alexametrics
20.3C
Jember
Wednesday, 21 April 2021
Desktop_AP_Top Banner

Tuntas Dua Pekan, Angkat Kisah Inspiratif Pembawa Perubahan

Masa pandemi rupanya bikin mahasiswa kian produktif. Buktinya, sembilan mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember ini malah menghasilkan karya cerpen antologi di musim pagebluk ini. Bagaimana seluk-beluk mereka membuat karya tulis keroyokan tersebut?

Mobile_AP_Top Banner
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sembilan mahasiswa bertekad menghasilkan karya yang dapat dinikmati oleh banyak orang, berupa cerpen antologi. Mereka menulis bareng-bareng demi menerbitkan cerpen itu. Ide ini lahir dari inisiatif Gita Welastiningtyas, pengurus lembaga semi otonom di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon FTIK IAIN Jember. Keseluruhan penulisnya adalah mahasiswa IAIN Jember.

Karena ditulis keroyokan, maka setiap orang kebagian jatah menulis empat halaman. Temanya, sosok inspiratif di lingkungan atau kehidupan masing-masing penulis. Menurut salah satu penulis, Durrotun Nafisah, sosok inspiratif ini dipilih atas kesepakatan bersama. “Tokoh inspiratif tidak harus nasional. Hal-hal kecil di sekitar kita itu sebenarnya banyak yang menginspirasi,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jember, kemarin (7/4).

Nafis memilih menulis tentang ayahnya. Sebab, bagi dia, sang ayah merupakan sosok inspiratif di bidang pertanian. Walau hidup di desa, sang ayah kerap membuat racikan pupuk yang sebelumnya tidak ada rumusnya. Inovasi kecil ini sering ditiru oleh masyarakat setempat. “Inovasinya skala kecil. Namun, bisa memberikan dampak perubahan,” ungkapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Meski antologi itu telah selesai dan tinggal turun cetak, tapi dalam prosesnya bukan tanpa kendala. Kata Nafid, hal yang paling menjadi tantangan dalam merampungkan antologi cerpen adalah kelemahan dalam menulis. Dia mengakui jika dirinya masih lemah dalam merangkai kata dan paragraf. Namun, tekadnya tak padam. Ia terus berupaya agar bisa menuntaskan apa yang sudah disepakati bersama delapan teman lainnya. “Merangkai kata yang susah. Menyusun paragraf dan tulisan juga butuh waktu lama,” tuturnya.

Nafis mengaku, untuk menulis cerpen nonfiksi yang mengisahkan tentang sang ayah itu butuh waktu dua hari. Baginya, untuk menghasilkan karya yang bagus, ia harus menulis dengan baik dan sempurna. Normalnya, dia dapat menyelesaikan satu judul cerpen dalam satu malam. Biasanya semalam bisa sampai tiga halaman.

Seiring dengan pembelajaran daring yang berlaku di kampus, menurut Nafis, hal ini mampu meningkatkan kualitas kepekaan menulisnya. Sebab, separuh kegiatan perkuliahan berisi penugasan menulis. “Tidak ada hal khusus untuk membagi waktu antara kuliah dan menulis. Karena keduanya sama,” timpal perempuan kelahiran tahun 2000 itu.

Pengerjaan antologi cerpen secara keroyokan ini dirampungkan hanya dalam waktu dua pekan. Tapi, belum termasuk proses editing yang dilakukan secara mandiri. “Untuk sementara kami edit sendiri. Dibagi. Terus, nanti senior yang edit secara keseluruhan sebelum diterbitkan,” beber Nafis.

Dia mengungkapkan, semua proses tersebut rampung akhir Februari lalu. Kini, karya itu telah masuk ke percetakan. Meski belum terbit resmi, tapi ada saja yang memesan. Bahkan, semakin hari kian bertambah. Buku itu diharapkan dapat menyuguhkan kisah yang inspiratif bagi para pembacanya. “Kami ingin yang baca semua kalangan. Khususnya anak-anak muda, dan para penggerak organisasi,” pungkasnya.

