Untuk menemukan industri rumahan di dusun tersebut tidaklah sulit. Sebab, cukup dekat dari Kantor Desa Lembengan. Di dusun ini terdapat enam rumah yang menekuni pembuatan kerupuk dan rengginang. Aktivitas pembuatan kudapan tradisional itu dilakukan setiap hari. Dimulai pukul 04.30 selepas Subuh dan berakhir pukul 10.00. Kemudian, dijemur selama satu hari penuh di bawah terik matahari.
Jamak diketahui kerupuk petulo ini terbuat dari tepung beras dan tepung tapioka. Bentuknya menyerupai benang yang dirangkai seperti anyaman. Sementara, rengginang terbuat dari beras ketan. “Dalam sehari saya membutuhkan 10 kilogram tepung beras dan 30 kilo tepung tapioka. Untuk rengginang antara 25 sampai 50 kilogram beras ketan. Semua bahan itu dibeli dari toko sekitaran sini saja," tutur Endang, salah seorang perajin.
Agar kerupuk dan rengginang itu terasa gurih, ibu tiga anak ini mencampurkan garam, bawang putih, dan terasi. Harganya per kilo cukup terjangkau. Antara Rp 13 ribu hingga Rp 18 ribu. Sedangkan rengginang dijual oleh Endang Rp 18 ribu per kilo.
Lutfiah, perajin yang lain, menuturkan, saat hari besar Islam seperti Maulid Nabi, Idul Fitri, dan Idul Adha, permintaan kerupuk dan rengginang ini melonjak. Sebab, biasanya warga menyuguhkan dua makanan ringan tersebut kepada tamu yang berkunjung atau menyertakan dalam kenduri ketika hajatan.
Bahkan, kerupuk petulo dan rengginang di Desa Lembengan sampai menjadi ikon desa setempat. Sama seperti terasi di Kecamatan Puger atau kopi robusta di Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo. Sebab, jangkauan pemasarannya tidak hanya di Kecamatan Ledokombo, tapi juga di kecamatan lain seperti Arjasa dan Sempolan. “Produk ini merupakan ikon Desa Lembengan. Karena rasa kerupuk petulo dan rengginang bikinan warga sini terkenal lebih gurih, serta tidak memakai pewarna,” kata Lutfiah. Top of Form
Reporter : Winardyasto
Fotografer : Winardyasto
Editor : Mahrus Sholih Editor : Ivona