23.7 C
Jember
Friday, 3 February 2023

Jalan Panjang Lahirnya Pasar Kita di Jember

Ketergantungan finansial perempuan kepada suami membuat kreativitasnya sering terbatasi. Bahkan, kaum hawa banyak yang rela mendapatkan kekerasan. Demi menguatkan ekonomi perempuan, GPP Jember membentuk Pasar Kita dan memanfaatkan penjualan melalui kecanggihan teknologi.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Beberapa tahun silam, ada perempuan yang datang ke kantor Gerakan Peduli Perempuan (GPP) Jember. Dia meminta pendampingan hukum untuk menunaikan niat yang dibencinya, yakni menggugat cerai sang suami karena menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Beberapa kali perempuan itu balik kanan mengurungkan niatnya. Lima tahun berlalu, dia datang untuk mengakhiri pernikahannya, karena tak sanggup menghadapi suaminya yang kasar.

BACA JUGA : Bukan Kanvas dan Kuas, Pria di Jember Ini Melukis di Kayu Gunakan Solder

Bolak-baliknya seorang perempuan itu membuat rasa penasaran Sri Sulistiyani semakin besar. Perempuan yang menjadi Direktur GPP Jember itu pun sangat ingin mendengarkan cerita ibu empat anak yang tak disebutkan namanya itu. Rasa ingin tahu kian besar karena perempuan tersebut berkali-kali datang, namun balik kanan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sulis menyebut, ada benang merah yang dapat diambil dari kisah pilu yang dialami ibu empat anak itu. Yakni, dia tetap bertahan hidup meski mendapat kekerasan dari sang suami. Ada kekhawatiran yang menghalangi ibu tersebut, yakni tidak mampu secara ekonomi, sehingga takut tidak bisa menghidupi diri dan anak-anaknya setelah berpisah.

Namun, setelah lima tahun berlalu, anak sulungnya bisa bekerja dan menjadi tulang punggung. Saat kondisi ekonomi membaik karena anaknya ada yang bisa bekerja, maka dia pun percaya diri dan mampu akan bisa hidup tanpa dukungan finansial suami yang kasar itu.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Beberapa tahun silam, ada perempuan yang datang ke kantor Gerakan Peduli Perempuan (GPP) Jember. Dia meminta pendampingan hukum untuk menunaikan niat yang dibencinya, yakni menggugat cerai sang suami karena menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Beberapa kali perempuan itu balik kanan mengurungkan niatnya. Lima tahun berlalu, dia datang untuk mengakhiri pernikahannya, karena tak sanggup menghadapi suaminya yang kasar.

BACA JUGA : Bukan Kanvas dan Kuas, Pria di Jember Ini Melukis di Kayu Gunakan Solder

Bolak-baliknya seorang perempuan itu membuat rasa penasaran Sri Sulistiyani semakin besar. Perempuan yang menjadi Direktur GPP Jember itu pun sangat ingin mendengarkan cerita ibu empat anak yang tak disebutkan namanya itu. Rasa ingin tahu kian besar karena perempuan tersebut berkali-kali datang, namun balik kanan.

Sulis menyebut, ada benang merah yang dapat diambil dari kisah pilu yang dialami ibu empat anak itu. Yakni, dia tetap bertahan hidup meski mendapat kekerasan dari sang suami. Ada kekhawatiran yang menghalangi ibu tersebut, yakni tidak mampu secara ekonomi, sehingga takut tidak bisa menghidupi diri dan anak-anaknya setelah berpisah.

Namun, setelah lima tahun berlalu, anak sulungnya bisa bekerja dan menjadi tulang punggung. Saat kondisi ekonomi membaik karena anaknya ada yang bisa bekerja, maka dia pun percaya diri dan mampu akan bisa hidup tanpa dukungan finansial suami yang kasar itu.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Beberapa tahun silam, ada perempuan yang datang ke kantor Gerakan Peduli Perempuan (GPP) Jember. Dia meminta pendampingan hukum untuk menunaikan niat yang dibencinya, yakni menggugat cerai sang suami karena menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Beberapa kali perempuan itu balik kanan mengurungkan niatnya. Lima tahun berlalu, dia datang untuk mengakhiri pernikahannya, karena tak sanggup menghadapi suaminya yang kasar.

BACA JUGA : Bukan Kanvas dan Kuas, Pria di Jember Ini Melukis di Kayu Gunakan Solder

Bolak-baliknya seorang perempuan itu membuat rasa penasaran Sri Sulistiyani semakin besar. Perempuan yang menjadi Direktur GPP Jember itu pun sangat ingin mendengarkan cerita ibu empat anak yang tak disebutkan namanya itu. Rasa ingin tahu kian besar karena perempuan tersebut berkali-kali datang, namun balik kanan.

Sulis menyebut, ada benang merah yang dapat diambil dari kisah pilu yang dialami ibu empat anak itu. Yakni, dia tetap bertahan hidup meski mendapat kekerasan dari sang suami. Ada kekhawatiran yang menghalangi ibu tersebut, yakni tidak mampu secara ekonomi, sehingga takut tidak bisa menghidupi diri dan anak-anaknya setelah berpisah.

Namun, setelah lima tahun berlalu, anak sulungnya bisa bekerja dan menjadi tulang punggung. Saat kondisi ekonomi membaik karena anaknya ada yang bisa bekerja, maka dia pun percaya diri dan mampu akan bisa hidup tanpa dukungan finansial suami yang kasar itu.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca