alexametrics
26.8 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Okupansi Meningkat, Penyambutan Dimaksimalkan

Layanan Jasa Hotel dan Restoran

Mobile_AP_Rectangle 1

KEPATIHAN, Radar Jember – Setelah pemerintah melonggarkan aktivitas masyarakat, laju perekonomian mulai tumbuh kembali. Sebelumnya, akibat pembatasan aktivitas masyarakat yang dilakukan pemerintah, seperti work from home (WFH), physical distancing, serta pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) yang sampai berlevel-level melumpuhkan berbagai sektor perekonomian. Termasuk bisnis jasa seperti restoran dan hotel.

Baca Juga : 5 Manfaat Aplikasi Presensi Bagi Perusahaan dan Karyawan

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jember Arif Joko Sutejo mengungkap, tingkat penghunian kamar (TPK) merupakan salah satu indikator yang dapat mencerminkan tingkat produktivitas usaha akomodasi. Jika TPK besar dan cenderung mendekati angka 100 persen, maka dapat diartikan bahwa sebagian besar kamar akomodasi laku terjual. “Ini merupakan salah satu indikator tumbuhnya tingkat pengguna jasa akomodasi hotel setara bintang. Setelah kemarin terdampak pandemi Covid-19,” jelasnya saat ditemui di kantornya, di Jalan Cenderawasih Nomor 20, Kelurahan Slawu, Kecamatan Patrang.

Mobile_AP_Rectangle 2

Arif mengatakan, TPK hotel setara bintang pada Februari kemarin mencapai 43,12 persen. Dengan kata lain, setiap 100 kamar yang disediakan oleh seluruh hotel setara bintang di Jember tiap malamnya, 43–44 kamar antaranya telah terjual. “TPK pada bulan Februari ini mengalami kenaikan sebesar 2,71 persen dibandingkan dengan bulan Januari sebesar 40,41 persen,” paparnya.

Sementara, dibandingkan pada tahun 2021, TPK pada bulan yang sama tahun 2022 cenderung mengalami penurunan sebanyak 3,59 persen. Menurutnya, kondisi naik atau turunnya jumlah tersebut bergantung pada momentum yang melatarbelakanginya. Dia mencontohkan, seperti pelaksanaan Jember Fashion Carnaval (JFC) dan kegiatan kemasyarakatan lainnya menjadi indikator penentu ramainya pengguna akomodasi hotel tersebut. “Tapi, kalau dibandingkan dengan tahun yang sama 2021, sebanyak 46,71. Apalagi tahun 2020 55,39. Ada momentum nggak pada bulan Februari? Bulan ini paling rendah selama 3 tahun terakhir yang pada bulan yang sama, karena memang pada bulan-bulan kemarin masih transisi pelonggaran peraturan dari pemerintah,” ungkapnya.

- Advertisement -

KEPATIHAN, Radar Jember – Setelah pemerintah melonggarkan aktivitas masyarakat, laju perekonomian mulai tumbuh kembali. Sebelumnya, akibat pembatasan aktivitas masyarakat yang dilakukan pemerintah, seperti work from home (WFH), physical distancing, serta pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) yang sampai berlevel-level melumpuhkan berbagai sektor perekonomian. Termasuk bisnis jasa seperti restoran dan hotel.

Baca Juga : 5 Manfaat Aplikasi Presensi Bagi Perusahaan dan Karyawan

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jember Arif Joko Sutejo mengungkap, tingkat penghunian kamar (TPK) merupakan salah satu indikator yang dapat mencerminkan tingkat produktivitas usaha akomodasi. Jika TPK besar dan cenderung mendekati angka 100 persen, maka dapat diartikan bahwa sebagian besar kamar akomodasi laku terjual. “Ini merupakan salah satu indikator tumbuhnya tingkat pengguna jasa akomodasi hotel setara bintang. Setelah kemarin terdampak pandemi Covid-19,” jelasnya saat ditemui di kantornya, di Jalan Cenderawasih Nomor 20, Kelurahan Slawu, Kecamatan Patrang.