 

 

Jurnalis : Dian Cahyani
Fotografer : Dian Cahyani
Redaktur : Mahrus Sholih

- Advertisement -
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sembilan mahasiswa bertekad menghasilkan karya yang dapat dinikmati oleh banyak orang, berupa cerpen antologi. Mereka menulis bareng-bareng demi menerbitkan cerpen itu. Ide ini lahir dari inisiatif Gita Welastiningtyas, pengurus lembaga semi otonom di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon FTIK IAIN Jember. Keseluruhan penulisnya adalah mahasiswa IAIN Jember.

Karena ditulis keroyokan, maka setiap orang kebagian jatah menulis empat halaman. Temanya, sosok inspiratif di lingkungan atau kehidupan masing-masing penulis. Menurut salah satu penulis, Durrotun Nafisah, sosok inspiratif ini dipilih atas kesepakatan bersama. “Tokoh inspiratif tidak harus nasional. Hal-hal kecil di sekitar kita itu sebenarnya banyak yang menginspirasi,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jember, kemarin (7/4).

Nafis memilih menulis tentang ayahnya. Sebab, bagi dia, sang ayah merupakan sosok inspiratif di bidang pertanian. Walau hidup di desa, sang ayah kerap membuat racikan pupuk yang sebelumnya tidak ada rumusnya. Inovasi kecil ini sering ditiru oleh masyarakat setempat. “Inovasinya skala kecil. Namun, bisa memberikan dampak perubahan,” ungkapnya.

Mobile_AP_Half Page

Meski antologi itu telah selesai dan tinggal turun cetak, tapi dalam prosesnya bukan tanpa kendala. Kata Nafid, hal yang paling menjadi tantangan dalam merampungkan antologi cerpen adalah kelemahan dalam menulis. Dia mengakui jika dirinya masih lemah dalam merangkai kata dan paragraf. Namun, tekadnya tak padam. Ia terus berupaya agar bisa menuntaskan apa yang sudah disepakati bersama delapan teman lainnya. “Merangkai kata yang susah. Menyusun paragraf dan tulisan juga butuh waktu lama,” tuturnya.

Nafis mengaku, untuk menulis cerpen nonfiksi yang mengisahkan tentang sang ayah itu butuh waktu dua hari. Baginya, untuk menghasilkan karya yang bagus, ia harus menulis dengan baik dan sempurna. Normalnya, dia dapat menyelesaikan satu judul cerpen dalam satu malam. Biasanya semalam bisa sampai tiga halaman.

Seiring dengan pembelajaran daring yang berlaku di kampus, menurut Nafis, hal ini mampu meningkatkan kualitas kepekaan menulisnya. Sebab, separuh kegiatan perkuliahan berisi penugasan menulis. “Tidak ada hal khusus untuk membagi waktu antara kuliah dan menulis. Karena keduanya sama,” timpal perempuan kelahiran tahun 2000 itu.

Pengerjaan antologi cerpen secara keroyokan ini dirampungkan hanya dalam waktu dua pekan. Tapi, belum termasuk proses editing yang dilakukan secara mandiri. “Untuk sementara kami edit sendiri. Dibagi. Terus, nanti senior yang edit secara keseluruhan sebelum diterbitkan,” beber Nafis.

Dia mengungkapkan, semua proses tersebut rampung akhir Februari lalu. Kini, karya itu telah masuk ke percetakan. Meski belum terbit resmi, tapi ada saja yang memesan. Bahkan, semakin hari kian bertambah. Buku itu diharapkan dapat menyuguhkan kisah yang inspiratif bagi para pembacanya. “Kami ingin yang baca semua kalangan. Khususnya anak-anak muda, dan para penggerak organisasi,” pungkasnya.

