alexametrics
31.8 C
Jember
Tuesday, 16 August 2022

Gigih Door to Door

Mobile_AP_Rectangle 1

ARJASA, RADARJEMBER.ID– Siang itu, suasana salah satu rumah di Dusun Bendelan, Desa/Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember, tampak sepi. Sang pemilik rumah, Hari Nurdi, terlihat sedang mengemasi keripik pisang ke dalam sebuah wadah plastik. Tangan pria paruh baya itu cukup cekatan memasukkan satu per satu makanan kering itu ke dalam kemasan. Ia juga sangat teliti. Sebab, tak ada satu pun keripik yang jatuh atau tercecer ke lantai.

Kala itu, wajah Hari Nurdi tampak semringah. Lantaran baru saja Bupati Jember Hendy Siswanto berkunjung ke rumahnya. Ia tak menyangka, orang nomor satu di Kabupaten Jember itu bakal mampir ke kediamannya untuk mendengarkan keluh kesah tentang nasib pedagang kecil seperti dirinya yang terdampak pandemi Covid-19. “Sudah hampir dua tahun ini penjualan dagangan saya melempem,” ungkap lelaki 58 tahun ini kepada Jawa Pos Radar Jember.

Menurutnya, pundi-pundi uang yang dia dapat sebelumnya berasal dari reseller. Ada beberapa orang yang memesan keripiknya, lalu menjual kembali ke konsumen. Namun, kini banyak reseller yang kabur selama pandemi. “Soalnya banyak yang takut. Khawatir kalau makanan ini bisa menularkan virus,” ujar warga RT 1 RW 2 Dusun Bendelan, Desa/Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember, tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 2

Hal itu karena kemasan keripik dalam plastik itu kerap berpindah tangan hingga sampai ke konsumen. Dan tak ada yang bisa menjamin kebersihannya. Karena itu, banyak yang memilih untuk berhenti berlangganan keripik pisang produksinya. Namun, dalam kesulitan itu, Hari Nurdi tak menyerah. Semangatnya justru membumbung tinggi. Dia selalu memikirkan solusi agar usahanya itu terus berjalan dan bisa menghasilkan duit.

- Advertisement -

ARJASA, RADARJEMBER.ID– Siang itu, suasana salah satu rumah di Dusun Bendelan, Desa/Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember, tampak sepi. Sang pemilik rumah, Hari Nurdi, terlihat sedang mengemasi keripik pisang ke dalam sebuah wadah plastik. Tangan pria paruh baya itu cukup cekatan memasukkan satu per satu makanan kering itu ke dalam kemasan. Ia juga sangat teliti. Sebab, tak ada satu pun keripik yang jatuh atau tercecer ke lantai.

Kala itu, wajah Hari Nurdi tampak semringah. Lantaran baru saja Bupati Jember Hendy Siswanto berkunjung ke rumahnya. Ia tak menyangka, orang nomor satu di Kabupaten Jember itu bakal mampir ke kediamannya untuk mendengarkan keluh kesah tentang nasib pedagang kecil seperti dirinya yang terdampak pandemi Covid-19. “Sudah hampir dua tahun ini penjualan dagangan saya melempem,” ungkap lelaki 58 tahun ini kepada Jawa Pos Radar Jember.

Menurutnya, pundi-pundi uang yang dia dapat sebelumnya berasal dari reseller. Ada beberapa orang yang memesan keripiknya, lalu menjual kembali ke konsumen. Namun, kini banyak reseller yang kabur selama pandemi. “Soalnya banyak yang takut. Khawatir kalau makanan ini bisa menularkan virus,” ujar warga RT 1 RW 2 Dusun Bendelan, Desa/Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember, tersebut.

Hal itu karena kemasan keripik dalam plastik itu kerap berpindah tangan hingga sampai ke konsumen. Dan tak ada yang bisa menjamin kebersihannya. Karena itu, banyak yang memilih untuk berhenti berlangganan keripik pisang produksinya. Namun, dalam kesulitan itu, Hari Nurdi tak menyerah. Semangatnya justru membumbung tinggi. Dia selalu memikirkan solusi agar usahanya itu terus berjalan dan bisa menghasilkan duit.

ARJASA, RADARJEMBER.ID– Siang itu, suasana salah satu rumah di Dusun Bendelan, Desa/Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember, tampak sepi. Sang pemilik rumah, Hari Nurdi, terlihat sedang mengemasi keripik pisang ke dalam sebuah wadah plastik. Tangan pria paruh baya itu cukup cekatan memasukkan satu per satu makanan kering itu ke dalam kemasan. Ia juga sangat teliti. Sebab, tak ada satu pun keripik yang jatuh atau tercecer ke lantai.

Kala itu, wajah Hari Nurdi tampak semringah. Lantaran baru saja Bupati Jember Hendy Siswanto berkunjung ke rumahnya. Ia tak menyangka, orang nomor satu di Kabupaten Jember itu bakal mampir ke kediamannya untuk mendengarkan keluh kesah tentang nasib pedagang kecil seperti dirinya yang terdampak pandemi Covid-19. “Sudah hampir dua tahun ini penjualan dagangan saya melempem,” ungkap lelaki 58 tahun ini kepada Jawa Pos Radar Jember.

Menurutnya, pundi-pundi uang yang dia dapat sebelumnya berasal dari reseller. Ada beberapa orang yang memesan keripiknya, lalu menjual kembali ke konsumen. Namun, kini banyak reseller yang kabur selama pandemi. “Soalnya banyak yang takut. Khawatir kalau makanan ini bisa menularkan virus,” ujar warga RT 1 RW 2 Dusun Bendelan, Desa/Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember, tersebut.

Hal itu karena kemasan keripik dalam plastik itu kerap berpindah tangan hingga sampai ke konsumen. Dan tak ada yang bisa menjamin kebersihannya. Karena itu, banyak yang memilih untuk berhenti berlangganan keripik pisang produksinya. Namun, dalam kesulitan itu, Hari Nurdi tak menyerah. Semangatnya justru membumbung tinggi. Dia selalu memikirkan solusi agar usahanya itu terus berjalan dan bisa menghasilkan duit.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/