat beberapa orang lain yang tertarik bergabung ke dalam tim sebagai relawan. “Kami semua sebagai relawan, jadi tidak terima gaji,” tutur alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Jember ini.

Bersama timnya, Hasti mula-mula mengajarkan nelayan dan warga setempat untuk bisa menjadi pemandu wisata. Mulai dari cara berkomunikasi, hingga yang paling utama adalah etika. Tim TBK juga membuat standar kebersihan agar wisatawan menjadi nyaman. Selain itu, Hasti juga mengajak kerja sama dengan warung makan setempat untuk mengangkat kuliner lokal. “Sekalian untuk mencegah wisatawan jadi korban harganya dimahalin ketika makan di warung,” tutur Hasti.

Hanya dalam waktu yang tidak terlalu lama, program Tamasya Bus Kota (TBK) yang digagas Hasti mendapat respons positif. Dalam satu bulan, setidaknya 25 bus, baik bus kota maupun bus swasta, yang ikut dalam trip TBK dengan penumpang lebih dari 1.000 orang. “Sebenarnya kami bisa saja investasi beli bus sendiri. Tapi itu tidak kita lakukan, karena konsep awal kami adalah pemberdayaan. Makin banyak mitra, makin banyak yang merasakan manfaat” ujar Hasti.

Tak puas di kawasan Jember selatan, Hasti juga mengembangkan program sosialnya itu ke kawasan Jember utara yang menurutnya juga perlu diberdayakan. Pengembangan wisata di kawasan itu berangkat dari peristiwa yang Hasti alami pada empat tahun silam. Ia masih mengingat jelas kejadian tersebut. “Kejadiannya 9 Desember 2014 di Desa Rowosari. Saat itu, aku dalam perjalanan ke Sumberjambe untuk menjadi pemateri dalam pelatihan kewirausahaan bagi warga setempat,” kenang Hasti.

Secara tidak sengaja, Hasti bertemu tukang kayu yang membawa dagangannya dengan dipikul. Dia berjalan dengan pelan sekali. Hasti pun menghampirinya. Saat ditanya, ternyata sang tukang kayu itu habis terserang stroke, sehingga agak lemah. Padahal, pria malang itu harus memikul kayu dengan jarak yang menurutnya cukup jauh, dan dengan nilai dagangan yang mungkin tidak seberapa. Hasti pun membantu pria renta itu.

“Aku kepikiran dengan bapak itu. Sejak itu aku bertekad, harus bisa membawa kontribusi bagi warga di wilayah ini,” cetus Hasti. Tanggal 9 Desember 2017, dijadikan Hasti sebagai tanggal peluncuran (launching) rute Durian Nostalgia, yang membawa wisatawan ke beberapa titik wisata di Jember utara. Tetap dengan konsep social entrepreneurship.

Saat ini, TBK memiliki lima destinasi, yakni masing-masing Payangan, rute Durian, rute Puger, Jember Heritage Walking Tour (JHWT), dan Jember Islamic Trade (JIT). Dalam TBK, Hasti menerapkan beberapa aturan, antara lain wisatawan harus datang tepat waktu; tidak boleh membuang sampah sembarangan; serta harus berbaur akrab dengan warga sekitar. “Karena kami ingin membangun empati dengan warga sekitar. Di TBK kita tidak memberi kesempatan orang untuk sombong,” ujar Hasti.

Seperti dalam rute Durian (kawasan Jember bagian utara), wisatawan diharuskan untuk membeli makanan yang di masak oleh ibu-ibu desa yang di masak secara gotong royong. Harganya pun sangat terjangkau, hanya Rp 8.500. Dengan merasakan nuansa perdesaan, peserta trip bisa makan di tengah sawah atau kebun. “Saya lihat, ibu-ibu di sana itu memasak dengan sepenuh hati. 8.500 mungkin tidak berarti buat sebagian orang, tapi buat mereka itu adalah kebahagiaan” ungkap Hasti.

TBK nyatanya tidak sekadar menggerakkan roda ekonomi lokal, tapi juga sektor budaya. Seperti saat TBK menyewa jasa sebuah sanggar Can-macanan Kadduk, kesenian asli Jember utara, dalam trip rute Durian. “Setelah tampil, mereka sampai cium tangan sambil menangis haru. Penampilan mereka sangat sederhana sebenarnya, tapi ada kesungguhan luar biasa saat mereka tampil. Mereka bilang terharu, karena sudah lama tidak ada yang menyewa jasa mereka,” ungkap perempuan yang tinggal di kawasan Gebang ini.

Ada banyak suka duka selama Hasti menjalankan program TBK. Namun, semangatnya tidak surut. Malah, saat ini TBK baru meluncurkan beberapa trip baru seperti Jember Coffee Adventure, Jember Tobbaco Trip, Peak Jember Tour, Fisherman Living Tour, Farmer Living Tour, Wonderful Coastal Tour, dan Jember Highlight City Tour. Untuk di Jember kawasan utara, TBK banyak mengangkat kuliner lokal seperti ikan wader. Sedangkan untuk Jember kawasan selatan, TBK mengangkat kuliner lobster. “Kami ingin mengangkat semua potensi di Jember, seperti tembakau, kopi, kakao, durian, tembakau, jeruk, dan lain-lain. Kami sedang merintis kampung agrowisata,” kata Hasti.

Meski mendapat respons positif, Hasti menegaskan tidak akan selamanya mempertahankan Tamasya Bus Kota ini. Kunci berjalannya TBK menurut Hasti adalah kesadaran dari warga setempat untuk bisa mengembangkan potensi wilayahnya sendiri. “Karena ini pemberdayaan, tujuannya agar mereka kuat. Ketika mereka sudah berdaya, TBK akan bubar, karena kita hanya memfasilitasinya,” pungkas Hasti.

Reporter : Adi Faizin
Editor : MS Rasyid
Editor Bahasa: Imron Hidayatullah

Reporter :

Fotografer :

Editor :