22.9 C
Jember
Wednesday, 29 March 2023

Diyah Galuh Novitasari, Mantan PMI Australia yang Inspiratif

Pekerja migran Indonesia (PMI) asal Jember jumlahnya banyak. Sepulangnya ke tanah kelahiran, tidak otomatis bisa mandiri. Diyah Galuh Novitasari kiranya cukup menginspirasi karena bisa menjadi bos salon kecantikan setelah pulang dari Australia.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu, salon kecantikan di pinggir Jalan Kalimantan, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, tampak ramai. Maklum, akhir-akhir ini banyak perempuan yang ingin memanjakan dirinya sebelum datangnya Lebaran. Di salon tersebut, sejumlah orang juga terlihat ada yang antre, sementara beberapa karyawan sibuk memberikan layanan.

Baca Juga : Airlangga: Pelanggar Larangan Ekspor CPO dan Turunannya Kena Sanksi Tegas

Di sudut ruangan salon tersebut, Diyah Galuh Novitasari, pemilik salon kecantikan, menyapa kedatangan Jawa Pos Radar Jember. Dia tampak ramah meski tak menawarkan minuman, karena tengah puasa. Diyah saat itu mulai menceritakan perjalanan hidupnya sedari dulu hingga dirinya punya salon kecantikan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Perempuan muda berusia 27 tahun itu pun mengaku, dia membuka bisnis salon kecantikan berawal dari hobi. Ya, dia memang gemar menghabiskan waktu untuk perawatan di spa kecantikan. Perempuan ini pun memiliki tekad untuk membuka usaha sendiri, yaitu gerai perawatan tubuh dan kecantikan.

Diyah yang saat ini memiliki sebelas karyawan bukan sekadar sulapan. Dulu, dia berjuang dari nol. Dia nekat menjadi pekerja migran Indonesia (PMI) beberapa tahun lalu ke Negeri Kanguru, Australia. Dia sana, dia menjadi cleaning service atau dengan bahasa kita tukang bersih-bersih.

“Saya niat cari kerja di luar negeri sambil belajar. Tidak ada niatan kerja (menjadi karyawan, Red) di Indonesia. Prinsip saya di Indonesia itu bisa punya usaha sendiri dan tidak jadi karyawan,” jelasnya.

Diyah pun melanjutkan ceritanya. Saat di Australia, dia menjadi tukang bersih-bersih di salah satu salon ternama. Saat itulah tekadnya semakin bulat untuk mendirikan salon kecantikan di Indonesia. Bertahun-tahun dia mengumpulkan modal dan selama itu pula dia belajar berbagai teknik yang berkaitan dengan salon, perawatan tubuh, dan urusan kecantikan. “Awalnya dari dasar-dasarnya dulu, teknik yang benar dan melayani costumer,” ujarnya.

Berkat keinginan yang kuat, Diyah yang merasa cukup ilmu selanjutnya balik kandang alias pulang ke Indonesia, tepatnya di Bali, untuk membuka salon. Dengan sistem joint partner untuk membuka salon, kini dirinya mampu membuka ruko sendiri.

Kala itu, persiapan membutuhkan modal sekitar Rp 500 juta. Itu termasuk biaya sewa tempat hingga renovasi. Namun, ini jadi pembelajaran, sekaligus tantangan untuk memulai usaha dengan biaya operasional yang minim. “Kami harus benar-benar memperhitungkan pengeluaran dan benar-benar perlu memotong yang tidak penting,” tuturnya.

Diyah yang juga asli Jember pada akhirnya bisa membuka ruko salon sendiri, tepatnya di Jalan Kalimantan, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari. Pada saat buka, dia dibantu enam karyawan, dan sekarang ada sebelas karyawan yang berkerja bersamanya.

Tak hanya itu, Diyah nantinya berencana untuk melebarkan sayapnya dengan membuka salon khusus pria. “Sekarang ini saya masih berfokus untuk salon wanita. Namun, tidak menutup kemungkinan nanti juga ada untuk para pria,” ujarnya.

