alexametrics
27.1 C
Jember
Wednesday, 10 August 2022

PMK Bikin Peternak Sapi Penuh Kekhawatiran

Penyakit mulut dan kuku (PMK) perlahan memukul pasaran sapi di masa jual yang seharusnya tinggi. Bahkan, menjelang Idul Adha ini peternak sapi tidak lagi semringah seperti Hari Raya Kurban sebelum-sebelumnya.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Rasa khawatir itu menghilangkan harapan peternak sapi untuk mendapat upah dari keringat memelihara sapi sejak kecil. Apalagi biaya yang dikeluarkan demi perawatan cukup besar. Situasi ini dialami oleh Syaiful Haq, peternak sapi asal Dukuhmencek, Kecamatan Sukorambi. Tahun ini, sapi peliharaannya menjumpai dilema penyakit mulut dan kuku (PMK) yang mengancam harga pasar, sekalipun sapinya belum terkena penyakit tersebut.

BACA JUGA : Harga Sapi Jatuh Jelang Idul Adha

Syaiful tidak bisa berbuat banyak untuk menyiasati pasaran yang anjloknya minta ampun tersebut. Sebab, masyarakat sekitarnya sudah pada ketakutan untuk mengonsumsi daging sapi. Bahkan setiap acara selamatan, warga di tempat Syaiful tinggal memilih daging ayam sebagai hidangan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Perubahan konsumen tersebut bukan pertanda baik bagi Syaiful, selaku peternak sapi. Dia yang merawat sapi sedari kecil tidak bisa memperkirakan harga jual di tengah situasi seperti sekarang ini. Dalam hatinya masih bertanya-tanya, mengapa penyakit ini datang di masa produktif sapi. “Sampai sekarang saya masih heran, kenapa ini datang dan merebak di musim menjelang Idul Adha,” katanya.

Padahal, Hari Raya Idul Adha identik dengan pemotongan daging sapi dan kambing. Dengan kata lain, Idul Adha sebelumnya, Syaiful merasa seperti hari raya bagi peternak sapi. Sebab, dirinya bisa merasakan untung dari modal yang dikeluarkan untuk perawatan.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Rasa khawatir itu menghilangkan harapan peternak sapi untuk mendapat upah dari keringat memelihara sapi sejak kecil. Apalagi biaya yang dikeluarkan demi perawatan cukup besar. Situasi ini dialami oleh Syaiful Haq, peternak sapi asal Dukuhmencek, Kecamatan Sukorambi. Tahun ini, sapi peliharaannya menjumpai dilema penyakit mulut dan kuku (PMK) yang mengancam harga pasar, sekalipun sapinya belum terkena penyakit tersebut.

BACA JUGA : Harga Sapi Jatuh Jelang Idul Adha

Syaiful tidak bisa berbuat banyak untuk menyiasati pasaran yang anjloknya minta ampun tersebut. Sebab, masyarakat sekitarnya sudah pada ketakutan untuk mengonsumsi daging sapi. Bahkan setiap acara selamatan, warga di tempat Syaiful tinggal memilih daging ayam sebagai hidangan.

Perubahan konsumen tersebut bukan pertanda baik bagi Syaiful, selaku peternak sapi. Dia yang merawat sapi sedari kecil tidak bisa memperkirakan harga jual di tengah situasi seperti sekarang ini. Dalam hatinya masih bertanya-tanya, mengapa penyakit ini datang di masa produktif sapi. “Sampai sekarang saya masih heran, kenapa ini datang dan merebak di musim menjelang Idul Adha,” katanya.

Padahal, Hari Raya Idul Adha identik dengan pemotongan daging sapi dan kambing. Dengan kata lain, Idul Adha sebelumnya, Syaiful merasa seperti hari raya bagi peternak sapi. Sebab, dirinya bisa merasakan untung dari modal yang dikeluarkan untuk perawatan.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Rasa khawatir itu menghilangkan harapan peternak sapi untuk mendapat upah dari keringat memelihara sapi sejak kecil. Apalagi biaya yang dikeluarkan demi perawatan cukup besar. Situasi ini dialami oleh Syaiful Haq, peternak sapi asal Dukuhmencek, Kecamatan Sukorambi. Tahun ini, sapi peliharaannya menjumpai dilema penyakit mulut dan kuku (PMK) yang mengancam harga pasar, sekalipun sapinya belum terkena penyakit tersebut.

BACA JUGA : Harga Sapi Jatuh Jelang Idul Adha

Syaiful tidak bisa berbuat banyak untuk menyiasati pasaran yang anjloknya minta ampun tersebut. Sebab, masyarakat sekitarnya sudah pada ketakutan untuk mengonsumsi daging sapi. Bahkan setiap acara selamatan, warga di tempat Syaiful tinggal memilih daging ayam sebagai hidangan.

Perubahan konsumen tersebut bukan pertanda baik bagi Syaiful, selaku peternak sapi. Dia yang merawat sapi sedari kecil tidak bisa memperkirakan harga jual di tengah situasi seperti sekarang ini. Dalam hatinya masih bertanya-tanya, mengapa penyakit ini datang di masa produktif sapi. “Sampai sekarang saya masih heran, kenapa ini datang dan merebak di musim menjelang Idul Adha,” katanya.

Padahal, Hari Raya Idul Adha identik dengan pemotongan daging sapi dan kambing. Dengan kata lain, Idul Adha sebelumnya, Syaiful merasa seperti hari raya bagi peternak sapi. Sebab, dirinya bisa merasakan untung dari modal yang dikeluarkan untuk perawatan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/