Arif mengatakan, TPK hotel setara bintang pada Februari kemarin mencapai 43,12 persen. Dengan kata lain, setiap 100 kamar yang disediakan oleh seluruh hotel setara bintang di Jember tiap malamnya, 43–44 kamar antaranya telah terjual. “TPK pada bulan Februari ini mengalami kenaikan sebesar 2,71 persen dibandingkan dengan bulan Januari sebesar 40,41 persen,” paparnya.

Sementara, dibandingkan pada tahun 2021, TPK pada bulan yang sama tahun 2022 cenderung mengalami penurunan sebanyak 3,59 persen. Menurutnya, kondisi naik atau turunnya jumlah tersebut bergantung pada momentum yang melatarbelakanginya. Dia mencontohkan, seperti pelaksanaan Jember Fashion Carnaval (JFC) dan kegiatan kemasyarakatan lainnya menjadi indikator penentu ramainya pengguna akomodasi hotel tersebut. “Tapi, kalau dibandingkan dengan tahun yang sama 2021, sebanyak 46,71. Apalagi tahun 2020 55,39. Ada momentum nggak pada bulan Februari? Bulan ini paling rendah selama 3 tahun terakhir yang pada bulan yang sama, karena memang pada bulan-bulan kemarin masih transisi pelonggaran peraturan dari pemerintah,” ungkapnya.

KEPATIHAN, Radar Jember – Setelah pemerintah melonggarkan aktivitas masyarakat, laju perekonomian mulai tumbuh kembali. Sebelumnya, akibat pembatasan aktivitas masyarakat yang dilakukan pemerintah, seperti work from home (WFH), physical distancing, serta pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) yang sampai berlevel-level melumpuhkan berbagai sektor perekonomian. Termasuk bisnis jasa seperti restoran dan hotel.

Baca Juga : 5 Manfaat Aplikasi Presensi Bagi Perusahaan dan Karyawan

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jember Arif Joko Sutejo mengungkap, tingkat penghunian kamar (TPK) merupakan salah satu indikator yang dapat mencerminkan tingkat produktivitas usaha akomodasi. Jika TPK besar dan cenderung mendekati angka 100 persen, maka dapat diartikan bahwa sebagian besar kamar akomodasi laku terjual. “Ini merupakan salah satu indikator tumbuhnya tingkat pengguna jasa akomodasi hotel setara bintang. Setelah kemarin terdampak pandemi Covid-19,” jelasnya saat ditemui di kantornya, di Jalan Cenderawasih Nomor 20, Kelurahan Slawu, Kecamatan Patrang.

Arif mengatakan, TPK hotel setara bintang pada Februari kemarin mencapai 43,12 persen. Dengan kata lain, setiap 100 kamar yang disediakan oleh seluruh hotel setara bintang di Jember tiap malamnya, 43–44 kamar antaranya telah terjual. “TPK pada bulan Februari ini mengalami kenaikan sebesar 2,71 persen dibandingkan dengan bulan Januari sebesar 40,41 persen,” paparnya.

Sementara, dibandingkan pada tahun 2021, TPK pada bulan yang sama tahun 2022 cenderung mengalami penurunan sebanyak 3,59 persen. Menurutnya, kondisi naik atau turunnya jumlah tersebut bergantung pada momentum yang melatarbelakanginya. Dia mencontohkan, seperti pelaksanaan Jember Fashion Carnaval (JFC) dan kegiatan kemasyarakatan lainnya menjadi indikator penentu ramainya pengguna akomodasi hotel tersebut. “Tapi, kalau dibandingkan dengan tahun yang sama 2021, sebanyak 46,71. Apalagi tahun 2020 55,39. Ada momentum nggak pada bulan Februari? Bulan ini paling rendah selama 3 tahun terakhir yang pada bulan yang sama, karena memang pada bulan-bulan kemarin masih transisi pelonggaran peraturan dari pemerintah,” ungkapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/