Belajar Wayang agar Tradisi Tak Hilang

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Wayang kulit adalah warisan budaya bernilai tinggi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat Jawa khususnya. Namun di tengah kecanggihan teknologi dan budaya asing saat ini, tak banyak generasi muda yang tertarik untuk melestarikan budaya bangsa itu.

Hal itu memantik keprihatinan Muhammat Imam Jauhari, pemuda asal Dukuh Dempok Wuluhan yang juga seorang pemahat wayang kulit. Dia tidak ingin budaya yang sudah diwariskan oleh nenek moyang terdahulu itu tergerus zaman.

Menurutnya, kepedulian terhadap seni tradisi itulah yang menggerakkannya untuk belajar sebagai penatah wayang. “Karena anak-anak sekarang itu lebih suka bermain game, dan saya takut budaya kita terutama wayang ini akan hilang,” ujarnya.

Siswa kelas 3 di salah satu SMA di Ambulu itu mengatakan, kecintaan akan wayang berawal dari seringnya menonton pertunjukan wayang sejak masih di sekolah dasar. Hingga timbullah niat untuk belajar menatah wayang mulai sejak SMP.

Hingga saat ini, sudah hampir 50 buah wayang yang sudah ditatahnya. Bagi dia, dibutuhkan ketelitian dan kesabaran tinggi untuk bisa menatah wayang. Apalagi, wayang yang menggunakan probo atau sayap, merupakan salah satu karakter wayang tersulit untuk dikerjakan. “Karakter yang sulit adalah wayang yang menggunakan probo atau sayap, seperti Gatotkaca, Kresna, dan Bolodewo,” tukasnya.

Jurnalis : Yerri A Aji
Redaktur : Maulana
Fotografer : –
Design : Reza Oky Arjiansyah