 

 

Jurnalis : Dian Cahyani
Fotografer : Dian Cahyani
Redaktur : Mahrus Sholih

Desktop_AP_Leaderboard 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sembilan mahasiswa bertekad menghasilkan karya yang dapat dinikmati oleh banyak orang, berupa cerpen antologi. Mereka menulis bareng-bareng demi menerbitkan cerpen itu. Ide ini lahir dari inisiatif Gita Welastiningtyas, pengurus lembaga semi otonom di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon FTIK IAIN Jember. Keseluruhan penulisnya adalah mahasiswa IAIN Jember.

Karena ditulis keroyokan, maka setiap orang kebagian jatah menulis empat halaman. Temanya, sosok inspiratif di lingkungan atau kehidupan masing-masing penulis. Menurut salah satu penulis, Durrotun Nafisah, sosok inspiratif ini dipilih atas kesepakatan bersama. “Tokoh inspiratif tidak harus nasional. Hal-hal kecil di sekitar kita itu sebenarnya banyak yang menginspirasi,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jember, kemarin (7/4).

Nafis memilih menulis tentang ayahnya. Sebab, bagi dia, sang ayah merupakan sosok inspiratif di bidang pertanian. Walau hidup di desa, sang ayah kerap membuat racikan pupuk yang sebelumnya tidak ada rumusnya. Inovasi kecil ini sering ditiru oleh masyarakat setempat. “Inovasinya skala kecil. Namun, bisa memberikan dampak perubahan,” ungkapnya.

Meski antologi itu telah selesai dan tinggal turun cetak, tapi dalam prosesnya bukan tanpa kendala. Kata Nafid, hal yang paling menjadi tantangan dalam merampungkan antologi cerpen adalah kelemahan dalam menulis. Dia mengakui jika dirinya masih lemah dalam merangkai kata dan paragraf. Namun, tekadnya tak padam. Ia terus berupaya agar bisa menuntaskan apa yang sudah disepakati bersama delapan teman lainnya. “Merangkai kata yang susah. Menyusun paragraf dan tulisan juga butuh waktu lama,” tuturnya.

Nafis mengaku, untuk menulis cerpen nonfiksi yang mengisahkan tentang sang ayah itu butuh waktu dua hari. Baginya, untuk menghasilkan karya yang bagus, ia harus menulis dengan baik dan sempurna. Normalnya, dia dapat menyelesaikan satu judul cerpen dalam satu malam. Biasanya semalam bisa sampai tiga halaman.

Seiring dengan pembelajaran daring yang berlaku di kampus, menurut Nafis, hal ini mampu meningkatkan kualitas kepekaan menulisnya. Sebab, separuh kegiatan perkuliahan berisi penugasan menulis. “Tidak ada hal khusus untuk membagi waktu antara kuliah dan menulis. Karena keduanya sama,” timpal perempuan kelahiran tahun 2000 itu.

Pengerjaan antologi cerpen secara keroyokan ini dirampungkan hanya dalam waktu dua pekan. Tapi, belum termasuk proses editing yang dilakukan secara mandiri. “Untuk sementara kami edit sendiri. Dibagi. Terus, nanti senior yang edit secara keseluruhan sebelum diterbitkan,” beber Nafis.

Dia mengungkapkan, semua proses tersebut rampung akhir Februari lalu. Kini, karya itu telah masuk ke percetakan. Meski belum terbit resmi, tapi ada saja yang memesan. Bahkan, semakin hari kian bertambah. Buku itu diharapkan dapat menyuguhkan kisah yang inspiratif bagi para pembacanya. “Kami ingin yang baca semua kalangan. Khususnya anak-anak muda, dan para penggerak organisasi,” pungkasnya.

 

 

Jurnalis : Dian Cahyani
Fotografer : Dian Cahyani
Redaktur : Mahrus Sholih

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERKINI

Desktop_AP_Half Page

Wajib Dibaca

Desktop_AP_Rectangle 2
×

Info!

Mau Langganan Koran, Info Iklan Cetak dan Iklan Online

×Info Langganan Koran