Sertu Suwito, Tentara Relawan Duafa Rajin Bantu Penderita Katarak, Sempat Dikira Nyalon Kades

SUWITO FOR RADAR JEMBER TULUS: Sertu Suwito, anggota Koramil Balung mendampingi pasien yang mengikuti operasi katarak mata gratis di salah satu rumah sakit swasta di Jember, akhir Agustus lalu.

RADARJEMBER.ID – Suwito tertawa. Kumis setebal uler keket di wajahnya ikut bergerak-gerak. Tawanya memenuhi salah satu ruangan di kantor Koramil Balung. Siang itu, ayah tiga putri ini bercerita aktivitas sosial yang dilakukannya justru memicu salah seorang warga bertanya tentang kesiapan dirinya mencalonkan sebagai kepala desa. Bahkan, ada yang sanggup menyumbang hingga Rp 25 juta untuk mengantarkannya duduk di kursi kepala desa tersebut.

IKLAN

Suwito menganggap pertanyaan itu wajar. Karena biasanya, orang yang rajin membantu warga miskin memiliki kepentingan lain, termasuk agar dipilih sebagai kepala desa, maupun anggota legislatif. “Tapi saya sudah tegaskan, niat saya ini murni ingin membantu. Tak ada unsur lain,” katanya saat ditemui kemarin.

Bintara TNI yang bakal memasuki masa pensiun awal tahun depan ini mengaku, aktivitas membantu duafa tersebut dianggapnya bagian dari ibadah. Selain itu, mencari berkah sebagai bekal di kehidupan kelak.

Dia juga mengaku ada kepuasan batin kala mengetahui operasi katarak yang dilakukan berhasil. Apalagi, sampai mengembalikan penglihatan pasien hingga bisa normal kembali. Sebab, bagi dia, keberhasilan itu tak hanya sekadar mengembalikan fungsi indra penglihatan saja. Tetapi juga menghadirkan kembali keindahan dunia kepada pasien tersebut.

Di tengah dia bercerita, tiba-tiba suami Husnul Khatimah ini terdiam. Sesaat matanya menerawang. Ada sekerat pengalaman yang terus membuat matanya berkaca-kaca. Dia bercerita, suatu ketika ada seorang perempuan tua yang dua matanya mengalami katarak. Setelah berhasil menjalani operasi, perempuan itu menemuinya. Dia berkata, “Dulu, saya hanya mengenal Pak Suwito lewat suaranya saja. Tapi, sekarang saya sudah bisa melihat wajah Pak Suwito dengan jelas. Ternyata, orangnya gagah dan berkumis.”

Kalimat yang diikuti ucapan terima kasih inilah yang terus terngiang di telinga lelaki bertubuh tegap ini. Kata-kata yang disampaikan itu juga yang selalu memompa semangatnya ketika mengantarkan warga miskin mendaftar operasi katarak mata gratis di dua rumah sakit, Bina Sehat dan DKT. “Saya selalu teringat kalimat yang diucapkan ibu itu. Saat mengingat, hati saya bergetar. Ini menjadi pengalaman yang paling berharga buat saya,” kata anggota TNI yang sudah berdinas 30 tahun tersebut.

Selama empat tahun aktivitas sosial ini dia lakukan, lebih dari 150 pasien yang berhasil dioperasi. Meski juga ada beberapa yang tertolak karena berbagai hal. Semisal, kondisi fisik yang tidak memungkinkan untuk operasi lantaran kadar gula dan tekanan darah tinggi. Atau disebabkan gangguan penglihatan yang dialami bukan karena katarak, melainkan glaukoma, serta infeksi mata.

Untuk itu, sebelum pasien tersebut diikutkan operasi, Suwito lebih dulu meminta calon pasien mengikuti screening mata, untuk mengetahui apakah penderita tersebut memang mengalami katarak atau penyakit yang lain. Jika sudah jelas, maka saat ada pengumuman operasi katarak gratis, dia akan menjemput dan mengantarkan pasien tersebut menggunakan mobil pribadi yang dia beli bersama istri enam tahun lalu.

Akibat aktivitas sosial ini, rumah yang dia huni bersama istri dan tiga anaknya di Dusun Krajan Kidul, Desa Gumelar, Kecamatan Balung, juga terus disambangi kaum duafa yang ingin mendapat pengobatan. Bahkan, tak hanya warga Balung, ada juga yang dari Kencong dan Bangsalsari. “Mereka tahu dari mulut ke mulut. Lewat saudaranya yang telah berhasil ikut operasi katarak mata gratis,” ucapnya.

Sehingga, ketika ada pasien yang ingin mendaftar operasi katarak gratis, membuat Suwito meninggalkan dinas. Sebab, saat mengantar maupun menunggui pasien yang operasi harus menunggu hingga larut malam. Terakhir, dia menunggu tujuh orang yang ikut operasi gratis selama dua hari berturut-turut, pada 24 dan 26 Agustus lalu. Bahkan, hingga jam 12 malam.

Namun, bukannya mendapat hukuman, prajurit yang sebelumnya berdinas di Batalyon Raider 515 Tanggul ini malah mendapat dukungan dari komandannya. Karena setiap akan mengantarkan pasien, dirinya selalu mengajukan izin ke atasan. “Kalau diizinkan saya berangkat. Tapi permohonan izin saya tak pernah ditolak, bahkan didukung,” ujarnya.

Suwito pun tak memungkiri, saat mengantarkan pasien itu ada saja yang memberinya uang. Terkadang malah setengah memaksa. Meski begitu, pria kelahiran Pasuruan, 30 Januari 1967 ini selalu menolak. Sebab, baginya penghasilan yang dia terima selama ini sudah cukup memenuhi kebutuhan keluarganya. Apalagi, sang istri juga bekerja, menjadi guru SD yang berstatus pegawai negeri sipil. “Di rumah, saya juga memelihara sapi dan kambing. Jadi, penghasilan saya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” jelasnya.

Reporter : Mahrus Sholih
Editor : MS Rasyid
Editor Bahasa: Imron Hidayatullah

Reporter :

Fotografer :

Editor :