Radar Jember - Harga emas batangan bersertifikat Antam produksi PT Aneka Tambang Tbk terpantau mengalami koreksi cukup dalam pada perdagangan hari ini, Kamis (5/02/2026).
Penurunan ini menjadi angin segar bagi para investor yang tengah menunggu momentum untuk menambah portofolio investasi logam mulia mereka.
Berdasarkan data terbaru yang dirilis pada pukul 08:41:46 WIB, harga emas Antam untuk ukuran satu gram kini dibanderol di angka Rp2.956.000.
Penurunan hari ini tercatat sebesar Rp17.000 per gram jika dibandingkan dengan perdagangan hari sebelumnya. Pada Rabu, 4 Februari 2026, harga emas Antam masih bertengger di posisi Rp2.973.000 per gram.
Baca Juga: Realisasi Investasi Tembus Rp2,3 Triliun, Jember Diprediksi Jadi Magnet Investor 2026
Berikut adalah ringkasan pergerakan harga emas Antam per hari ini:
* Harga Emas 1 Gram (5 Feb 2026): Rp2.956.000
* Harga Emas 1 Gram (4 Feb 2026): Rp2.973.000
* Selisih Harga: Turun Rp17.000 per gram.
Penurunan harga sebesar Rp17.000 ini dinilai sebagai koreksi harian yang dipengaruhi oleh dinamika pasar global.
Meski mengalami penurunan, harga emas secara umum masih berada di level yang cukup kompetitif di awal tahun 2026 ini.
Bagi investor pemula maupun kawakan, fluktuasi harga seperti ini sering kali dimanfaatkan sebagai strategi dollar cost averaging atau membeli saat harga turun untuk mendapatkan nilai rata-rata investasi yang lebih baik di masa depan.
Para pakar investasi menyarankan agar masyarakat tetap memantau pergerakan harga secara berkala, mengingat harga emas bersifat fluktuatif dan sangat dipengaruhi oleh kebijakan suku bunga global serta kondisi geopolitik internasional.
Sebagai informasi, harga yang tercantum di atas adalah harga dasar dan belum termasuk pajak yang berlaku sesuai dengan ketentuan PMK Nomor 34/PMK.10/2017 terkait potongan pajak dalam transaksi logam mulia.
Manager Bisnis Kantor Pegadaian Cabang Tegalboto, Sumbersari, Jember, Indra Artha Permana, mengungkapkan bahwa volume pembelian logam mulia mengalami lonjakan drastis justru saat harga sedang tinggi.
Ia menjelaskan tingginya minat masyarakat ini tidak lepas dari kondisi ekonomi dan politik global. Kebijakan suku bunga bank sentral serta ketegangan geopolitik internasional, seperti konflik Amerika-Iran, memicu kekhawatiran yang membuat masyarakat memilih instrumen investasi yang paling likuid atau mudah dicairkan.
"Masyarakat kini cenderung mengalihkan dana mereka ke emas karena dinilai lebih aman dan mudah dicairkan sewaktu-waktu," tambah Indra.
Editor : M. Ainul Budi