Melanggar Lalin, Bisa Langsung Ditegur

WAWAN DWI/RADAR JEMBER PANTAU ARUS LALIN: Pengendara di perempatan Pasar Tanjung, Mastrip, dan Slawu bisa terpantau 24 jam oleh CCTV dari dishub. CCTV yang terpasang pun bisa melakukan pembesaran, sehingga mampu plat nomor kendaraan terlihat jelas. Pengendara yang melanggar, biasanya akan ditegur petugas melalui pelantang suara.

RADARJEMBER.ID- Daripada dibikin malu di depan banyak orang, lebih baik tertib berlalu lintas saja. Pasalnya, kini petugas bisa langsung menegur pengendara yang melanggar. Apalagi, yang bisa bikin kehilangan muka, saat menegur pengendara tak diminta minggir dan diajak bicara empat mata. Tetapi, petugas bisa meworo-woro lewat pelantang suara. Tentu saja banyak orang mendengar dan tahu bahwa ada yang melanggar. Malu deh.

IKLAN

Banyak pengguna jalan yang sudah kena tegur lewat pelantang suara. Misalnya, pengendara motor yang masuk ke garis zebra cross sebagai tempat orang menyeberang. Setelah ditegur, pengendara motor langsung memundurkan motornya dengan wajah bingung campur takut.

Teguran lewat pelantang suara itu sangat jelas dan spesifik. Dijelaskan mulai dari plat nomor, warna kendaraan, dan pakaian pengendara. Ini karena petugas memantau langsung dari traffic management center (TMC) Dinas Perhubungan Kabupaten  Jember. “Meski kameranya diletakkan di dekat lampu merah, tapi ini bisa diperbesar. Detail dengan plat nomornya,” papar Budi, petugas CCTV dari Dishub Jember.

Paling banyak mendapat teguran adalah angkutan kota. Angkutan kota tersebut biasanya sengaja berhenti di tempat yang dilarang untuk parkir. Saat ditegur, mobil pelat kuning tersebut langsung maju, tetapi beberapa meter setelahnya berhenti lagi. Mereka tetap ngetem di jalan yang tidak diperbolehkan berhenti tersebut. Karena tetap nakal, anggota Satlantas Polres Jember pun menghampiri untuk mengingatkan. “Pelantang suara di persimpangan Pasar Tanjung ini efektif. Sebab, di sana juga ada pos polisi. Jika ada peringatan dengan pelantang suara tersebut, polisi sigap untuk menertibkan,” ujarnya.

Kepala Bidang Lalu Lintas Dishub Jember, Leon Lazuardi mengatakan, pihaknya memang berupaya membiasakan tertib berlalu lintas kepada warga, salah satunya lewat pantauan CCTV ini. Selain untuk memonitor kondisi dan situasi lalu lintas. “Namun baru di persimpangan Pasar Tanjung yang bisa demikian,” katanya.

Petugas Dishub yang memantau dari studio CCTV di TMC bisa langsung mengetahui siapa saja pengendara yang melanggar. Kemudian, mereka bisa memperingatkan dengan pelantang suara.

Di simpang Pasar Tanjung dipasang kamera pan tilt zoom (PTZ). Sebuah kamera yang bisa dioperasikan dengan berputar dan memperbesar tampilan objek. Sehingga, pemantauan bisa lebih efektif. “Kamera PTZ ada di tiga titik. Simpang Pasar Tanjung, Mastrip, dan Slawu,” imbuhnya.

Keseriusan Pemkab Jember memprogramkan kamera CCTV di setiap persimpangan, dapat dilihat dari postur anggaran tahun 2018. Katanya, disiapkan anggaran sampai Rp 4,5 miliar.

Sementara itu, Kasatlantas Polres Jember AKP Prianggo Malau Parlindungan mengaku terbantu dengan dipasangnya kamera CCTV tersebut. Namun, pihaknya belum bisa menerapkan tilang berdasarkan pantauan CCTV. “Belum. Prosesnya itu panjang. Kami belum menerapkan itu,” ungkapnya.

Meski demikian, dia juga mengakui bahwa studio CCTV seperti di kantor dishub juga ada di Polres Jember. Namun, lagi-lagi itu sekadar untuk memantau arus lalu lintas. Bukan untuk penindakan.

Meski demikian, sudah banyak masyarakat percaya bahwa CCTV di Jember ini bisa berfungsi sebagai penindakan dengan e-tilang. Seperti diungkapkan Tamio Soberano, warga Pagah. Dia mengatakan, ada pesan melalui WhatsApp, baik jaringan pribadi ataupun grup, agar berhati-hati dan tidak melanggar marka jalan, khususnya di lampu lalu lintas. Sebab, ada CCTV yang bisa merekam untuk dijadikan landasan melakukan tilang. “Setiap lampu merah (lampu lalu lintas, Red) sudah ada CCTV. Petugas Dishub beberapa waktu yang lalu juga sibuk pasang CCTV di daerah kampus,” pungkasnya.

Reporter : Rully Efendi,Dwi Siswanto
Editor : MS Rasyid
Editor Bahasa: Imron Hidayatullah.
Fotografer: Dwi Siswanto

Reporter :

Fotografer :

Editor :