Dia juga menjelaskan, kunci sukses usahanya tersebut dengan mengambil untung yang tidak banyak dan mampu menerima semua masukan dari para pelanggan merupakan hal utama bagi pengusaha. “Prinsip saya yang penting kualitas dan kepuasan pelanggan,” tutupnya. Dia pun berpesan bagi semua PMI ataupun yang dulu disebut tenaga kerja Indonesia (TKI) agar benar-benar memanfaatkan waktu dan tenaga sebaik mungkin, sehingga saat pulang bisa berdikari. (c2/nur)

 

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu, salon kecantikan di pinggir Jalan Kalimantan, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, tampak ramai. Maklum, akhir-akhir ini banyak perempuan yang ingin memanjakan dirinya sebelum datangnya Lebaran. Di salon tersebut, sejumlah orang juga terlihat ada yang antre, sementara beberapa karyawan sibuk memberikan layanan.

Baca Juga : Airlangga: Pelanggar Larangan Ekspor CPO dan Turunannya Kena Sanksi Tegas

Di sudut ruangan salon tersebut, Diyah Galuh Novitasari, pemilik salon kecantikan, menyapa kedatangan Jawa Pos Radar Jember. Dia tampak ramah meski tak menawarkan minuman, karena tengah puasa. Diyah saat itu mulai menceritakan perjalanan hidupnya sedari dulu hingga dirinya punya salon kecantikan.

Perempuan muda berusia 27 tahun itu pun mengaku, dia membuka bisnis salon kecantikan berawal dari hobi. Ya, dia memang gemar menghabiskan waktu untuk perawatan di spa kecantikan. Perempuan ini pun memiliki tekad untuk membuka usaha sendiri, yaitu gerai perawatan tubuh dan kecantikan.

Diyah yang saat ini memiliki sebelas karyawan bukan sekadar sulapan. Dulu, dia berjuang dari nol. Dia nekat menjadi pekerja migran Indonesia (PMI) beberapa tahun lalu ke Negeri Kanguru, Australia. Dia sana, dia menjadi cleaning service atau dengan bahasa kita tukang bersih-bersih.

“Saya niat cari kerja di luar negeri sambil belajar. Tidak ada niatan kerja (menjadi karyawan, Red) di Indonesia. Prinsip saya di Indonesia itu bisa punya usaha sendiri dan tidak jadi karyawan,” jelasnya.

Diyah pun melanjutkan ceritanya. Saat di Australia, dia menjadi tukang bersih-bersih di salah satu salon ternama. Saat itulah tekadnya semakin bulat untuk mendirikan salon kecantikan di Indonesia. Bertahun-tahun dia mengumpulkan modal dan selama itu pula dia belajar berbagai teknik yang berkaitan dengan salon, perawatan tubuh, dan urusan kecantikan. “Awalnya dari dasar-dasarnya dulu, teknik yang benar dan melayani costumer,” ujarnya.

Berkat keinginan yang kuat, Diyah yang merasa cukup ilmu selanjutnya balik kandang alias pulang ke Indonesia, tepatnya di Bali, untuk membuka salon. Dengan sistem joint partner untuk membuka salon, kini dirinya mampu membuka ruko sendiri.

Kala itu, persiapan membutuhkan modal sekitar Rp 500 juta. Itu termasuk biaya sewa tempat hingga renovasi. Namun, ini jadi pembelajaran, sekaligus tantangan untuk memulai usaha dengan biaya operasional yang minim. “Kami harus benar-benar memperhitungkan pengeluaran dan benar-benar perlu memotong yang tidak penting,” tuturnya.

Diyah yang juga asli Jember pada akhirnya bisa membuka ruko salon sendiri, tepatnya di Jalan Kalimantan, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari. Pada saat buka, dia dibantu enam karyawan, dan sekarang ada sebelas karyawan yang berkerja bersamanya.

Tak hanya itu, Diyah nantinya berencana untuk melebarkan sayapnya dengan membuka salon khusus pria. “Sekarang ini saya masih berfokus untuk salon wanita. Namun, tidak menutup kemungkinan nanti juga ada untuk para pria,” ujarnya.

