Cegah Hama Tikus Sawah, Undang Burung Hantu

Bestyan Fikri for Radar Jember CARA ALAMI: Didampingi petugas penyuluh pertanian dan dibantu babinsa, petani di Desa Lengkong memanfaatkan burung hantu untuk memangsa hama tikus sawah.

RADARJEMBER.ID – Sejak dua tahun yang lalu, Pemkab Jember sudah menargetkan Jember untuk mampu menjadi lumbung pangan nasional. Meski demikian, masih banyak tantangan dan ancaman yang menghadang petani untuk meningkatkan target produksi pertaniannya. Salah satu ancaman itu adalah hama tikus sawah (rattus argentiventer).

IKLAN

“Memang sekarang sudah tidak terlalu parah. Tetapi kita tetap antisipasi saja untuk melakukan upaya pencegahan,” tutur Bestyan Fikri Diyah Ghoriza, petugas Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Jember (dulu disebut Dinas Pertanian, Red) yang bertugas di Desa Lengkong, Kecamatan Mumbulsari.

Bestyan mengingat, sekira lebih dari lima tahun silam, lahan pertanian di daerah Mumbulsari, termasuk Desa Lengkong, sempat diserang hama tikus sawah. “Tetapi yang lebih parah memang daerah Jember bagian selatan,” lanjut Bestyan.

Sepasang tikus sawah yang kawin, lanjut Bestyan, bisa melahirkan ribuan anak tikus yang siap memangsa lahan persawahan warga. Tak mau terjerembab dengan masalah yang sama, saat ini dinas sedang gencar mengadakan pencegahan hama tikus. Sebenarnya, terdapat beberapa cara untuk menanggulangi hama tikus sawah yang bisa memakan dan merusak tanaman padi di sawah. Mulai dari menggunakan cara kimia hingga manual. “Kalau menggunakan tenaga manusia, biayanya bisa sekitar ratusan ribu per hektare,” jelas pria yang juga bertugas sebagai penyuluh di Desa Kawangrejo, Mumbulsari ini.

Selain itu, tersedia alternatif cara lain untuk membasmi tikus sawah. Yakni dengan memanfaatkan hewan pemangsa (predator) tikus sawah, yakni burung hantu. “Tapi burung hantu yang digunakan adalah yang jenis tyto alba,” kata pria kelahiran 18 Oktober 1988.

Tyto alba atau bisa disebut Serak Jawa kadang disebut burung hantu putih karena memiliki ciri khas wajahnya yang berwarna putih. Sifat burung hantu ini disebut sangat cocok untuk dimanfaatkan sebagai pemangsa alami hama tikus sawah. “Karena sama-sama nokturnal, yakni hewan yang aktif di malam hari. Burung hantu ini kan karnivora, salah satu kesukaannya tikus sawah, jadi cocok,” ujar Bestyan.

Burung hantu tyto alba memiliki laju metabolisme yang cukup tinggi, sehingga butuh lebih banyak makan. Berdasarkan penelitian para ahli, diperkirakan burung hantu bisa memakan 2 hingga 5 ekor tikus setiap harinya. “Karakteristiknya unik. Ketika sudah kenyang, dia tetap akan memangsa tikus sawah, tetapi tidak dimakan, cuma dibunuh saja. Jadi, cukup efektif untuk membasmi tikus,” ungkap alumnus Fakultas Pertanian Universitas Jember ini.

Dengan kekuatan matanya, burung hantu tyto alba memiliki kepekaan untuk mencari mangsa di kegelapan malam. Selain itu, tingkat reproduksi burung hantu tyto alba juga relatif tinggi. Dalam setahun, betinanya mampu bertelur 2 hingga 3 kali. Selain itu, jantan memiliki karakteristik poligami atau bisa kawin dengan beberapa betina sekaligus. “Sekali bertelur, bisa sampai 6 hingga 12 ekor. Masa mengeraminya mencapai antara 27 hingga 30 hari,” terang Bestyan.

