Berawal dari Kepepet, Teguh Prakoso Menangi Giveaway Raditya Dika

Dok Pribadi ANDALKAN KREATIVITAS: Teguh Prakoso, di sela-sela pembuatan video untuk diunggah di akun Youtube-nya.

RADARJEMBER.ID – Revolusi digital telah membuat jarak menjadi kabur. Kini, dari kota kecil seperti Jember, seseorang bisa menapaki karier sebagai pelaku usaha ekonomi kreatif di level nasional. Tentu saja, kreativitas dan kerja keras menjadi kata kuncinya. Seperti itulah yang dibuktikan oleh Teguh Prakoso.

IKLAN

Di usianya yang belum genap 30 tahun, Teguh mampu membuktikan diri untuk bisa menembus persaingan sebagai pekerja kreatif, dengan memanfaatkan tren Youtube dan Instagram yang kian digandrungi selama beberapa tahun terakhir. Jalan itu ditempuh pria yang akrab disapa Tepe ini dengan konsep matang, tanpa harus meninggalkan keluarganya di Jember yang amat dicintainya.

“Kalau di dunia kreatif seperti yang saya jalani sekarang, persaingan itu tidak dengan meminggirkan yang lain. Justru dengan saling berbagi ide kreatif, kita menjadi tetap eksis,” tutur Tepe, saat dijumpai Jawa Pos Radar Jember di salah satu kafe yang ada di kawasan kampus Unej. Malam itu, Tepe sedang bersiap untuk berangkat ke Jakarta, dengan transit ke Surabaya menggunakan kereta api.

“Ya kalau dengan tetap tinggal di Jember, risikonya memang saya harus sering bolak-balik ke Jakarta. Tapi saya memilih itu karena ingin dekat dengan keluarga,” tutur bapak satu anak ini.

Baru-baru ini, Tepe memenangkan giveaway berhadiah mobil yang digelar oleh artis dan Youtuber terkemuka di Indonesia, Raditya Dika. “Jadi Mas Radit bikin giveaway itu untuk merayakan tercapainya 4 juta subscribers. Mas Radit mensyaratkan, kita bikin remake dari salah satu videonya Mas Radit. Yang dinilai kreativitasnya,” cerita Tepe.

Dengan capaian 4 juta subscribers (pelanggan), menempatkan Raditya Dika, yang mengawali karier sebagai narablog (blogger) tersebut, sebagai Youtuber dengan subscribers terbanyak di Indonesia. Raditya Dika bersaing ketat dengan artis Youtube Ria Ricis, yang juga dikenal dengan konsep-konsep videonya yang jenaka dan kreatif.

Tak pelak, dengan nama besarnya, peluang giveaway dari Raditya Dika tersebut mendapat respons antusias dari segenap Youtuber. “Se-Indonesia banyak banget yang ikut. Istriku ngitungin sampai 700 orang, dia mau nyerah (untuk bantu Tepe ikut giveaway, Red),” tutur suami Greta Ayu Febriana ini.

Namun, Tepe yang menggunakan akun Instagram @Teandpe ini pantang menyerah. Melalui persiapan dan konsep yang cukup matang, Tepe akhirnya berhasil menyisihkan ratusan peserta lain, dan terpilih menjadi satu-satunya Youtuber yang meraih hadiah mobil. “Aku bikin remake dari semua videonya Mas Radit, aku pilih yang menarik,” cerita Tepe.

Tak hanya istri, ibunda Tepe juga berperan besar dalam kemenangan Tepe ini. “Aku salut dengan mamaku, yang nggak malu dicoret-coret jadi setan,” ujar putra mantan Sekda Jember, Djoewito ini.

Kemenangan Tepe ini mungkin bukan hal yang luar biasa, karena dia sudah beberapa tahun terakhir fokus berkarier sebagai Youtuber. “Aku bikin akun Youtube itu tahun 2013, tapi mulai seriusnya tahun 2016. Tahun 2013 itu aku baru lulus kuliah dan masih mulai merintis bisnis kontraktor dengan bikin CV,” jelas alumnus Fakultas Hukum Universitas Jember ini.

Tepe memberanikan diri untuk mulai bisnis konstruksi karena kondisi keluarganya yang benar-benar kepepet. Saat itu sang ayah terkena beberapa masalah yang tidak bisa diceritakan oleh Tepe. “Saat itu benar-benar tidak ada pemasukan. Aku inget sekali, papa sampai bilang, tidak punya uang untuk beli beras untuk dimakan besok,” kenang Tepe.

Pada tahun-tahun yang sulit tersebut, Tepe sebenarnya punya peluang untuk berkarier sebagai musisi di Jakarta. Band yang dia rintis sejak SMA mendapatkan tawaran kontrak dari sebuah label ternama di ibu kota. “Papa sebenarnya membebaskan aku untuk fokus dengan band-ku di Jakarta. Tapi aku memilih bersama keluarga pada saat-saat sulit tersebut. Aku memilih mundur dan band-ku juga batal kontrak ke Jakarta. Teman-teman memahami keputusanku itu,” cerita Tepe yang berposisi sebagai drummer tersebut.

Meski tidak memiliki latar pengetahuan di bidang konstruksi, Tepe memberanikan diri untuk membuka CV dan menawarkan jasanya baik ke instansi pemerintah maupun swasta. Tepe menggambar sendiri desain bangunan yang dia tawarkan. “Modalnya nekat. Saya anak IPS dan kuliah di ilmu hukum. Jadi, saya belajar sendiri dari nol, autodidak dari internet,” jawab Tepe dengan mantap.