Dia juga menjelaskan, kunci sukses usahanya tersebut dengan mengambil untung yang tidak banyak dan mampu menerima semua masukan dari para pelanggan merupakan hal utama bagi pengusaha. “Prinsip saya yang penting kualitas dan kepuasan pelanggan,” tutupnya. Dia pun berpesan bagi semua PMI ataupun yang dulu disebut tenaga kerja Indonesia (TKI) agar benar-benar memanfaatkan waktu dan tenaga sebaik mungkin, sehingga saat pulang bisa berdikari. (c2/nur)

 

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu, salon kecantikan di pinggir Jalan Kalimantan, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, tampak ramai. Maklum, akhir-akhir ini banyak perempuan yang ingin memanjakan dirinya sebelum datangnya Lebaran. Di salon tersebut, sejumlah orang juga terlihat ada yang antre, sementara beberapa karyawan sibuk memberikan layanan.

Baca Juga : Airlangga: Pelanggar Larangan Ekspor CPO dan Turunannya Kena Sanksi Tegas

Di sudut ruangan salon tersebut, Diyah Galuh Novitasari, pemilik salon kecantikan, menyapa kedatangan Jawa Pos Radar Jember. Dia tampak ramah meski tak menawarkan minuman, karena tengah puasa. Diyah saat itu mulai menceritakan perjalanan hidupnya sedari dulu hingga dirinya punya salon kecantikan.

Perempuan muda berusia 27 tahun itu pun mengaku, dia membuka bisnis salon kecantikan berawal dari hobi. Ya, dia memang gemar menghabiskan waktu untuk perawatan di spa kecantikan. Perempuan ini pun memiliki tekad untuk membuka usaha sendiri, yaitu gerai perawatan tubuh dan kecantikan.

Diyah yang saat ini memiliki sebelas karyawan bukan sekadar sulapan. Dulu, dia berjuang dari nol. Dia nekat menjadi pekerja migran Indonesia (PMI) beberapa tahun lalu ke Negeri Kanguru, Australia. Dia sana, dia menjadi cleaning service atau dengan bahasa kita tukang bersih-bersih.

“Saya niat cari kerja di luar negeri sambil belajar. Tidak ada niatan kerja (menjadi karyawan, Red) di Indonesia. Prinsip saya di Indonesia itu bisa punya usaha sendiri dan tidak jadi karyawan,” jelasnya.

Diyah pun melanjutkan ceritanya. Saat di Australia, dia menjadi tukang bersih-bersih di salah satu salon ternama. Saat itulah tekadnya semakin bulat untuk mendirikan salon kecantikan di Indonesia. Bertahun-tahun dia mengumpulkan modal dan selama itu pula dia belajar berbagai teknik yang berkaitan dengan salon, perawatan tubuh, dan urusan kecantikan. “Awalnya dari dasar-dasarnya dulu, teknik yang benar dan melayani costumer,” ujarnya.

Berkat keinginan yang kuat, Diyah yang merasa cukup ilmu selanjutnya balik kandang alias pulang ke Indonesia, tepatnya di Bali, untuk membuka salon. Dengan sistem joint partner untuk membuka salon, kini dirinya mampu membuka ruko sendiri.

Kala itu, persiapan membutuhkan modal sekitar Rp 500 juta. Itu termasuk biaya sewa tempat hingga renovasi. Namun, ini jadi pembelajaran, sekaligus tantangan untuk memulai usaha dengan biaya operasional yang minim. “Kami harus benar-benar memperhitungkan pengeluaran dan benar-benar perlu memotong yang tidak penting,” tuturnya.

Diyah yang juga asli Jember pada akhirnya bisa membuka ruko salon sendiri, tepatnya di Jalan Kalimantan, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari. Pada saat buka, dia dibantu enam karyawan, dan sekarang ada sebelas karyawan yang berkerja bersamanya.

Tak hanya itu, Diyah nantinya berencana untuk melebarkan sayapnya dengan membuka salon khusus pria. “Sekarang ini saya masih berfokus untuk salon wanita. Namun, tidak menutup kemungkinan nanti juga ada untuk para pria,” ujarnya.

Dia juga menjelaskan, kunci sukses usahanya tersebut dengan mengambil untung yang tidak banyak dan mampu menerima semua masukan dari para pelanggan merupakan hal utama bagi pengusaha. “Prinsip saya yang penting kualitas dan kepuasan pelanggan,” tutupnya. Dia pun berpesan bagi semua PMI ataupun yang dulu disebut tenaga kerja Indonesia (TKI) agar benar-benar memanfaatkan waktu dan tenaga sebaik mungkin, sehingga saat pulang bisa berdikari. (c2/nur)

 

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca