alexametrics
31.3 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

Madu Palsu Masih Marak di Masyarakat

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Rendi (nama samaran) menurunkan 10 kilogram gula yang baru dibeli di pasar. Gula ini nantinya akan digunakan sebagai bahan pokok untuk membuat madu. Sebanyak 10 kilogram madu dapat diolah menjadi 10-15 botol berukuran satu liter. Jika dijual harganya bisa mencapai Rp 160 ribu hingga Rp 220 ribu. Tekstur madunya kental berwarna kecoklatan dan hitam pekat. Sepintas tak berbeda dengan madu asli.

Inilah yang sudah dilakukan Rendy sejak satu tahun belakangan. Tak tanggung-tanggung, selama masa itu dia bisa membeli satu unit mobil. Kehidupan finansialnya pun membaik jika dibandingkan sebelum menjadi produsen madu abal-abal.

Diakuinya kepada Jawa Pos Radar Jember, ekspansi bisnis madu abal-abal ini menyasar masyarakat lokal Jember hingga luar Jember. Konsumennya paling banyak di luar Jember seperti Bengkulu, Kalimantan, Lombok, Bali, Sumatera, dan Jawa Tengah. Pemasarannya pun dilakukan secara online melalui Facebook. “Yang paling sering itu di Jawa Tengah, ada Jepara, Jogja, Solo,” tuturnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Selama bisnisnya berjalan, Rendy bukannya tak pernah tertimpa kasus. Salah satu konsumen dari luar kota mengetahui jika madunya tidak asli. Alhasil, konsumen tersebut meminta pertanggungjawaban. “Karena tak mau urusan ini berkepanjangan, saya memutuskan untuk mengembalikan uang pembeli. Masalah selesai,” imbuhnya.

Ya, eksistensi produsen madu palsu sudah mulai menjamur di berbagai daerah. Belum lagi distributornya yang memilih menjual secara konvensional. Harga madu yang ditetapkan Rendy pun hampir sama dengan harga madu asli. Sehingga tak sedikit masyarakat yang tertipu.

Di sisi lain, Jawa Pos Radar Jember juga mencoba mengonfirmasi produsen madu asli, Ahmad Habibi. Menurut dia, madu lebah yang dihasilkan dari bunga kopi atau mahoni relatif mengalami kenaikan hingga Rp 200 ribu. Sedangkan untuk madu dari bunga sengon dibanderol dengan harga Rp 160 ribu. “Harganya naik, kalau yang warnanya merah pekat itu nektar dari bunga kopi atau mahoni. Tapi sekarang belum panen,” katanya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Rendi (nama samaran) menurunkan 10 kilogram gula yang baru dibeli di pasar. Gula ini nantinya akan digunakan sebagai bahan pokok untuk membuat madu. Sebanyak 10 kilogram madu dapat diolah menjadi 10-15 botol berukuran satu liter. Jika dijual harganya bisa mencapai Rp 160 ribu hingga Rp 220 ribu. Tekstur madunya kental berwarna kecoklatan dan hitam pekat. Sepintas tak berbeda dengan madu asli.

Inilah yang sudah dilakukan Rendy sejak satu tahun belakangan. Tak tanggung-tanggung, selama masa itu dia bisa membeli satu unit mobil. Kehidupan finansialnya pun membaik jika dibandingkan sebelum menjadi produsen madu abal-abal.

Diakuinya kepada Jawa Pos Radar Jember, ekspansi bisnis madu abal-abal ini menyasar masyarakat lokal Jember hingga luar Jember. Konsumennya paling banyak di luar Jember seperti Bengkulu, Kalimantan, Lombok, Bali, Sumatera, dan Jawa Tengah. Pemasarannya pun dilakukan secara online melalui Facebook. “Yang paling sering itu di Jawa Tengah, ada Jepara, Jogja, Solo,” tuturnya.

Selama bisnisnya berjalan, Rendy bukannya tak pernah tertimpa kasus. Salah satu konsumen dari luar kota mengetahui jika madunya tidak asli. Alhasil, konsumen tersebut meminta pertanggungjawaban. “Karena tak mau urusan ini berkepanjangan, saya memutuskan untuk mengembalikan uang pembeli. Masalah selesai,” imbuhnya.

Ya, eksistensi produsen madu palsu sudah mulai menjamur di berbagai daerah. Belum lagi distributornya yang memilih menjual secara konvensional. Harga madu yang ditetapkan Rendy pun hampir sama dengan harga madu asli. Sehingga tak sedikit masyarakat yang tertipu.

Di sisi lain, Jawa Pos Radar Jember juga mencoba mengonfirmasi produsen madu asli, Ahmad Habibi. Menurut dia, madu lebah yang dihasilkan dari bunga kopi atau mahoni relatif mengalami kenaikan hingga Rp 200 ribu. Sedangkan untuk madu dari bunga sengon dibanderol dengan harga Rp 160 ribu. “Harganya naik, kalau yang warnanya merah pekat itu nektar dari bunga kopi atau mahoni. Tapi sekarang belum panen,” katanya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Rendi (nama samaran) menurunkan 10 kilogram gula yang baru dibeli di pasar. Gula ini nantinya akan digunakan sebagai bahan pokok untuk membuat madu. Sebanyak 10 kilogram madu dapat diolah menjadi 10-15 botol berukuran satu liter. Jika dijual harganya bisa mencapai Rp 160 ribu hingga Rp 220 ribu. Tekstur madunya kental berwarna kecoklatan dan hitam pekat. Sepintas tak berbeda dengan madu asli.

Inilah yang sudah dilakukan Rendy sejak satu tahun belakangan. Tak tanggung-tanggung, selama masa itu dia bisa membeli satu unit mobil. Kehidupan finansialnya pun membaik jika dibandingkan sebelum menjadi produsen madu abal-abal.

Diakuinya kepada Jawa Pos Radar Jember, ekspansi bisnis madu abal-abal ini menyasar masyarakat lokal Jember hingga luar Jember. Konsumennya paling banyak di luar Jember seperti Bengkulu, Kalimantan, Lombok, Bali, Sumatera, dan Jawa Tengah. Pemasarannya pun dilakukan secara online melalui Facebook. “Yang paling sering itu di Jawa Tengah, ada Jepara, Jogja, Solo,” tuturnya.

Selama bisnisnya berjalan, Rendy bukannya tak pernah tertimpa kasus. Salah satu konsumen dari luar kota mengetahui jika madunya tidak asli. Alhasil, konsumen tersebut meminta pertanggungjawaban. “Karena tak mau urusan ini berkepanjangan, saya memutuskan untuk mengembalikan uang pembeli. Masalah selesai,” imbuhnya.

Ya, eksistensi produsen madu palsu sudah mulai menjamur di berbagai daerah. Belum lagi distributornya yang memilih menjual secara konvensional. Harga madu yang ditetapkan Rendy pun hampir sama dengan harga madu asli. Sehingga tak sedikit masyarakat yang tertipu.

Di sisi lain, Jawa Pos Radar Jember juga mencoba mengonfirmasi produsen madu asli, Ahmad Habibi. Menurut dia, madu lebah yang dihasilkan dari bunga kopi atau mahoni relatif mengalami kenaikan hingga Rp 200 ribu. Sedangkan untuk madu dari bunga sengon dibanderol dengan harga Rp 160 ribu. “Harganya naik, kalau yang warnanya merah pekat itu nektar dari bunga kopi atau mahoni. Tapi sekarang belum panen,” katanya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/