Green Pontren, Gerakan untuk Bikin Pesantren Makin Hijau

Bagus supriadi/radar jember SEDERHANA TAPI BERSIH: Ponpes Alfalah di Desa Karangharjo, Kecamatan Silo, selalu disiplin soal sampah. Karena itulah, lokasi ini selalu bersih.

SILO-Setiap tahun, santri Ponpes Alfalah selalu bertambah 300 orang. Mereka belajar dan tinggal di tempat tersebut. Tak heran, persoalan lingkungan terus bermunculan, seperti kebersihan dan bertambahnya sampah.

IKLAN

Fenomena itu membuat para pengurus pesantren sadar tentang pentingnya menjaga lingkungan. Mereka pun menggagas gerakan Green Pontren atau pondok pesantren hijau. Pesantren yang memiliki kepedulian terhadap sampah, mengelolanya menjadi barang yang bermanfaat.

Pesantren Alfalah terletak di lingkar hutan di Desa Karangharjo, Kecamatan Silo, memiliki sekitar 1.000 santri. Pesantren ini tetap mempertahankan gaya bangunan lama, yakni asrama santri berupa gazebo. Satu kamar bisa diisi 10 hingga 15 santri.

“Karena santri bertambah, sampah juga ikut bertambah,” kata Abdul Halim, Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) Alfalah. Sejak 1999, pesantren ini memiliki konsistensi di bidang lingkungan, terutama dalam mendampingi masyarakat. Yakni mengedukasi masyarakat agar tidak merambah hutan.

Sekarang, ia kembali mewujudkan pesantren yang ramah terhadap lingkungan. Sebab, pengelolaan sampah pesantren belum baik, meskipun ada pemilahan sampah organik dan anorganik. “Kami prihatin. Saat itu, sampah organik selalu dibuang ke sungai,” ujarnya.

Padahal, hal itu bisa berdampak buruk bagi masyarakat yang memanfaatkan air sungai sebagai kebutuhan sehari-hari. Sementara pesantren merupakan lembaga pendidikan dan sosial yang harus memberikan solusi, bukan memberi masalah.

Apalagi, pesantren dan masyarakat sudah mengalami langsung dampak dari kurang pedulinya pada lingkungan. Yakni banjir yang menimpa masyarakat di sekitar sungai dan pesantren, karena hutan gundul. “Sebagai makhluk sosial, harus membangun komunikasi dengan alam,” ujarnya.

Pesantren memiliki prinsip kebersihan kebagian sebagian iman. Namun, masih dipahami secara tekstual, karena belum ada wadah untuk aktualisasi. “Kebersihan itu bukan hanya bersih badan dan pakaian dan bersih hati, namun juga kebersihan lingkungan,” terangnya.

Selain itu, santri juga menjadi duta pesantren ketika pulang ke masyarakat. Mereka tak hanya menjadi agen untuk berdakwah di bidang agama. Tetapi, juga dakwah tentang kepedulian terhadap lingkungan. “Mereka mengampanyekan isu lingkungan di masyarakat,” ujar pria berkacamata tersebut.

Untuk itulah, kemarin Alfalah mengundang Hermawan Some, aktivis lingkungan yang juga Ketua Komunitas Nol Sampah dalam pelatihan pengembangan wawasan lingkungan berbasis kearifan lokal (6/7). Dia melatih para santri agar memiliki kemampuan dalam mengelola sampah.

Dia menilai, pesantren merupakan lembaga pendidikan yang mendidik santri. Ketika di pesantren diajari kepedulian lingkungan, saat pulang  ke masyarakat bisa mengajak warga peduli. “Karena kalau kiai, ustaz, atau santri yang ngajak, masyarakat bisa ikut,” terangnya.

Sampah yang tidak diolah akan membahayakan lingkungan. Sementara, pesantren belum memiliki cara untuk mengelolanya. “Padahal, banyak metode mengelola sampah,” ujarnya.

Pengelolaan sampah di pesantren dikelola secara mandiri. Berbeda dengan kota, satu perumahan dikelola secara komunal. Pesantren bisa menerapkan metode dengan membuat tempat pembuangan sementara (TPS) re-use, reduce, dan recycle (3R).

Selain itu, lanjut dia, ada juga metode ecobrick, yakni salah satu metode plastik yang tidak memiliki nilai jual tinggi, namun dimanfaatkan menjadi barang bermanfaat. Yaitu sampah botol yang diisi dengan plastic yang tidak berguna. “Itu bisa dibuat jadi kursi, jadi bata, dan bisa bertahan puluhan tahun,” terangnya.

Selama ini, warga selalu membakar sampah plastik. Padahal, berbahaya karena mengeluarkan dioksin yang kalau terhirup berbahaya bagi kesehatan. “Kami ajari santri belajar pupuk kompos, pupuk cair, dan lainnya,” terangnya.

Melalui pelatihan  untuk mewujudkan pesantren hijau, Hermawan berharap agar bisa ditiru oleh pesantren lain. Sebab, pengolahan sampah tidak hanya bisa menghasilkan uang, namun juga ada biaya yang bisa dihemat. “Kalau lingkungan bersih, warga tidak mudah sakit, sehingga tidak perlu berobat,” imbuhnya.

Bahkan, dalam hitungan bank dunia, Indonesia mengalami kerugian 67 triliun karena sampah dan sanitasi tidak diolah dengan baik. “Artinya, kalau sampah tidak diolah, ada pengeluaran uang Rp 165 ribu per orang” akunya.

Pelatihan itu juga diikuti oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Arismaya Parahita. Menurut dia, kunci pokok mengatasi sampah dari sisi hulu, dengan membangun kesadaran masyarakat. “Agar tidak terjebak pada membuang sampah, tetapi memanfaatkan,” ucapnya. Selama ini, hanya sebatas penanganan sampah saja, bukan pengurangan sampah.

Alfalah menjadi pesantren hijau merupakan pilihan yang tepat, karena menjadi pusat belajar para santri dan masyarakat. Sehingga, harus didorong agar ikut menjaga kelestarian lingkungan. “Sejauh ini, hampir tidak ada pondok yang memanfaatkan sampah,” jelasnya.

Untuk itu, pihaknya akan mendorong dan membantu memfasilitasi kelengkapan sarana. Sebab, melalui pesantren ini, pesantren lain bisa ikut belajar untuk peduli pada lingkungan.

Sementara itu, KH Makmun Jauhari, Pengasuh Ponpes Alfalah menambahkan, pengelolaan sampah selama ini diberikan pada santri. Yakni melalui jadwal piket membersihkan ponpes. “Cara lama mengelola sampah sudah tidak memuaskan lagi,” ujarnya. Sehingga, perlu strategi baru dalam mengelola sampah. Misal melalui bank sampah, daur ulang, dan lainnya. Untuk itulah, santri dilatih agar memiliki kemampuan di bidang lingkungan. “Kami butuh ilmu untuk mengembangkan pesantren hijau,” tandasnya. (mgc/hdi)

Reporter :

Fotografer :

Editor :