Arisan dan Simpan Pinjam, Alternatif Para Ibu Hindari Gadai Barang

WAWAN DWI SISWANTO/RADAR JEMBER PERAN IBU-IBU DASAWISMA: Arisan di Lingkungan Sumber Wringin, Kelurahan Karang Rejo, menjadi alternatif ibu rumah tangga untuk menghindari gadai barang. Namun di wilayah perkotaan, aktivitas arisan juga berfungsi sebagai lembaga pemberdayaan perempuan.

RADARJEMBER.ID – Selain memiliki peran sosial arisan juga memiliki peran secara ekonomi. Bahkan arisan dapat digolongkan dalam lembaga keuangan nonformal atau yang sering disebut dengan shadow banking. Arisan dapat disebut sebagai lembaga keuangan nonformal karena dalam pelaksanaannya arisan menggunakan sistem simpan pinjam seperti yang dilakukan oleh lembaga keuangan formal yang lainnya.

IKLAN

Arisan merupakan salah satu kegiatan rutin yang diadakan oleh hampir setiap daerah, di mana kegiatan arisan ini sebenarnya merupakan bagian dari kegiatan Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga. PKK merupakan kegiatan yang wajib dilakukan di setiap RT, mengingat PKK memiliki peran sebagai wadah informasi pemerintah.

Seperti pada organisasi lain, PKK juga memiliki struktur organisasi sekalipun tidak formal. Pada umumnya struktur organisasi yang ada pada PKK terdiri dari ketua, sekretaris, bendahara, humas, pengurus simpan pinjam, dan pengurus sosial dan masih banyak lagi tergantung kesepakatan dari anggota PKK.

Hampir di setiap RW selalu ada kegiatan arisan PKK. Pun halnya di RW 21 Kebonsari, Sumbersari. Tidak hanya setingkat RW saja, arisan juga diselenggarakan di lingkup dasawisma atau berkisar di antara sepuluh rumah dalam satu area. “Hitung-hitung menabung, tapi baru bisa diambil kalau namanya keluar pas diundi,” ujar Siti Halifah, ketua Dama Catleya 146 I RW 21.

Karena sistem penentuan penerima dana arisan ini diundi secara acak maka bisa jadi anggota tersebut mendapatkan dana arisan diawal-awal namun bisa jadi juga mendapatkan arisan pada akhir periode arisan. Jika seorang anggota mendapatkan dana arisan di akhir periode arisan maka sama saja dia menabung namun tanpa memperoleh bunga.

Karena setiap bulan dia harus menyetorkan sejumlah dana di mana dana tersebut baru akan dia terima pada akhir periode. Sedangkan jika anggota arisan tersebut mendapat uang arisan pada awal arisan maka ia seperti mendapat pinjaman tanpa bunga. “Yang bersangkutan hanya perlu menyetorkan uang setiap bulan sesuai besaran iuran arisan yang telah ditentukan sebelumnya,” lanjut Ifa.

Tidak hanya mengundi arisan, kegiatan pertemuan bulanan ini juga menjadi salah satu sarana silaturahmi antar ibu-ibu. Sebab setiap harinya belum tentu satu warga bertemu rutin dengan warga lainnya. Selain itu dalam momen pertemuan ini pula diperoleh informasi dari kelurahan maupun kecamatan yang disosialisasikan di tingkat bawah. “Jadi ketemunya ya satu bulan sekali pas arisan itu,” imbuhnya.

Selain arisan, alternatif lain yang biasa dimanfaatkan oleh ibu-ibu rumah tangga adalah fasilitas simpan pinjam. Di Dama Catleya 146 I, warga biasa memanfaatkan simpan pinjam setiap bulannya untuk beragam tujuan. Hampir mirip dengan koperasi simpan pinjam, namun dengan sistem yang lebih mudah dipahami anggota.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2012 tentang Perkoperasian, koperasi simpan pinjam adalah koperasi yang menjalankan usaha simpan pinjam sebagai satu-satunya usaha. Jenis koperasi ini menghimpun dana dari anggota dan memberikan pinjaman kepada anggota. Koperasi simpan pinjam yang menghimpun dana dari anggota harus menyalurkan kembali dalam bentuk pinjaman kepada anggota.

Menurut Ifa, sistemnya diawali dengan setoran awal atau yang biasa disebut simpanan pokok sebesar Rp 25 ribu per anggota. Selanjutnya anggota bisa menabung setiap bulannya dengan jumlah bebas. “Kalau di kita, tidak lebih dari Rp 100 ribu,” jelasnya.

Kemudian jika ada yang hendak meminjam, anggota diizinkan meminjam sebesar jumlah uang yang terkumpul pada saat itu, dan dipinjamkan dengan jangka waktu maksimal tiga bulan dan bunga lima persen. “Bukan lima persen per bulan, tetapi lima persen per tiga bulan. Jadi itungannya bunganya sangat kecil,” tegasnya.

Setiap bulan, lanjut Ifa, dana simpan pinjam tersebut harus habis dipinjam oleh anggota untuk mempermudah penghitungan sisa hasil usaha. Sehingga uang tersebut tidak beku di pengurus dan bisa dimanfaatkan untuk warga. “Ini menjadi solusi kepentingan bersama,” imbuhnya.

Dua alternatif ini menjadi sangat popular di kalangan ibu-ibu rumah tangga. Selain lebih ramah di kantong dan lebih mudah dipahami, arisan dan simpan pinjam dinilai menjadi sumber perolehan dana yang jauh lebih ringan dibandingkan rentenir maupun gadai. “Apalagi bunga jauh lebih rendah ketimbang sistem gadai,” kata Ifa.

Selain mendapat manfaat ekonomi, lanjut dia, masyarakat juga mendapat manfaat sosial dengan berinteraksi satu sama lain. Hal tersebut juga menjadi tindakan proaktif warga saat ada warga lain yang sedang mengalami kesulitan. “Selain itu dapat juga dimanfaatkan sebagai asuransi sosial,” imbuhnya.

Arisan tidak hanya ada di perumahan saja. Daerah perkampungan juga memakai arisan untuk mengatasi keuangan. “Itung-itung menabung,” kata Titin warga Lingkungan Sumber Wringin, Kelurahan Karangrejo.

Titin bersama anggota arisan lainya rutin seminggu sekali kumpul ibu-ibu di arisan. “Ada yang dapat 4, 8, hingga 16 juta,” katanya. Dia mengatakan, ada arisan bersama yang berada di Lingkungan Pelindungan, Kelurahan Karangrejo, tapi juga ada arisan kecil-kecilan yang di dekat rumahnya. “Kalau yang arisan besar setiap nomor dan minggu membayar uang 50 ribu. Nanti diundi pakai dadu. Siapa yang nilainya tertinggi itu yang menang. Tapi yang sudah menang, minggu depannya tidak boleh ambil dadu,” ujarnya.

Dia mengaku, lewat arisan bisa menjadi solusi masalah keuangan keluarga. Dia mencontohkan, saat anggota arisan ini anggota keluarganya meninggal dunia. Maka yang berhak mendapatkan arisan berikutnya, adalah anggota bersangkutan. “Jadi kalau ada yang kesusahan seperti habis kepaten. Bisa dapat uang arisan,” imbuhnya.

Cara tradisional in terbukti manjur untuk mengatasi keuangan keluarga. Dari pada pergi ke pegadaian atau pinjam uang ke rentenir. Ujung-ujungnya rugi.

Reporter : Lintang Anis Bena Kinanti
Fotografer: Dwi Siswanto

Reporter :

Fotografer :

Editor :