alexametrics
23.9 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Berharap pada Investasi Swasta dan Konsumsi Warga

Pertumbuhan ekonomi Jember pada tahun 2020 diprediksi meningkat. Yakni antara 5,17 persen hingga 5,57 persen. Hal ini ditopang oleh konsumsi masyarakat yang masih tinggi dan tumbuhnya pusat perdagangan.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sikap optimistis harus dimiliki oleh masyarakat dalam menatap perekonomian Jember tahun 2020. Sebab, optimisme ini akan melahirkan energi positif yang bisa meningkatkan ekonomi.

Semangat optimistis ini disampaikan Hestu Wibowo, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jember. Menurut dia, pertumbuhan perekonomian di Jember pada tahun 2020 mendatang diprediksi berkisar antara 5,17 persen hingga 5,57 persen.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan tingkat pertumbuhan ekonomi secara nasional. Yakni sebesar 5,05 persen sampai 5,1 persen. “Tetapi masih lebih rendah dari tingkat pertumbuhan ekonomi skala provinsi Jawa Timur,” tuturnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Di Jawa Timur, kata dia, tingkat pertumbuhan ekonominya mencapai 5,64 persen pada semester pertama tahun 2019. Sementara, untuk year on year (YoY) dalam angka 5,72 persen.

Pria yang akrab disapa Hestu ini menambahkan, peningkatan pertumbuhan ekonomi Jember sekarang dipengaruhi oleh beberapa faktor. “Selain bertumbuhnya sektor perdagangan melalui banyaknya pusat perbelanjaan baru di Jember, juga faktor kenaikan Upah Minimum Kabupaten (UMK) Jember,” tuturnya.

Selain itu, disertai bantuan yang diberikan pemerintah, baik secara tunai maupun nontunai, yang mendorong konsumsi masyarakat. Kemudian, karena berkembangnya permukiman baru di Jember.

Kendati demikian, kata dia, ada perubahan penopang perekonomian Jember.  Sektor pertanian justru mengalami perlambatan. “Kabupaten Jember ini mengalami perlambatan pertumbuhan untuk sektor pertanian dibanding sektor lainnya,” jelasnya.

Meskipun, kata dia, sektor pertanian masih mendominasi sekitar 60 persen terhadap perekonomian Jember. “Kita amati pertumbuhan semakin menurun, semoga ini menjadi perhatian pihak terkait agar sektor pertanian menjadi prioritas,” imbuhnya.

Melambatnya pertumbuhan sektor pertanian di Jember disebabkan adanya alih fungsi lahan pertanian. Selain itu, tingkat produktivitasnya juga semakin menurun karena kurangnya sumber daya manusia (SDM) pada sektor pertanian.

Dia menegaskan, pertumbuhan ekonomi Jember 2019 meningkat karena ditopang oleh terjaganya konsumsi masyarakat dan meningkatnya investasi swasta. Terutama pada sektor perdagangan. Sejalan dengan hal tersebut, kinerja ekonomi di sektor perdagangan dan industri pengolahan pun meningkat.

“Melalui berbagai upaya pengendalian inflasi yang dilakukan oleh Bank Indonesia dan seluruh jajaran TPID, kami pun optimistis inflasi tahun 2019 dapat terkendali di kisaran target yang telat ditetapkan,” paparnya.

Di samping itu, ketersediaan uang rupiah di wilayah kerja KPwBI Jember, meliputi Jember, Lumajang, Bondowoso, Situbondo, dan Banyuwangi, cukup tinggi. Terutama pada hari besar Natal dan tahun baru (Nataru) 2020.

Kebutuhan uang rupiah tunai sebesar Rp 1,464 triliun. Nominal itu mengalami kenaikan sekitar delapan persen atau Rp 107 miliar dibanding realisasi tahun 2018 lalu, yang tercatat sebesar Rp 1,356 triliun.

Di sisi lain, perkembangan uang palsu yang beredar di masyarakat sampai dengan bulan November 2019 menurun sekitar sepuluh persen dibandingkan peredarannya tahun lalu. Pada bulan November tahun ini, temuan uang palsu menurun sebanyak 3.179 lembar, dari tahun lalu sebanyak 3.521 lembar.

