BACA JUGA : 8.500 Sudah Tercetak di Awal Tahun, Blanko KTP di Jember Sisa 4.000
Begitu sampai di halaman rumah peternak domba, Muhammad Salim, pria yang namanya cukup tenar itu langsung menyapa. Dia menanyakan keperluan dan mempersilakan masuk ke dalam rumahnya. “Silakan duduk di sini,” jelas Salim.
Saat itu, Salim sedang menerima beberapa tamu yang datang untuk melihat peternakan miliknya. Salim pun tetap mempersilakan untuk duduk di ruang tamu miliknya. Di dinding ruang tamunya, banyak pigura prestasi dan foto para tokoh penting dengan dirinya.
“Saya telah menjadi peternak kurang lebih 19 tahun. Tentu perlu proses panjang untuk menempuhnya. Tapi, bukan lantas saya menggemukkan diri sendiri. Saya ajak kerja sama masyarakat Desa Sidomulyo untuk beternak domba. Sebab, ada potensi yang subur di desa ini,” ungkap Salim.
Awalnya, Salim menjadi pengembala domba karena dia diajak bekerja sama oleh UPT Pembibitan Ternak dan HMT (UPTPTHMT) milik Provinsi Jawa Timur, yang ada di Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo. Dulu, tanpa pemberdayaan UPT setempat, dia tidak akan bisa sukses seperti sekarang. Salim mengaku diberdayakan dengan cara diberi lima ekor domba. Lalu, dikembangbiakkan menjadi sembilan ekor anakan domba. Nantinya, anak domba akan diambil oleh pihak UPT, sedangkan induknya akan menjadi milik Salim.
“Tahun 2005 saya itu hanya seorang pengembala kambing yang diberi kepercayaan oleh pihak UPT sini. Saya dipercayakan empat ekor domba indukan dan satu pejantan. Kemudian dikembangbiakkan, tapi dengan target melahirkan anakan domba berjumlah sembilan ekor yang nanti disetor ke pihak UPT per tiga bulannya,” jelas Salim.
Dengan bermodalkan kepercayaan yang diberikan tersebut, Salim memulai kerja sebagai peternak domba. Cukup jangka waktu tiga tahun bagi Salim untuk melunasi target yang diberikan oleh pihak UPT. Karena itu, pada tahun 2008 Salim telah berdikari. Dia tidak bekerja sama lagi dengan UPT dalam mengelola domba.
Salim menjelaskan, dirinya merintis usaha peternakan dengan bermodalkan 20 ekor domba yang merupakan modal dari kerja kerasnya. “Mulai dari tahun 2008, saya mengembangbiakkan domba yang 20 ekor menjadi beranak pinak hingga total 90 ekor pada tahun 2018,” bebernya.
Proses hingga menjadi 90 ekor domba tersebut tidaklah instan. Kurun waktu 2008 hingga 2018 bagi Salim perlu dengan perjuangan dan pembelajaran maksimal supaya angka kematian domba miliknya tidak tinggi. Pada tahun 2018 Salim mulai mengajak teman desa dan para warga Desa Sidomulyo bekerja sama dengan dirinya. Cara Salim bekerja sama menggunakan sistem bagi hasil. Berbeda dengan sistem setoran yang dilakukan UPTPTHMT.
Salim mengaku memberdayakan masyarakat Desa Sidomulyo dengan cara memberikan domba kepada masyarakat sekitar yang membutuhkan domba untuk diternak. Syarat yang ditentukan Salim untuk mereka yang menginginkan domba miliknya cukup mudah. Mereka hanya diwajibkan menyediakan kandang domba sendiri. Kemudian, pada tahap selanjutnya Salim memeriksa kelayakan kandang mereka dan melihat cukup berapa ekor domba dalam kandang tersebut.
“Ya, untuk sistem kerja samanya saya dengan masyarakat sekitar yakni menggunakan sistem bagi hasil. Misalnya mereka saya beri lima ekor indukan domba untuk digembalakan, nah, jika nanti beranak delapan ekor, kita jual semua anakannya. Baru kita bagi hasil dari penjualan. Misal laku delapan juta, maka dibagi dua. Empat juta untuk saya, empat juta lagi untuk mereka,” ucap Salim.
Dari hasil kerja sama dengan masyarakat desa dan teman-temannya tersebut, pada tahun 2018 hingga 2023 saat ini Salim memiliki total domba 9.800 ekor. Tersebar di dalam Desa Sidomulyo. Sementara, domba yang dikelola di peternakan miliknya sendiri yang seluas 1,6 hektare, berjumlah 306 ekor domba.
Perihal pakan domba, Salim dan masyarakat sekitar menggunakan rumput liar. Melihat kondisi desa yang berada di bawah Gunung Gumitir tentunya sangat mudah dan menguntungkan mereka. “Alhamdulillah, warga Desa Sidomulyo sini dapat terbantu ekonominya. Walaupun beternak domba juga perlu ketelatenan yang maksimal bagi mereka. Untung saja di sini perihal pakan kita dan semua warga sini menggunakan rumput yang telah disediakan alam, sehingga tidak membuat pusing,” ungkapnya.
Tak hanya pencapaian itu saja yang diraih Salim. Dia juga telah memenangkan berbagai kontes domba ekstrem yang diselenggarakan di Kabupaten Jember. Ini membuktikan bahwa Salim merupakan seorang yang totalitas dalam mendirikan peternakan domba dan memberdayakan warga Desa Sidomulyo. Bahkan pencapaian terbesar menurutnya adalah melakukan ekspor dombanya ke berbagai negara.
"Iya, pencapaian tersebar saya adalah dapat melakukan ekspor domba ke berbagai negara. Salah satunya adalah Brunei. Saya kemarin itu kirim domba sekitar dua ribu ekor ke sana. Alhamdulillah, rejeki tidak ada yang tahu,” pungkas Salim. (c2/nur) Editor : Safitri