Meuthia Rahmania Azhar, Wisudawan Terbaik IAIN Jember

Methia for Radar Jember PRESTASI MEMBANGGAKAN: Meuthia Rahmania Azhar bersama kedua orang tuanya, usai prosesi wisuda di IAIN Jember, beberapa waktu lalu.

JEMBER-Tak mudah menyelesaikan hafalan Alquran sebanyak 30 juz di sela-sela kesibukan kuliah. Namun, perempuan yang akrab disapa Meuthia ini mampu menyelesaikannya. Tak butuh waktu lama, sepuluh bulan sudah mampu menuntaskan hafalan sebanyak 600 mushaf.

IKLAN

Keinginan untuk menghafal Alquran bermula ketika Meuthia melanjutkan studi di IAIN Jember. Tujuannya sederhana, hanya ingin membahagiakan orang tuanya. “Upaya menghafal dilakukan terus-menerus,” ucap perempuan  kelahiran tahun 1995 ini.

Dia menambahkan, tak mudah menghafal Alquran di tengah kesibukan sebagai mahasiswa. Dia sempat merasa kesulitan saat mengatur waktu. Selain harus mengerjakan tugas dari dosen, dia juga punya kewajiban untuk menghafal. “Sempat bingung, mengerjakan tugas dulu atau menghafal,” terangnya. Sebab, saat itu dia tiap hari harus setor hafalan.

Awal menghafal Alquran, Meuthia hanya mampu menyetorkan satu setiap hari. Namun, setelah terbiasa, perempuan asal Desa Ajung, Kecamatan Kalisat itu mampu menghafal 2 sampai 3 halaman. Setoran hafalan dilakukan sebelum berangkat kuliah, pada salah seorang muhafiz di asrama Ibnu Katsir.

Menghafalkan tulisan yang lengkap serta tidak boleh salah membaca menjadi tantangan sendiri. Menghafal ratusan halaman itu bukan hal yang mudah. ”Namun, Allah memberikan jaminan kemudahan dalam menghafal ayat-ayat suci Alquran,” katanya.

Tak butuh waktu lama, setelah menempuh waktu sepuluh bulan, dia sudah mampu menyetorkan semua hafalan. “Sekarang tinggal muroja’ah atau mengulang-ulang agar mutqin atau benar-benar memiliki hafalan yang kuat,” akunya.

Dia merasa memiliki tantangan tersendiri menjadi seorang hafizah. Bukan hanya menjauhi dunia maksiat, justru dengan menghafal Alquran, semakin introspeksi diri. Yakni, tidak hanya  sekadar hafal, tetapi juga mengamalkan kandungannya. “Kadang malah nangis sendiri kalau inget dosa masa lalu,” imbuh santri Ibnu Katsir ini.

Baginya, menghafal Alquran menjadi prioritas utama. Bahkan, membuat janji dengan dirinya sendiri agar menghafal dulu, baru mengerjakan tugas. “Aku membuat rencana, pulang kuliah harus gimana, sore hari harus gimana, terus ngerjakan tugas kuliahnya kapan. Supaya semua target tercapai,” terangnya.

Selain menghafal, putri dari pasangan Drs Muhammad Imron Hidayat dan Dra Nur Shodiqoh ini juga memiliki kegemaran menulis. Di sela kesibukan kuliah, dia juga menyempatkan diri menulis cerpen maupun catatan harian di blog. “Karena hobiku menulis, jadi ya disempet-sempetin aja,” akunya.

Awalnya hanya suka menulis untuk buku diary. Namun, dikembangkan menjadi hal yang lebih bermanfaat, seperti menulis karya fiksi. Hanya saja, harus mencari waktu luang agar tidak mengganggu hafalan dan kuliah.

Sampai sekarang, lanjut dia, sudah ada 8 buku antologi bersama penulis lainnya yang dicetak. Dirinya ingin terus menulis kumpulan cerita pendek, lalu sebuah novel. “Kepikiran ingin nulis novel,” ujarnya.

Kemampuan yang dimiliki Meuthia tak selesai di situ. Kerja keras yang dilakukan selama masih di bangku kuliah membuahkan hasil. Dia menjadi wisudawati terbaik di Institut Agama Islam Negeri Jember pada 28 April 2018 lalu. “Prestasi ini karena izin Allah, usaha dan doa serta rasa optimisme,” tuturnya alumni Ponpes Al-islah tersebut.

Bungsu dari tiga bersaudara ini tak menyangka akan menjadi wisudawati terbaik. Padahal, kuliah yang dijalani tidak pernah mengejar nilai IP. “Intinya kerjakan semua tugas yang diberikan dosen dengan sungguh-sungguh,” akunya.

Selain itu, dia juga tidak suka nongkrong atau jalan-jalan ke kafe atau mal. Dia memanfaatkan waktu sebaik mungkin. “Tapi kalau sebentar, sekadar me-refresh otak, gak apa-apa,”ujarnya.

Menjadi wisudawan terbaik bukan semata karena usahanya sendiri. Namun, juga berkat doa dan dukungan orang tua. Dukungan dari keluarga menjadi penyemangat Methui dalam belajar. “Mereka menjadi motivasi utama dalam belajar,” pungkas lulusan  Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Humaniora itu. (gus/c2/hdi)

Reporter :

Fotografer :

Editor :