Dosen Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan (IESP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Jember (Unej) dr Agus Lutfi menambahkan, dirinya tetap optimistis dengan perekonomian Jember. Meskipun ada penurunan setiap tahun, tapi kondisi ekonomi di Jember relatif bagus.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sikap optimistis harus dimiliki oleh masyarakat dalam menatap perekonomian Jember tahun 2020. Sebab, optimisme ini akan melahirkan energi positif yang bisa meningkatkan ekonomi.

Semangat optimistis ini disampaikan Hestu Wibowo, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jember. Menurut dia, pertumbuhan perekonomian di Jember pada tahun 2020 mendatang diprediksi berkisar antara 5,17 persen hingga 5,57 persen.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan tingkat pertumbuhan ekonomi secara nasional. Yakni sebesar 5,05 persen sampai 5,1 persen. “Tetapi masih lebih rendah dari tingkat pertumbuhan ekonomi skala provinsi Jawa Timur,” tuturnya.

Di Jawa Timur, kata dia, tingkat pertumbuhan ekonominya mencapai 5,64 persen pada semester pertama tahun 2019. Sementara, untuk year on year (YoY) dalam angka 5,72 persen.

Pria yang akrab disapa Hestu ini menambahkan, peningkatan pertumbuhan ekonomi Jember sekarang dipengaruhi oleh beberapa faktor. “Selain bertumbuhnya sektor perdagangan melalui banyaknya pusat perbelanjaan baru di Jember, juga faktor kenaikan Upah Minimum Kabupaten (UMK) Jember,” tuturnya.

Selain itu, disertai bantuan yang diberikan pemerintah, baik secara tunai maupun nontunai, yang mendorong konsumsi masyarakat. Kemudian, karena berkembangnya permukiman baru di Jember.

Kendati demikian, kata dia, ada perubahan penopang perekonomian Jember.  Sektor pertanian justru mengalami perlambatan. “Kabupaten Jember ini mengalami perlambatan pertumbuhan untuk sektor pertanian dibanding sektor lainnya,” jelasnya.

Meskipun, kata dia, sektor pertanian masih mendominasi sekitar 60 persen terhadap perekonomian Jember. “Kita amati pertumbuhan semakin menurun, semoga ini menjadi perhatian pihak terkait agar sektor pertanian menjadi prioritas,” imbuhnya.

Melambatnya pertumbuhan sektor pertanian di Jember disebabkan adanya alih fungsi lahan pertanian. Selain itu, tingkat produktivitasnya juga semakin menurun karena kurangnya sumber daya manusia (SDM) pada sektor pertanian.

Dia menegaskan, pertumbuhan ekonomi Jember 2019 meningkat karena ditopang oleh terjaganya konsumsi masyarakat dan meningkatnya investasi swasta. Terutama pada sektor perdagangan. Sejalan dengan hal tersebut, kinerja ekonomi di sektor perdagangan dan industri pengolahan pun meningkat.

“Melalui berbagai upaya pengendalian inflasi yang dilakukan oleh Bank Indonesia dan seluruh jajaran TPID, kami pun optimistis inflasi tahun 2019 dapat terkendali di kisaran target yang telat ditetapkan,” paparnya.

Di samping itu, ketersediaan uang rupiah di wilayah kerja KPwBI Jember, meliputi Jember, Lumajang, Bondowoso, Situbondo, dan Banyuwangi, cukup tinggi. Terutama pada hari besar Natal dan tahun baru (Nataru) 2020.

Kebutuhan uang rupiah tunai sebesar Rp 1,464 triliun. Nominal itu mengalami kenaikan sekitar delapan persen atau Rp 107 miliar dibanding realisasi tahun 2018 lalu, yang tercatat sebesar Rp 1,356 triliun.

Di sisi lain, perkembangan uang palsu yang beredar di masyarakat sampai dengan bulan November 2019 menurun sekitar sepuluh persen dibandingkan peredarannya tahun lalu. Pada bulan November tahun ini, temuan uang palsu menurun sebanyak 3.179 lembar, dari tahun lalu sebanyak 3.521 lembar.

