Ibnu Sabilili Huda, Mahasiswa yang Nyambi Jadi Tukang Bekam

Bagus Supriadi/Radar Jember BELAJAR MANDIRI: Ibnu Sabilili Huda memanfaatkan waktu luang dengan mencari penghasilan melalui pengobatan bekam.

RADARJEMBER.ID-“Halo mas, bisa bekam siang ini.” Sebuah pesan masuk melalui WhatsApp Ibnu, ketika sedang praktik di kampusnya. Langsung dia membalas. “Mohon maaf, masih belum bisa karena ada kegiatan di kampus. Kalau sore baru bisa,” jawabnya.

IKLAN

Setiap hari, Ibnu memang harus membagi waktunya dengan baik. Selain sibuk kuliah, dia juga membuka jasa bekam dan menjadi pengurus remas masjid kampus. Dia tak perlu mengeluarkan uang untuk rumah kos, karena sudah tinggal di masjid. Selain itu, kebutuhan sehari-hari terbantu dengan penghasilan sebagai tukang bekam.

Pria kelahiran 14 November 1996 itu mengawali menjual jasa bekam ketika lulus dari SMK Muhamadiyah Jember, 2013 lalu. Saat itu, dirinya sempat belajar bekam di sekolah. “Waktu itu Pak De minta bekam. Ternyata cocok,” katanya.

Padahal, pertama kali membekam masih memakai alat tradisional. Yakni menggunakan gelas, sirih, dan kapas, lalu dibakar. Namun, banyak yang merasa enak setelah dibekam olehnya. Akhirnya, beberapa temannya juga minta ikut dibekam. “Lama-lama semakin banyak, tetangga, teman main, hingga orang tuanya,” tutur Ibnu.

Bahkan, tradisi bekam ada yang menggunakan tanduk sapi. Namun, dia tidak pernah menggunakan alat tersebut. “Respons orang bekam bikin badan enteng, waktu itu belum dikeluarin darahnya,” tuturnya.

Karena permintaan bekam yang terus meningkat. Ibnu menghubungi ibunya yang menjadi TKI di Malaysia sejak tahun 2011. Dia dikirimi alat bekam oleh orang tuanya ke Jember karena harganya lebih murah. “Saya memanfaatkan waktu setahun, sebab lulus sekolah tak langsung kuliah,” katanya.

Selama setahun itu ia menganggur karena tidak ada biaya untuk kuliah. Meskipun hasil dari bekam tidak seberapa, namun dia menyimpannya. “Dapat penghasilan sedikit, karena tarif bekam seikhlasnya,” akunya.

Setahun kemudian, Ibnu mendaftar kuliah di Stikes dr Soebandi. Tentu biaya pendaftaran itu juga bantuan dari orang tuanya. Saat awal kuliah, dia berhenti menjalani kegiatan bekam, sebab waktu yang sangat terbatas. “Selama satu tahun tidak melanjutkan aktivitas bekam,” tuturnya.

Setahun setelah itu, karena keuangan yang menurun, dia memilih kembali membuka jasa bekam. Bahkan, membuat komunitas bekam di kawasan kampusnya. “Ternyata direspons positif sama dosen,” imbuhnya.

Ibnu bersama teman-teman komunitas bekam yang dibentuknya menyosialisasikan pengobatan bekam ke berbagai kabupaten di Tapal Kuda.  “Kami memperkenalkan bekam tradisional dan modern,” ucapnya.

Kembali memilih aktif di pengobatan bekam karena kondisi ekonomi. Selama satu tahun, ibunya membiayai kuliah. Namun, dirinya menyadari belajar di kampus kesehatan tak murah. Sehingga, dia ingin kembali mencari penghasilan sendiri. “Akhirnya promosi di FB, ada yang mendukung, ada yang menghujat,” tuturnya.

Namun, dari sana Ibnu kebanjiran klien untuk bekam. Tak hanya warga Jember, namun ada juga pasien dari Bondowoso ingin bekam. Akhirnya, dia mengatur waktu agar tidak berbenturan dengan kegiatan kampus. Sebab, dia juga aktif di organisasi, aktif di himpunan mahasiswa Ilmu Keperawatan, serta sebagai pengurus Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia.

Bahkan, Ibnu merupakan pendiri organisasi remas masjid Stikes dr Soebandi. Dia mengajukannya pada pihak yayasan untuk mengelola masjid agar lebih baik. “Dulu jarang azan masjidnya, sekarang sudah rutin, ada pengurusnya,” tambahnya.

Ibnu juga tak perlu mengeluarkan uang setiap hari untuk membeli makanan. Sebab, dia memilih memasak bersama teman-temannya. “Kadang makan juga ditanggung ibu kantin,” ujarnya.

Penghasilan Ibnu dari pengobatan bekam tak menentu. Dalam sebulan, kadang sampai Rp 700 ribu. Dari jumlah itu, 20 persen digunakan untuk memperbarui alat bekam. Seperti membeli jarum, minyak zaitun, dan lainnya. Lalu sisanya ditabung untuk biaya kuliah.

Menurut dia, bekam menjadi alternatif pengobatan yang sudah diajarkan sejak zaman Rasulullah SAW. Hanya saja, waktu itu masih tradisional, belum memadukan dengan ilmu medis. “Bekam modern lebih ke medis, ambil titik anatomi,” ujarnya.

Ada beberapa titik bekam, pertama satu titik sunah seperti kepala, leher, dan lainnya. Kemudian, titik umum, yakni titik hampir sama dengan titik akupunktur yang berjumlah 360 titik. Pengobatan bekam memiliki banyak manfaat jika dilakukan dengan  benar dan bersih.

“Menjaga jarum steril, alat bersih, perhatikan angin, kenyamanan pasien, diberi alkohol dulu untuk mengurangi infeksi,” jelasnya. Salah satu manfaatnya adalah bisa menurunkan kadar tekanan darah. Kemudian menghilangkan insomnia dan rasa capai. “Juga bisa menghilangkan gejala kolesterol,” tambahnya.

Bahkan, pengobatan bekam bisa menyembuhkan 25 penyakit. Islam sendiri menjadikan pengobatan ini sebagai hal yang sunah. Bahkan menganjurkan melakukan bekam seumur hidup sekali. “Sebaik-baik pengobatan adalah  minum madu dan bekam,” tuturnya.

Kini, Ibnu sedang menyelesaikan tugas akhirnya. Selain itu, dia juga melatih mahasiswa baru agar bisa membekam. “Sekarang ada 20 orang di kelas pertama, isinya membahas materi, pelatihan, dan belajar cara bekam,” pungkasnya.

Reporter & Fotografer : Bagus Supriadi
Editor : Hadi Sumarsono
Editor Bahasa: Imron Hidayatullah

Reporter :

Fotografer :

Editor :