Abdul Aziz, Pemuda Penjaga Rel Kereta karena Pengabdian

Jumai/Radar Jember PANGGILAN HATI: Abdul Aziz, 25, yang rela menjadi petugas jaga pelintasan tanpa palang pintu di jalan menuju perumahan Kodim, Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi.

JEMBER-Menjalani kehidupan yang berdedikasi bukanlah hal yang mudah, begitu juga dengan para relawan yang menjaga perlintasan kereta api tak berpenjaga. Selain harus berjibaku dengan kerasnya jalanan dan debu jalan, juga harus berhadapan dengan tingkah pengendara jalan yang tidak bersahabat.

IKLAN

Belum lagi, dirinya harus bisa mengetahui jadwal kereta yang melintas di sana, sehingga harus benar-benar tepat waktu dalam menjaga perlintasan. Meskipun demikian, biasanya yang rela menjadi penjaga perlintasan ini adalah para orang tua yang memang mengabdi untuk masyarakat sekitar.

Namun, bagaimana jika relawan yang mau menjaga perlintasan kereta api ini adalah anak muda. Inilah yang dilakukan oleh Abdul Aziz, 25, warga Dusun Krajan, Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi. Waktu mudanya setiap siang hari dihabiskan untuk menjaga perlintasan kereta api di sekitar rumahnya. “Setiap hari di sini, karena tidak ada libur,” ucap bapak satu anak ini dengan getir.

Dia mengaku menjaga perlintasan sudah dua tahun lamanya. Dia mengatakan, menjadi penjaga perlintasan ini karena memang keprihatinan terhadap adanya kecelakaan yang menyebabkan korban jiwa di sana. Saat itu, kemudian warga ingin membangun perlintasan yang dijaga oleh relawan.

Namun, saat itu kesulitan mencari orang yang bersedia, sehingga dirinya pun menawarkan diri dan menjadi relawan hingga saat ini. “Saya tugasnya mulai pagi pukul 06.00 sampai sore hari,” jelasnya. Sedangkan untuk malam hari, ada orang tua lain yang berjaga. Tugas yang paling utama yakni untuk mengamankan anak-anak yang sedang berangkat dan pulang sekolah.

Dirinya menuturkan, selama dua tahun menjalani pekerjaan menjadi relawan itu, dirinya mengaku mendapatkan bayaran yang tak pasti. “Kalau dulu awalnya dari warga ada. Rp 350 per bulan,” jelasnya. Namun, kemudian dana dari warga ini tidak ada. Beruntung, ada perusahaan di sekitar perlintasan yang kini menggantikan untuk membayar dirinya.

Meskipun diakuinya, nilainya tidak seberapa dibandingkan kebutuhannya sebagai kepala keluarga. Namun, dirinya merasa hatinya sudah senang menjadi penjaga perlintasan. Dirinya mengaku sudah hafal jam kereta lewat di sana. “Kalau pas tidak bisa jaga sehari saja, rasanya kepikiran,” terangnya.

Bahkan, dirinya beberapa kali memiliki keinginan untuk bekerja di luar dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Namun, kemudian tertunda karena dirinya masih merasa berat meninggalkan penjagaan itu. “Rasanya itu berat, nanti siapa yang menjaga di perlintasan. Kasihan anak-anak yang berangkat sekolah, waswas kalau melintasi rel,” tuturnya.

Untuk menutupi kekurangan penghasilan, dirinya mengaku memang kadang ada warga yang memberikan tip melintas. Tetapi, hasilnya tidak seberapa, kecuali saat ada perayaan hari besar seperti musim liburan atau hari raya. Jika hari-hari biasa, maka jarang ada yang memberikan uang kepadanya.

Menurut Aziz, usai menjaga perlintasan, dirinya juga memiliki pekerjaan lain untuk tambahan penghasilan. “Kalau sore sampai malam kerja di percetakan,” tuturnya. Oleh karena itu, sejauh ini dirinya masih bisa menutupi kebutuhan agar dapur tetap mengepul. Walaupun, jika dihitung sebenarnya dirinya masih ingin mendapatkan masa depan yang lebih baik.

Aziz pun menjelaskan, selama menjadi petugas perlintasan dia memiliki banyak kenangan dan kesan. “Senang, kalau pas membantu warga menjaga perlintasan dan ada yang mengucapkan terima kasih,” ucapnya dengan nada senang. Dengan demikian, dirinya merasa usahanya ini dihargai.

Namun, kadang dirinya merasa jengkel jika sudah ada pengendara yang tetap menerobos meskipun sudah diminta untuk berhenti olehnya. “Padahal, kita mencegah agar tidak sampai ada korban jiwa di perlintasan. Malah mereka tidak sayang dengan nyawanya,” ucap Aziz. Meskipun demikian, dia tetap berusaha tersenyum dalam menjaga perlintasan itu.

Oleh karena itu, dirinya mengaku masih belum mengetahui apakah nanti tetap menjadi relawan menjaga perlintasan kereta api ataukah mencari masa depan yang lebih baik. Yang jelas, saat ini dirinya masih mencintai dan berat meninggalkan tugas yang diamanahi oleh masyarakat itu, dan akan melaksanakannya dengan baik. (mgc/hdi)

Reporter :

Fotografer :

Editor :