Dosen Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan (IESP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Jember (Unej) dr Agus Lutfi menambahkan, dirinya tetap optimistis dengan perekonomian Jember. Meskipun ada penurunan setiap tahun, tapi kondisi ekonomi di Jember relatif bagus.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sikap optimistis harus dimiliki oleh masyarakat dalam menatap perekonomian Jember tahun 2020. Sebab, optimisme ini akan melahirkan energi positif yang bisa meningkatkan ekonomi.

Semangat optimistis ini disampaikan Hestu Wibowo, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jember. Menurut dia, pertumbuhan perekonomian di Jember pada tahun 2020 mendatang diprediksi berkisar antara 5,17 persen hingga 5,57 persen.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan tingkat pertumbuhan ekonomi secara nasional. Yakni sebesar 5,05 persen sampai 5,1 persen. “Tetapi masih lebih rendah dari tingkat pertumbuhan ekonomi skala provinsi Jawa Timur,” tuturnya.

Di Jawa Timur, kata dia, tingkat pertumbuhan ekonominya mencapai 5,64 persen pada semester pertama tahun 2019. Sementara, untuk year on year (YoY) dalam angka 5,72 persen.

Pria yang akrab disapa Hestu ini menambahkan, peningkatan pertumbuhan ekonomi Jember sekarang dipengaruhi oleh beberapa faktor. “Selain bertumbuhnya sektor perdagangan melalui banyaknya pusat perbelanjaan baru di Jember, juga faktor kenaikan Upah Minimum Kabupaten (UMK) Jember,” tuturnya.

Selain itu, disertai bantuan yang diberikan pemerintah, baik secara tunai maupun nontunai, yang mendorong konsumsi masyarakat. Kemudian, karena berkembangnya permukiman baru di Jember.

Kendati demikian, kata dia, ada perubahan penopang perekonomian Jember.  Sektor pertanian justru mengalami perlambatan. “Kabupaten Jember ini mengalami perlambatan pertumbuhan untuk sektor pertanian dibanding sektor lainnya,” jelasnya.

Meskipun, kata dia, sektor pertanian masih mendominasi sekitar 60 persen terhadap perekonomian Jember. “Kita amati pertumbuhan semakin menurun, semoga ini menjadi perhatian pihak terkait agar sektor pertanian menjadi prioritas,” imbuhnya.

Melambatnya pertumbuhan sektor pertanian di Jember disebabkan adanya alih fungsi lahan pertanian. Selain itu, tingkat produktivitasnya juga semakin menurun karena kurangnya sumber daya manusia (SDM) pada sektor pertanian.

Dia menegaskan, pertumbuhan ekonomi Jember 2019 meningkat karena ditopang oleh terjaganya konsumsi masyarakat dan meningkatnya investasi swasta. Terutama pada sektor perdagangan. Sejalan dengan hal tersebut, kinerja ekonomi di sektor perdagangan dan industri pengolahan pun meningkat.

“Melalui berbagai upaya pengendalian inflasi yang dilakukan oleh Bank Indonesia dan seluruh jajaran TPID, kami pun optimistis inflasi tahun 2019 dapat terkendali di kisaran target yang telat ditetapkan,” paparnya.

Di samping itu, ketersediaan uang rupiah di wilayah kerja KPwBI Jember, meliputi Jember, Lumajang, Bondowoso, Situbondo, dan Banyuwangi, cukup tinggi. Terutama pada hari besar Natal dan tahun baru (Nataru) 2020.

Kebutuhan uang rupiah tunai sebesar Rp 1,464 triliun. Nominal itu mengalami kenaikan sekitar delapan persen atau Rp 107 miliar dibanding realisasi tahun 2018 lalu, yang tercatat sebesar Rp 1,356 triliun.

Di sisi lain, perkembangan uang palsu yang beredar di masyarakat sampai dengan bulan November 2019 menurun sekitar sepuluh persen dibandingkan peredarannya tahun lalu. Pada bulan November tahun ini, temuan uang palsu menurun sebanyak 3.179 lembar, dari tahun lalu sebanyak 3.521 lembar.

Dosen Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan (IESP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Jember (Unej) dr Agus Lutfi menambahkan, dirinya tetap optimistis dengan perekonomian Jember. Meskipun ada penurunan setiap tahun, tapi kondisi ekonomi di Jember relatif bagus.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/