Dengan skala kelebihannya itu, DTPHP Jember lantas berinisiatif memanfaatkan burung hantu yang hidup secara bebas di alam, guna memangsa tikus. Caranya dengan membagikan beberapa pagupon atau rumah burung di beberapa wilayah. “Kebetulan desa kita dapat lima unit pagupon. Pas dengan jumlah kelompok tani yang ada di Desa Lengkong ini,” ujar Bestyan.

Pemasangan pagupon ini dilakukan secara menyebar di lima titik yang ada di Desa Lengkong. “Kebetulan burung hantu ini jangkauannya antara 10 hingga 12 kilometer. Jadi, pagupon minimal dipasang bisa dengan jarak minimal 10 kilometer,” tutur Bestyan.

Dengan memasang pagupon, diharapkan bisa mengundang kedatangan burung hantu tyto alba yang hidup di alam bebas. Meski bisa juga dengan memasang burung hantu tyto alba yang sudah diternak. “Kalau beli, harganya cukup mahal. Bisa sampai jutaan,” kata Bestyan.

Salah satu penangkaran burung hantu tyto alba di Jember terdapat di Desa Sruni, Kecamatan Jenggawah. Penangkaran itu atas bantuan dari pihak swasta. “Kalau kita beli, perlu ada proses adaptasi dulu. Burungnya dikurung selama seminggu dengan diberi 2 hingga 3 ekor tikus setiap sore. Setelah itu baru dilepas pada malam hari,” ujar Bestyan.

Untuk memasang pagupon yang mengundang burung hantu tyto alba yang hidup bebas di alam, perlu ada beberapa syarat. “Paguponnya tidak boleh dekat perkampungan warga atau tepi jalan. Karena butuh suasana tenang biar tidak stres,” ungkap Bestyan.

Selain itu, pagupon yang dipasang di areal persawahan juga harus dekat dengan rerimbun pepohonan. “Tapi jangan sampai pintu pagupon terhalang ranting pohon. Biar mereka mudah akses keluar masuknya,” tutur Bestyan.

Pola hidup burung hantu ini memang lekat dengan pepohonan. Saat keluar dari sarangnya, mereka biasanya bermain-main di ranting pohon. Penglihatan burung hantu ini bisa sampai 500 meter.

Hal lain yang juga harus diperhatikan dalam pemasangan pagupon adalah arah dari pintu masuk sarang. “Harus menghadap utara atau selatan. Karena burung ini tidak suka cahaya matahari, jadi biar terhindar dari sinar matahari terbit ataupun sinar matahari terbenam,” papar Bestyan.

Pagupon yang kerap disinggahi burung hantu tyto alba bisa diidentifikasi dari jejak yang ditinggalkannya. Karena burung ini tidak sepenuhnya menelan seluruh tubuh tikus putih yang dimangsanya. “Kalau di sekitar pagupon itu banyak bangkai tikus sawah, berarti sudah efektif penggunaan paguponnya. Jadi, kami tinggal nunggu saja di rumah,” tutur Bestyan.

Meski murah dan terlihat praktis, pemanfaatan burung hantu tyto alba untuk membantu petani membasmi hama tikus sawah tidak lepas dari kendala. Mahalnya harga burung hantu yang bisa ditangkap –bisa mencapai jutaan rupiah– mendorong beberapa pihak yang tidak bertanggung jawab tergoda untuk memburunya guna dijual. “Selain itu, ada juga orang yang membunuh burung hantu karena awam. Ini terkait mitos tertentu tentang burung hantu,” sesal Bestyan.

Padahal, di Jember sudah terdapat Perbup Nomor 17 Tahun 2015 yang isinya untuk melindungi populasi burung hantu. “Tidak hanya dilarang menangkap. Merusak sarangnya yang tidak boleh. Ini yang terus coba kita sosialisasikan karena masih banyak yang belum paham,” pungkas Bestyan.

Reporter : Adi Faizin

Reporter :

Fotografer :

Editor :