Untuk beberapa pekerjaan, Tepe merekrut sarjana teknik yang baru lulus. Di setiap tender pemerintah, Tepe pun mengikuti prosedur sebagaimana yang ditetapkan, tanpa memanfaatkan nama sang ayah yang merupakan mantan pejabat di Jember. “Saya ambil keuntungan tipis saja. Untuk desain rumah supaya menarik terutama di swasta atau perorangan, desain yang saya tawarkan dalam bentuk video, jadi biar ada nilai lebih dibanding yang lain,” tutur alumnus SMAN 2 Jember ini.

Dengan ketelatenan dan kerja keras, bisnis konstruksi yang dijalani Tepe pun mulai menampakkan kesuksesan. Puncaknya, di tahun 2015, Tepe bisa mengantongi omzet hingga Rp 1 miliar dalam setahun. “Karena aku merasa bisa dapat uang banyak dari CV ini. Untuk satu kali gambar rumah saja, bisa dapat Rp 15 juta,” aku Tepe.

Di sela-sela kesibukan menjalankan bisnis, Tepe mengaktualisasikan minatnya di bidang seni melalui akun Youtube miliknya, dengan nama “Tepe46”. Tepe mengawalinya dengan unggahan drum cover karyanya sendiri. “Awal bikin drum cover tahun 2015. Sekadar pembuktian, bahwa dari Jember, kita tetap bisa berpeluang punya nama di level nasional,” ujar Tepe.

Sebuah video drum cover dari tembang yang dipopulerkan penyanyi Cita Citata, rupanya mendapat sambutan hangat dari pengguna Youtube tanah air, termasuk dari pencipta lagu yang dinyanyikan Cita Citata. Sejak itu, beberapa kali Tepe mendapat undangan dari beberapa artis tanah air, seperti Anji bekas vokalis Drive dan Raditya Dika. “Tapi aku tidak mau numpang tenar ke mereka. Aku ingin dikenal karena karyaku sendiri,” ungkap Tepe.

Berinteraksi dengan banyak pekerja ekonomi kreatif di Youtube membuat wawasan Tepe menjadi terus terbuka. “Aku kagum dengan Mas Radit yang selalu terbuka sharing dengan siapa saja. Padahal, dia sudah populer sekali, tapi humble banget saat kontak aku,” tutur Tepe.

Jelang tahun 2016, bisnis yang dijalani Tepe mulai mengalami kendala. Meski operasionalnya lancar, beberapa piutang dari konsumen Tepe menjadi macet. Secara hampir bersamaan, karier sebagai Youtuber yang semula hanya iseng, menjadi prospek tersendiri bagi Tepe. Dia pun memilih untuk fokus menggarap akun Youtube secara profesional. “Di bisnis CV, aku memang bisa dapat uang lebih besar, tapi itu bukan passion-ku. Kalau di Youtube, aku menjalaninya dengan hati,” cerita Tepe.

Diakui Tepe, salah satu pemasukan dari Youtuber adalah iklan yang diperoleh dari Google. Namun, itu bukan pemasukan yang terbesar. “Paling besar kalau kita mendapat endorsement,” ujar Tepe.

Dalam setahun, Tepe bisa mendapatkan pemasukan ratusan juta melalui Youtube. Namun, dia tidak ingin sekadar mengejar kuantitas unggahan video di akun Youtube miliknya. Kualitas benar-benar ia jaga. “Aku nggak mematok sebulan harus berapa kali upload. Videoku ini termasuk tidak terlalu banyak kok. Yang penting konsepnya harus matang,”ungkap Tepe.

Tema video yang diunggah Tepe pun bermacam-macam. Mulai dari gim (game) hingga web series kehidupan anak kos. Seperti saat memulai bisnis konstruksi, Tepe juga mengawali karier Youtubenya dengan peralatan yang sederhana. “Aku awalnya hanya pakai kamera HP. Selain HP ku, aku juga pinjam HP kakak dan istri, jadi terlihat multicam,” tutur pria yang tinggal di daerah Kaliwates ini.

Saat awal serius di Youtube, Tepe hanya mendapatkan pemasukan sekitar USD 5 per bulan. Namun, kini per bulan Tepe bisa mengantongi Rp 60 juta, baik dari iklan Youtube maupun sponsor. “Jadi Youtuber yang besar itu, untuk memulainya tidak harus pakai peralatan yang mahal. Yang penting kita jadi diri sendiri dan menggali secara kreatif potensi yang ada,” kata Tepe.

Seiring dengan kesuksesan di jalur Youtube, Tepe pun mulai merekrut 4 orang karyawan untuk memperkuat content creative miliknya. Tepe ingin membuktikan bahwa Youtuber daerah juga bisa meraih kesuksesan yang sama besarnya dengan yang ada di kota-kota besar.

Meski merasa masih harus terus berbenah, Tepe terus mensyukuri capaiannya saat ini. Ujian besar yang dialami keluarganya beberapa tahun terakhir, memberikan hikmah besar bagi perjalanan hidup Tepe selanjutnya bersama keluarga. “Aku dari kecil dimanjakan oleh papa. Tapi dengan cobaan tersebut, memaksa aku lebih mandiri dan bekerja keras,” pungkas bungsu dari tiga bersaudara ini.

Reporter : Adi Faizin
Editor : MS Rasyid

Reporter :

Fotografer :

Editor :