alexametrics
23.5 C
Jember
Thursday, 18 August 2022

Bagi Hasil, Atasi Modal Cekak

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – BAGI yang belum tahu mau berdagang apa di masa pandemi seperti ini, atau mau usaha tapi merasa gaji bulanannya kecil sehingga tak punya modal, mungkin cara ini bisa dicoba. Ya, usaha bagi hasil. Inilah yang dilakukan oleh Murnita Desy Selviana Putri, guru honorer salah satu SMK di Jember.

“Yes, bagi hasil. Intinya, saya hanya menjualkan produk orang lain,” papar wanita 26 tahun ini. Dia menjelaskan, dirinya mengambil satu barang dengan harga Rp 9.000, lalu menjualnya kembali senilai Rp 10 ribu hingga Rp 11 ribu. Produknya mulai makaroni, salad, hingga produk makanan lain.

Karena pandemi, semua serba turun. Guru honorer yang gajinya ikut pemerintah juga ada penurunan. “Lagian guru honorer kan gajinya tidak tentu, karena sesuai jam mengajar,” ujar Ita, sapaannya. Untuk berjualan makaroni, untungnya memang tak seberapa, hanya Rp 500. Sedangkan salad menjadi produk yang paling menjanjikan. Per item, dia bisa mendapatkan untung mulai Rp 1.000 hingga Rp 3.000.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurut dia, berjualan produk yang sehat untuk tubuh, misalnya salad, juga menjadi nilai plus. Belum lagi, di masa pandemi seperti ini, semua serba butuh asupan vitamin yang salah satunya terkandung dalam buah-buahan.

Namun, warga yang tinggal di Perumahan Puri Bunga Nirwana 2, Cluster Bintaro, Kecamatan Sumbersari, itu mengungkapkan, apa pun yang dijual pasti memiliki risiko. Seperti salad, makanan sehat tapi juga berkolesterol. Jadi, tidak bisa dibeli setiap hari. Apalagi, harganya lumayan menguras kantong. Jadi, peminatnya juga fluktuatif. “Solusinya? Tetap jual saja. Namanya juga dagang. Jadi, tawarkan saja, tidak perlu mikir laku tidaknya,” tutur Ita.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – BAGI yang belum tahu mau berdagang apa di masa pandemi seperti ini, atau mau usaha tapi merasa gaji bulanannya kecil sehingga tak punya modal, mungkin cara ini bisa dicoba. Ya, usaha bagi hasil. Inilah yang dilakukan oleh Murnita Desy Selviana Putri, guru honorer salah satu SMK di Jember.

“Yes, bagi hasil. Intinya, saya hanya menjualkan produk orang lain,” papar wanita 26 tahun ini. Dia menjelaskan, dirinya mengambil satu barang dengan harga Rp 9.000, lalu menjualnya kembali senilai Rp 10 ribu hingga Rp 11 ribu. Produknya mulai makaroni, salad, hingga produk makanan lain.

Karena pandemi, semua serba turun. Guru honorer yang gajinya ikut pemerintah juga ada penurunan. “Lagian guru honorer kan gajinya tidak tentu, karena sesuai jam mengajar,” ujar Ita, sapaannya. Untuk berjualan makaroni, untungnya memang tak seberapa, hanya Rp 500. Sedangkan salad menjadi produk yang paling menjanjikan. Per item, dia bisa mendapatkan untung mulai Rp 1.000 hingga Rp 3.000.

Menurut dia, berjualan produk yang sehat untuk tubuh, misalnya salad, juga menjadi nilai plus. Belum lagi, di masa pandemi seperti ini, semua serba butuh asupan vitamin yang salah satunya terkandung dalam buah-buahan.

Namun, warga yang tinggal di Perumahan Puri Bunga Nirwana 2, Cluster Bintaro, Kecamatan Sumbersari, itu mengungkapkan, apa pun yang dijual pasti memiliki risiko. Seperti salad, makanan sehat tapi juga berkolesterol. Jadi, tidak bisa dibeli setiap hari. Apalagi, harganya lumayan menguras kantong. Jadi, peminatnya juga fluktuatif. “Solusinya? Tetap jual saja. Namanya juga dagang. Jadi, tawarkan saja, tidak perlu mikir laku tidaknya,” tutur Ita.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – BAGI yang belum tahu mau berdagang apa di masa pandemi seperti ini, atau mau usaha tapi merasa gaji bulanannya kecil sehingga tak punya modal, mungkin cara ini bisa dicoba. Ya, usaha bagi hasil. Inilah yang dilakukan oleh Murnita Desy Selviana Putri, guru honorer salah satu SMK di Jember.

“Yes, bagi hasil. Intinya, saya hanya menjualkan produk orang lain,” papar wanita 26 tahun ini. Dia menjelaskan, dirinya mengambil satu barang dengan harga Rp 9.000, lalu menjualnya kembali senilai Rp 10 ribu hingga Rp 11 ribu. Produknya mulai makaroni, salad, hingga produk makanan lain.

Karena pandemi, semua serba turun. Guru honorer yang gajinya ikut pemerintah juga ada penurunan. “Lagian guru honorer kan gajinya tidak tentu, karena sesuai jam mengajar,” ujar Ita, sapaannya. Untuk berjualan makaroni, untungnya memang tak seberapa, hanya Rp 500. Sedangkan salad menjadi produk yang paling menjanjikan. Per item, dia bisa mendapatkan untung mulai Rp 1.000 hingga Rp 3.000.

Menurut dia, berjualan produk yang sehat untuk tubuh, misalnya salad, juga menjadi nilai plus. Belum lagi, di masa pandemi seperti ini, semua serba butuh asupan vitamin yang salah satunya terkandung dalam buah-buahan.

Namun, warga yang tinggal di Perumahan Puri Bunga Nirwana 2, Cluster Bintaro, Kecamatan Sumbersari, itu mengungkapkan, apa pun yang dijual pasti memiliki risiko. Seperti salad, makanan sehat tapi juga berkolesterol. Jadi, tidak bisa dibeli setiap hari. Apalagi, harganya lumayan menguras kantong. Jadi, peminatnya juga fluktuatif. “Solusinya? Tetap jual saja. Namanya juga dagang. Jadi, tawarkan saja, tidak perlu mikir laku tidaknya,” tutur Ita.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/