Bendera Raksasa Hiasi Masjid At Taqwa Bondowoso

Sholikhul Huda/Radar Ijen KEMERDEKAAN: Masjid Agung At Taqwa Bondowoso ikut memeriahkan peringatan HUT RI 17 Agustus 2018 dengan memasang bendera berukuran raksasa di menara masjid. 

RADARJEMBER.ID-Memasuki Agustus, masyarakat mulai menunjukkan euforia peringatan Hari Kemerdekaan RI 17 Agustus. Salah satunya adanya membersihkan lingkungan sekitar yang dilanjutkan mengecat dan memasang bendera. Namun mulai tahun lalu, Masjid At Taqwa Bondowoso punya cara sendiri. Dengan memasang bendera raksasa di menara masjid. Hampir dipastikan bendera raksasa itu dipasang tiap bulan Agustus.

IKLAN

Lokasinya Masjid At Taqwa yang berada di sebelah barat Alun-alun RBA Ki Ronggo, membuat masyarakat mudah melihatnya. Euforia pemasangan bendera raksasa itu diapresiasi banyak pihak. Salah satunya Rumah Pancasila Bondowoso. Salah seorang anggota Rumah Pancasila Sinung Sudrajat mengatakan, tugas masyarakat saat ini adalah memperingati perjuangan. “Masyarakat tidak perlu berjuang, saat ini hanya memperingati perjuangan, menjaga dan meneruskan perjuangan para pahlawan,” tegasnya.

Salah satu ekspresi peringatan itu, adalah wujud kesenangan dan kecintaan kepada bangsa Indonesia dengan memasang bendera merah putih. Karenanya pihaknya sangat mengapresiasi ketika ada kampung, masyarakat bahkan ada masjid yang membuat terobosan perayaan kemerdekaan.

Pada 17 Agustus nanti Sinung akan melaksanakan upacara bendera di Puncak Megasari bersama ratusan pemuda. Dipilihnya tempat Megasari, karena saat ini pemkab dalam hal ini Federasi Aero Sport Indonesia (FASI), tengah mengembangkan olahraga dirgantara paralayang. “Kami berencana mengadakan upacara di Puncak Megasari, tujuannya selain memperingati kemerdekaan, juga menggalakkan dunia pariwisata Bondowoso,” tegasnya.

Ketua Gus Dur-ian Bondowoso Daris Wibisono mengatakan, memasang bendera harus menjadi kesadaran masyarakat. Selain itu yang lebih penting adalah menggelorakan sosialisasi penjagaan keutuhan NKRI. Sebab sudah banyak paham yang saat ini merasuk ke masyarakat. “Seperti paham terorisme, jangan sampai masyarakat khususnya orang tua kecolongan,” tegasnya.

Selain peringatan, nilai-nilai kemerdekaan harus juga menjadi hal yang diinternalisasi. Yang terpenting adalah gotong royong. Sebab dengan gotong royong, hubungan antarsesama bisa dijaga dan ada sharing informasi dan pengenalan. “Harapannya, semangat gotong-royong, bisa menjadi benteng masuknya paham radikal yang kian banyak ditemukan dewasa ini,” pungkasnya.

Reporter & Fotografer: Sholikhul Huda
Editor : Narto
Editor Bahasa: Yerri A Aji

Reporter :

Fotografer :

Editor :