Menengok Peti Batu hingga Goa Pathek, di Seputih Mayang

Jumai/radar jember DESTINASI BARU: Lokasinya memang sulit dijangkau. Namun tempat ini diprediksi bakal ramai, karena potensi wisata sejarah dan alamnya.

RADARJEMBER.ID-Bentuknya seperti peti. Namun bukan dari kayu. Melainkan batu. Anehnya, saat diketuk batu ini bisa mengeluarkan bunyi nyaring: Deng, deng, deng.

IKLAN

Bebatuan yang tak lazim itu ada di Dusun Sumberjeding, Desa Seputih, Kecamatan Mayang. Lokasinya bukan hanya satu titik. Karena di sana ditemukan sampai empat batu yang sama. Namun posisinya terpencar. Berjarak sekitar 50 meteran.

Seperti di pekarangan rumah Sunyoto. Batu peti itu ditemukan berbarengan dengan benda kuno lainnya. Rupanya, batu demikian disebut Sarkofagus. Sebuah batu yang dulu di zamannya, digunakan untuk menyimpan jenazah. “Karena takut dirusak orang, saya beri pagar tumbuhan,” kata Sunyoto.

Benda kuno itu seperti piring dan gelas. Selain itu, di kawasan Perhutani petak 27 A di desa tersebut, juga ditemukan keanehan tanah hingga sehektare. “Tanahnya seperti bisa berbunyi,” aku Mahfud, warga desa lainnya. Karena tanah bisa mengeluarkan suara nyaring saat diinjak-injak. Semakin keras menginjak, suaranya pun tambah nyaring. Tambah nyaring, ketika orang di atas tanah main lompatan. Suara itu, muncul seperti karena ada rongga di bawah permukaan tanah.

Keanehan tanah berbunyi itu yang kini membuat warga luar desa penasaran, kemudian, mulai banyak yang mendatanginya. “Semula ditemukan tidak sengaja,” imbuh Mahfud.

Mendatangi lokasi di tanah berbunyi itu, butuh tenaga ekstra. Selain memang masuk ke wilayah Perhutani, akses jalannya hanya bisa dilalui jalan kaki. Karena jalan setapak.

Temuan warga itu, dinilai Kepala Resort Pemangku Hutan (KRPH) Seputih, Ahmad Lela Harahap, meyakini temuan itu bisa jadi potensi wisata prasejarah. Terlebih di sekitar lokasi, ada goa dan air terjun. Nama guanya pun dinilai unik: Goa Pathek.

Disebut Goa Pathek, karena nama Pathek memiliki arti anjing. Kenapa? karena konon goa itu banyak ditempati anjing liar. “Zaman prasejarah meyakini gua ini banyak anjingnya,” akunya.

Supaya bisa jadi daya tarik masyarakat, Perhutani setempat bakal menggarapnya serius. Tujuannya jelas, untuk menambah destinasi wisata unggulan di Jember.

Reporter : Rully Efendi, Jumai
Editor : Hadi Sumarsono
Editor Bahasa: Yerri A Aji
Fotografer: Jumai

Reporter :

Fotografer :

Editor :