Kisah Agus Setiawan, Pengusaha Kerajinan Manik-Manik 4 Tahun Bekerja pada Orang Lain, Sekarang Punya Banyak Karyawan

Bagus Supriadi/Radar Jember EKONOMI KREATIF: Agus Setiawan menunjukkan produk kerajinan yang ditekuninya sejak 2006 silam hingga sekarang.

RADARJEMBER.ID – Selasa pagi kemarin, Agus baru saja mengirimkan pesanan kerajinan ke Jakarta melalui kereta api logistik. Mulai dari tasbih, gelang, dan kalung yang terbuat dari tulang sapi, kayu, dan batok kelapa. Jumlahnya cukup banyak, ada 120 ribu tasbih, 12 ribu gelang dan kalung.

IKLAN

Pesanan itu rutin dikirim pada toko grosir di Jakarta yang sudah menjadi pelanggannya. Setiap bulan, dia bisa mengirim tiga kali. “Tidak tentu, tergantung permintaan dari sana,” katanya.

Selain Jakarta, pria kelahiran 21 Agustus 1982 itu juga memiliki pasar tetap. Di Cirebon, Jombang, Malang, dan Bali. Mayoritas merupakan toko grosir yang menjual produk kerajinan manik-manik.

Ditemui di rumahnya di Gang Imam Hambali Jalan Imam Bonjol Kelurahan Tegalbesar, Agus sedang sibuk memajang kerajinan. Di sebelah rumahnya, beberapa produk kerajinan dipajang. Di belakang rumah digunakan sebagai tempat produksi.

Ada beberapa karyawan yang sedang membuat kerajinan. Mulai dari menghaluskan material hingga proses olah warna. Sesekali, Agus juga menerima tetangga yang menyetorkan hasil rakitan kerajinannya. “Jadi yang merangkai ini tetangga sendiri, ada sekitar 40 orang,” jelasnya.

Agus memang memberdayakan warga sekitar untuk merangkai material yang sudah selesai diproduksi. Barang itu dirakit menjadi gelang unik, kalung cantik, dan tasbih. Mereka dibayar, sehingga mendapatkan penghasilan tambahan.

Dia mulai merintis usaha kerajinan itu sejak  2006 lalu. Yakni ketika sudah berhenti bekerja pada orang lain di Desa Curahlele, Kecamatan Balung. “Awalnya saya bekerja pada orang lain tahun 2000, juga membuat kerajinan manik-manik,” terang suami dari Ernawati ini.

Dia merasa waktu empat tahun sudah cukup lama bekerja pada orang lain. Apalagi, dia sudah mengetahui cara membuat kerajinan. Akhirnya, dia memutuskan untuk berhenti dan membuat kerajinan sendiri. “Tapi kerajinan yang saya bua,  saya jual pada bos saya tempat dulu bekerja itu,” akunya.

Agus mengajak empat orang untuk membesarkan usaha yang dirintisnya. Dia mulai menambah alat kerajinan untuk produksi. Mulai dari dynamo hingga gergaji. “Memulai bisnis sendiri pusing dua kali. Karena banyak yang dipikirkan,” ucapnya.

Tak mudah untuk membangun bisnisnya menjadi stabil dengan omzet puluhan juta. Bahkan, membutuhkan waktu lima tahun agar kondisi keuangan stabil. “Dulu gaji karyawan juga sering terlambat,” ujar alumnus MTsN 1 Jember tersebut.

Sekarang, bisnis yang dibangunnya sudah membuahkan hasil. Selain mengirim dalam jumlah yang banyak pada toko grosir, dia juga menerima pembelian secara ecer. “Materialnya sudah ada yang suplai, di sini tinggal mengolah,” tuturnya.

Bahan kayu kopi, tulang, dan batok sudah dikirim oleh pengepul. Kayu kopi yang sudah dipotong dalam bentuk kecil itu akan dijadikan tasbih, batok kelapa dijadikan gelang dan kalung. Sedangkan tulang sebagai penunjang agar semakin indah.

Batok kelapa dikirim dari Kecamatan Jenggawah, kayu kopi dari Kecamatan Balung, dan tulang sapi dari warga sekitar. Material itu sudah dalam bentuk kecil, sehingga hanya tinggal dihaluskan dan diwarnai.

Prosesnya, kata dia, material itu di-blower terlebih dahulu agar halus. Kemudian dimasak agar berwarna. Setelah itu dijemur hingga kering, kemudian di-blower lagi agar lebih halus. Proses finishing diberi antigores.

Dalam sehari, Agus bisa produksi 4 ribu kerajinan untuk dikirim ke berbagai daerah. Bahkan, dia juga menjual barang itu secara daring dan konvensional. “Kadang dikirim melalui JNE, kalau kiriman ke Bali dalam jumlah banyak pakai bus,” terangnya.

Selain  menjaga kualitas, juga perlu menjaga pasar. Sebab, persaingan cukup ketat dan harga kerap tidak stabil. Ada yang menjual dengan harga di bawah pasar. “Harga tasbih Rp 2 ribu, gelang seribu, dan kalung Rp 15 ribu,” tuturnya.

Dalam menjual produknya, Agus mengandalkan kepercayaan. Dia tidak pernah bertemu dengan pembeli dari Jakarta. Namun karena sudah percaya, dia mengirimkannya. “Dulu dia coba beli sedikit, lalu terus bertambah setiap saat,” imbuhnya.

Padahal, nilai barang yang dikirim itu cukup besar, mulai dari Rp 60 juta hingga Rp 80 juta. Agus sadar dengan risikonya, namun kepercayaan dan keyakinan membuatnya berani. “Kadang satu kali kirim nilainya Rp 30 juta, uang diterima setelah barang sampai,” akunya.

Namun, sejak pertama berbisnis dan mengirim barang melalui jasa pengiriman logistik, dia tidak pernah kecolongan. Barang yang dibungkus dengan karung itu sampai dengan selamat. Sebab, dibungkus dengan rapi dan kuat, air pun tidak bisa masuk.

Agus mengaku masih banyak pasar yang belum dimasuki. Seperti permintaan dari tempat-tempat ziarah, misal makam Sunan Gunung Jati. Dirinya kerap diminta untuk mengirim tasbih. Begitu juga dengan tempat ziarah lainnya di Jawa Timur.

Bahkan, gelaran Asian Games 2018 lalu,  dia diminta membuat gelang Asian Games sejumlah 500 buah. Tak heran, dia ingin terus mengembangkan usahanya ke berbagai daerah. “Penjualan di bisnis online (daring) masih belum maksimal,” pungkasnya.

Reporter & Fotografer: Bagus Supriadi
Editor : MS Rasyid
Editor Bahasa: Imron Hidayatullah

Reporter :

Fotografer :

Editor :