alexametrics
22.7 C
Jember
Sunday, 14 August 2022

Harga Daging Ayam Terus Merosot

Mobile_AP_Rectangle 1

RADAR JEMBER.ID – Harga daging ayam potong di Kabupaten Jember anjlok hingga 50 persen, seperti di banyak kabupaten-kota lain. Hal itu bukan saja terjadi di kalangan pedagang atau pengecer, tetapi juga di kalangan peternak.

Penelusuran wartawan Radarjember.id, turunnya harga ayam di Jember terjadi sejak awal Juni 2019. Pada 1 Juni 2019 lalu, harga daging ayam eceran per kilogram sebesar Rp 34.500. Harga tersebut terus merosot hingga beberapa hari kemudian. Tanggal 10 misalnya, harga daging ayam turun menjadi Rp 31 ribu.

Anjloknya harga daging ayam di pasaran masih terus terjadi. Pada 15 Juni, harga per kilogram ayam potong Rp 21 ribu. Selanjutnya di tanggal 24 harganya terus turun menjadi Rp 17 ribu dan harga terendah terjadi pada 25 Juni lalu yang hanya Rp 16.500 saja. Sementara itu, untuk dua hari kemarin, di tanggal 26 dan 27, harganya naik sedikit menjadi Rp 17 ribu.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sugeng, pedagang ayam potong di Pasar Gebang, Kecamatan Patrang, mengatakan, anjloknya harga eceran tersebut mengikuti harga pengambilan pada peternak. Menurutnya, apabila harga dari peternak turun, maka harga eceran ikut turun. Sebaliknya, jika harganya naik, maka pedagang juga menyesuaikan penjualannya. “Mahal murahnya harga itu kami ikut peternak,” ucapnya.

Sugeng mengungkapkan, selama tiga hari terakhir, dirinya mengambil daging ayam potong per kilogram dari peternak seharga Rp 11 ribu. Dengan harga itu, maka harga penjualan eceran pun ikut turun. “Kemarin harganya Rp 11 ribu per kilonya,” ucap Sugeng.

Dikatakannya, harga Rp 11 ribu dari peternak, membuat sejumlah peternak mengeluh. Sebab, harga tersebut dinilai rendah dan membuat peternak rugi. “Katanya tidak sesuai dengan modal atau biaya produksi,” jelas Sugeng.

Sebagai seorang pedagang, dirinya berharap agar harga-harga bisa normal. Jika terlalu murah seperti sekarang, maka akan merugikan peternak. Sebaliknya, jika harganya mahal, bisa membuat konsumen mengeluh.

Tak hanya pedagang, peternak ayam juga mengeluhkan kondisi ini. “Ini hampir terjadi setiap tahun. Hanya saja tahun ini viral karena tersebar luas melalui medsos,” kata Huri, salah seorang peternak sekaligus pengepul ayam asal desa Dukuh Dempok Kecamatan Wuluhan.

- Advertisement -

RADAR JEMBER.ID – Harga daging ayam potong di Kabupaten Jember anjlok hingga 50 persen, seperti di banyak kabupaten-kota lain. Hal itu bukan saja terjadi di kalangan pedagang atau pengecer, tetapi juga di kalangan peternak.

Penelusuran wartawan Radarjember.id, turunnya harga ayam di Jember terjadi sejak awal Juni 2019. Pada 1 Juni 2019 lalu, harga daging ayam eceran per kilogram sebesar Rp 34.500. Harga tersebut terus merosot hingga beberapa hari kemudian. Tanggal 10 misalnya, harga daging ayam turun menjadi Rp 31 ribu.

Anjloknya harga daging ayam di pasaran masih terus terjadi. Pada 15 Juni, harga per kilogram ayam potong Rp 21 ribu. Selanjutnya di tanggal 24 harganya terus turun menjadi Rp 17 ribu dan harga terendah terjadi pada 25 Juni lalu yang hanya Rp 16.500 saja. Sementara itu, untuk dua hari kemarin, di tanggal 26 dan 27, harganya naik sedikit menjadi Rp 17 ribu.

