Daiyan, Peraih Medali Perak Olimpiade Matematika Internasional

Bagus Supriadi/Radar Jember BANYAK PRESTASI: Sutan Daiyan Raifa Zaidan Altaf mengoleksi piala dan piagam yang pernah diterimanya.

RADARJEMBER.ID- ”Setiap pukul 16.00 sore, dia kami jemput. Sampai di rumah, langsung makan dan mandi kemudian ganti baju. Setelah magrib, ikut les matematika,” tutur Sutan Johanes Bahari, ayah Daiyan.

IKLAN

Begitulah kegiatan keseharian Daiyan, kecuali pada hari Minggu. Karena di hari libur, siswa SD Alfurqon itu diberi kebebasan untuk bermain gawai. Game yang dimainkan biasanya Mobile Legend. “Kami memang memberi waktu sehari untuk bermain gawai,” kata Sutan Johanes Bahari.

Di rumahnya, di Perumahan Griya Kencana Asri Kebonsari Jember, beberapa piala dipajang dengan rapi. Di ruang tamu, terdapat fotonya yang sedang menerima penghargaan. Semua piala itu diraih Daiyan mulai dari kelas I SD.

Daiyan merupakan pelajar yang sudah mengharumkan nama Kabupaten Jember. Pada Selasa 31 Juli 2018 lalu, dia baru saja pulang dari Singapura. Setelah berkompetisi dengan peserta dari 15 negara, dia berhasil membawa medali perak dalam ajang International Mathematic Contest Singapore, pada 27 – 30 Juli 2018.

Anak kelahiran 26 Februari 2009 itu memang jago matematika. Daiyan terpilih mengikuti kompetisi matematika di luar negeri setelah berhasil meraih medali emas dan menjadi best of the best dalam ajang Mathematic Nalaria Realistic ke 13,  di Ancol Jakarta 15 April 2018. “Pada event yang ke 12 dan ke 11 juga meraih medali emas,” ucapnya.

Di tingkat ini, Daiyan harus bersaing dengan 200 peserta dari berbagai peserta dari seluruh nusantara. Kebiasaan mengerjakan soal membuatnya lancar menjawab pertanyaan. Tak heran, ketika selesai selalu meraih prestasi.

Sebelumnya, putra dari pasangan suami istri Sutan Johanes Bahari dan Yuningsih juga sudah langganan juara matematika. Ceritanya, Daiyan sudah suka membaca buku sejak masih belum sekolah. Bahkan, sering meminta orang tua membuat pertanyaan.

Kemudian, dia berlatih menjawab pertanyaan soal matematika tersebut. Bahkan orang tuanya sampai kewalahan dalam membuatkan soal. Akhirnya, Daiyan ikut les matematika. “Waktu ikut les masih TK,” tambah Yuningsih, sang ibu.

Berawal dari aktivitas ikut les itu, Daiyan mulai mengikuti lomba matematika mulai dari tingkat lokal. Pertama kali ikut di Banyuwangi. Namun dirinya kurang beruntung. “Saat itu dia kecewa karena nggak juara,” imbuhnya.

Sebab, Daiyan merasa bisa menjawab soal, namun tidak terpilih menjadi juara. Namun hal itu menjadi penyemangat bagi dirinya untuk terus maju. “Kami hanya memberikan motivasi dan dukungan saat itu, karena dia nangis,” ujarnya.

Pada lomba kedua dan seterusnya ini, bungsu dari dua bersaudara ini mulai beruntung terus. Misal ketika mengikuti Jember Mathematic Sains Community meraih juara tiga tingkat Jawa Timur. Sekolah pun mulai melihat membaca potensinya.

Bahkan, guru lesnya juga membaca kemampuan Daiyan di bidang matematika. Untuk itu, sering diarahkan selalu mengikuti lomba. “Alhamdulillah setiap ikut selalu dapat terus,” ujarnya. Seperti pernah menjadi finalis Olimpiade Sains Coc tingkat nasional tahun 2018. Kemudian, meraih medali emas dalam Hidayatullah Mathematic and Sains Nasional.

Ketika mengikuti olimpiade di Singapura, Diayan tidak didampingi oleh orang tuanya. Sebab, dia harus dituntut untuk mandiri. Di sana, Daiyan harus berkompetisi dengan peserta dari berbagai negara. “Peserta yang lain sama saja sebenarnya,” kata Daiyan.

Daiyan mengaku, selalu mengerjakan PR di sekolah ketika jam istirahat. Sebab, ketika di rumah, dia tidak ingin terbebani dengan PR. Apalagi, setelah maghrib harus ikut les hingga pukul 21.00 malam.

Orang tua Daiyan pun tak pernah memaksa anaknya untuk menyukai mata pelajaran tertentu. Semua tergantung kemauan anaknya. Mereka berdua hanya bisa mendukung dan memberikan motivasi. “Kayak sekarang, kami sudah tidak nutut untuk membuatkan pertanyaan matematika,” ucap Sutan.

Selain itu, tak pernah menargetkan sang anak untuk menang dalam setiap kompetisi. Sebab mereka menilai juara hanyalah sebuah bonus yang diperoleh dari usaha. Bahkan ketika ada lomba, Daiyan selalu ditawari lebih dulu: mau ikut apa tidak.

Daiyan sendiri ketika ditanya tentang kesukaannya pada matematika karena seru. Keseruan itu karena harus memecahkan soal. “Kalau sudah ngerti pola dan rumusnya mudah,” ucap Siswa kelas IV tersebut. Bahkan, dia tak ingin berpindah pada mata pelajaran lain. Sebab sudah tak bisa terpisahkan dengan matematika.

Reporter & Fotografer : Bagus Supriadi
Editor : Hadi Sumarsono
Editor Bahasa: Yerri A Aji

Reporter :

Fotografer :

Editor :