alexametrics
22.3 C
Jember
Friday, 19 August 2022

Perusahaan Otobus: Dua Musim Lebaran Tak Panen Penumpang

PPKM Sebabkan PO Kembang Kempis

Mobile_AP_Rectangle 1

RAMBIPUJI, RADARJEMBER.ID – Di tengah masa pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), sejumlah perusahaan otobus (PO) ikut merasakan dampaknya. Kebanyakan dari mereka masih merasa kesulitan mendapatkan penumpang, ongkos bahan bakar yang sulit ditutupi, hingga operasional yang hanya berjalan separuhnya.

Kondisi ini diakui merata oleh para PO. Utamanya para kondektur dan sopir bus. Pantauan Jawa Pos Radar Jember di Terminal Tawangalun kemarin (29/7) menunjukkan, beberapa bus masih harus antre cukup lama untuk bisa mendapatkan penumpang. Kalaupun sudah ada yang jalan, penumpangnya bisa dihitung jari. “Kalau jumlah penumpangnya sedikit, kan sulit menutupi ongkos bahan bakar,” keluh M Husen, sopir bus patas trayek Jember-Surabaya.

Sopir asal Pasuruan yang sudah belasan tahun menaklukkan aspal jalanan ini mengakui betul kesusahan yang menimpanya. Bahkan dia meyakini, seluruh awak PO juga merasakan dampaknya. “Tapi bagaimana lagi, sopir atau kondektur seperti kami ini serba repot. Narik sepi penumpang, nggak narik tak ada pemasukan,” timpalnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Selain sopir patas, bus ekonomi dengan jarak sedang maupun menengah juga bernasib sama. Bahkan, mereka juga mengaku, kala sedang dalam perjalanan harus berbagi penumpang dengan kawanan bus lainnya. “Oper penumpang istilahnya, karena penumpang sedikit. Tidak imbang dengan ongkos bahan bakar, jadi dioper,” tambah Ghofur, sopir bus ekonomi trayek Jember-Denpasar.

- Advertisement -

RAMBIPUJI, RADARJEMBER.ID – Di tengah masa pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), sejumlah perusahaan otobus (PO) ikut merasakan dampaknya. Kebanyakan dari mereka masih merasa kesulitan mendapatkan penumpang, ongkos bahan bakar yang sulit ditutupi, hingga operasional yang hanya berjalan separuhnya.

Kondisi ini diakui merata oleh para PO. Utamanya para kondektur dan sopir bus. Pantauan Jawa Pos Radar Jember di Terminal Tawangalun kemarin (29/7) menunjukkan, beberapa bus masih harus antre cukup lama untuk bisa mendapatkan penumpang. Kalaupun sudah ada yang jalan, penumpangnya bisa dihitung jari. “Kalau jumlah penumpangnya sedikit, kan sulit menutupi ongkos bahan bakar,” keluh M Husen, sopir bus patas trayek Jember-Surabaya.

Sopir asal Pasuruan yang sudah belasan tahun menaklukkan aspal jalanan ini mengakui betul kesusahan yang menimpanya. Bahkan dia meyakini, seluruh awak PO juga merasakan dampaknya. “Tapi bagaimana lagi, sopir atau kondektur seperti kami ini serba repot. Narik sepi penumpang, nggak narik tak ada pemasukan,” timpalnya.

Selain sopir patas, bus ekonomi dengan jarak sedang maupun menengah juga bernasib sama. Bahkan, mereka juga mengaku, kala sedang dalam perjalanan harus berbagi penumpang dengan kawanan bus lainnya. “Oper penumpang istilahnya, karena penumpang sedikit. Tidak imbang dengan ongkos bahan bakar, jadi dioper,” tambah Ghofur, sopir bus ekonomi trayek Jember-Denpasar.

RAMBIPUJI, RADARJEMBER.ID – Di tengah masa pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), sejumlah perusahaan otobus (PO) ikut merasakan dampaknya. Kebanyakan dari mereka masih merasa kesulitan mendapatkan penumpang, ongkos bahan bakar yang sulit ditutupi, hingga operasional yang hanya berjalan separuhnya.

Kondisi ini diakui merata oleh para PO. Utamanya para kondektur dan sopir bus. Pantauan Jawa Pos Radar Jember di Terminal Tawangalun kemarin (29/7) menunjukkan, beberapa bus masih harus antre cukup lama untuk bisa mendapatkan penumpang. Kalaupun sudah ada yang jalan, penumpangnya bisa dihitung jari. “Kalau jumlah penumpangnya sedikit, kan sulit menutupi ongkos bahan bakar,” keluh M Husen, sopir bus patas trayek Jember-Surabaya.

Sopir asal Pasuruan yang sudah belasan tahun menaklukkan aspal jalanan ini mengakui betul kesusahan yang menimpanya. Bahkan dia meyakini, seluruh awak PO juga merasakan dampaknya. “Tapi bagaimana lagi, sopir atau kondektur seperti kami ini serba repot. Narik sepi penumpang, nggak narik tak ada pemasukan,” timpalnya.

Selain sopir patas, bus ekonomi dengan jarak sedang maupun menengah juga bernasib sama. Bahkan, mereka juga mengaku, kala sedang dalam perjalanan harus berbagi penumpang dengan kawanan bus lainnya. “Oper penumpang istilahnya, karena penumpang sedikit. Tidak imbang dengan ongkos bahan bakar, jadi dioper,” tambah Ghofur, sopir bus ekonomi trayek Jember-Denpasar.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/