Sugeng, pedagang ayam potong di Pasar Gebang, Kecamatan Patrang, mengatakan, anjloknya harga eceran tersebut mengikuti harga pengambilan pada peternak. Menurutnya, apabila harga dari peternak turun, maka harga eceran ikut turun. Sebaliknya, jika harganya naik, maka pedagang juga menyesuaikan penjualannya. “Mahal murahnya harga itu kami ikut peternak,” ucapnya.

Sugeng mengungkapkan, selama tiga hari terakhir, dirinya mengambil daging ayam potong per kilogram dari peternak seharga Rp 11 ribu. Dengan harga itu, maka harga penjualan eceran pun ikut turun. “Kemarin harganya Rp 11 ribu per kilonya,” ucap Sugeng.

Dikatakannya, harga Rp 11 ribu dari peternak, membuat sejumlah peternak mengeluh. Sebab, harga tersebut dinilai rendah dan membuat peternak rugi. “Katanya tidak sesuai dengan modal atau biaya produksi,” jelas Sugeng.

Sebagai seorang pedagang, dirinya berharap agar harga-harga bisa normal. Jika terlalu murah seperti sekarang, maka akan merugikan peternak. Sebaliknya, jika harganya mahal, bisa membuat konsumen mengeluh.

Tak hanya pedagang, peternak ayam juga mengeluhkan kondisi ini. “Ini hampir terjadi setiap tahun. Hanya saja tahun ini viral karena tersebar luas melalui medsos,” kata Huri, salah seorang peternak sekaligus pengepul ayam asal desa Dukuh Dempok Kecamatan Wuluhan.

RADAR JEMBER.ID – Harga daging ayam potong di Kabupaten Jember anjlok hingga 50 persen, seperti di banyak kabupaten-kota lain. Hal itu bukan saja terjadi di kalangan pedagang atau pengecer, tetapi juga di kalangan peternak.

Penelusuran wartawan Radarjember.id, turunnya harga ayam di Jember terjadi sejak awal Juni 2019. Pada 1 Juni 2019 lalu, harga daging ayam eceran per kilogram sebesar Rp 34.500. Harga tersebut terus merosot hingga beberapa hari kemudian. Tanggal 10 misalnya, harga daging ayam turun menjadi Rp 31 ribu.

Anjloknya harga daging ayam di pasaran masih terus terjadi. Pada 15 Juni, harga per kilogram ayam potong Rp 21 ribu. Selanjutnya di tanggal 24 harganya terus turun menjadi Rp 17 ribu dan harga terendah terjadi pada 25 Juni lalu yang hanya Rp 16.500 saja. Sementara itu, untuk dua hari kemarin, di tanggal 26 dan 27, harganya naik sedikit menjadi Rp 17 ribu.

Sugeng, pedagang ayam potong di Pasar Gebang, Kecamatan Patrang, mengatakan, anjloknya harga eceran tersebut mengikuti harga pengambilan pada peternak. Menurutnya, apabila harga dari peternak turun, maka harga eceran ikut turun. Sebaliknya, jika harganya naik, maka pedagang juga menyesuaikan penjualannya. “Mahal murahnya harga itu kami ikut peternak,” ucapnya.

Sugeng mengungkapkan, selama tiga hari terakhir, dirinya mengambil daging ayam potong per kilogram dari peternak seharga Rp 11 ribu. Dengan harga itu, maka harga penjualan eceran pun ikut turun. “Kemarin harganya Rp 11 ribu per kilonya,” ucap Sugeng.

Dikatakannya, harga Rp 11 ribu dari peternak, membuat sejumlah peternak mengeluh. Sebab, harga tersebut dinilai rendah dan membuat peternak rugi. “Katanya tidak sesuai dengan modal atau biaya produksi,” jelas Sugeng.

Sebagai seorang pedagang, dirinya berharap agar harga-harga bisa normal. Jika terlalu murah seperti sekarang, maka akan merugikan peternak. Sebaliknya, jika harganya mahal, bisa membuat konsumen mengeluh.

Tak hanya pedagang, peternak ayam juga mengeluhkan kondisi ini. “Ini hampir terjadi setiap tahun. Hanya saja tahun ini viral karena tersebar luas melalui medsos,” kata Huri, salah seorang peternak sekaligus pengepul ayam asal desa Dukuh Dempok Kecamatan Wuluhan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/