alexametrics
31.8 C
Jember
Tuesday, 16 August 2022

Harga Sapi Jatuh Jelang Idul Adha

Tidak seperti biasanya, harga sapi tidak melambung menjelang Idul Adha. Ini terjadi karena ada kasus penyakit mulut dan kuku (PMK). Pekan kemarin, sudah tembus 6.000-an kasus yang suspek di Jember. Bahkan ada yang mati. Hal ini bisa terus bertambah jika tidak segera ditangani serius.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Merebaknya wabah PMK ini sebenarnya sudah sedemikian masif menyasar hewan ternak, khususnya sapi. Ini terjadi hampir di semua desa/kecamatan di Jember. Kasusnya terus bertambah dari hari ke hari. Padahal, dampak wabah itu tidak hanya soal kematian hewan ternak, namun juga berpengaruh pada perekonomian di masyarakat. Hal ini pun mulai berdampak pada usaha-usaha kecil yang juga memanfaatkan daging sapi ini.

BACA JUGA : Produksi Susu Terjun Bebas Akibat PMK

Tidak berhenti di situ, menjelang pelaksanaan Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Kurban, sejatinya menjadi kesempatan masyarakat panen raya mendulang cuan dari ternak sapi mereka. Namun, harapan itu sepertinya sirna lantaran harga sapi yang justru turun.

Mobile_AP_Rectangle 2

Salah satu faktor anjloknya harga sapi disampaikan Khotib, warga asal Kecamatan Rambipuji. “Kemarin, sapi milik saudara saya minta dijual seharga Rp 20 juta. Namun, pedagang sapi rata-rata berani nawar di bawah Rp 10 juta,” aku Khotib.

Anjloknya harga sapi itu tak lain disebabkan merebaknya wabah PMK. Namun demikian, masyarakat tidak bisa berbuat banyak, memaksakan kehendak mereka agar ternaknya laku dengan harga normal. “Dari beberapa kenalan saya juga banyak yang sambat karena harga sapi sudah rusak. Bahkan ada yang sapinya mati sebelum dijual,” tambah dia.

Apa yang dialami Khotib beserta keluarganya itu baru contoh kecil dari ribuan kasus PMK yang sudah merebak di Jember. Di lapangan, tidak tertutup kemungkinan lebih parah lagi.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Merebaknya wabah PMK ini sebenarnya sudah sedemikian masif menyasar hewan ternak, khususnya sapi. Ini terjadi hampir di semua desa/kecamatan di Jember. Kasusnya terus bertambah dari hari ke hari. Padahal, dampak wabah itu tidak hanya soal kematian hewan ternak, namun juga berpengaruh pada perekonomian di masyarakat. Hal ini pun mulai berdampak pada usaha-usaha kecil yang juga memanfaatkan daging sapi ini.

BACA JUGA : Produksi Susu Terjun Bebas Akibat PMK

Tidak berhenti di situ, menjelang pelaksanaan Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Kurban, sejatinya menjadi kesempatan masyarakat panen raya mendulang cuan dari ternak sapi mereka. Namun, harapan itu sepertinya sirna lantaran harga sapi yang justru turun.

Salah satu faktor anjloknya harga sapi disampaikan Khotib, warga asal Kecamatan Rambipuji. “Kemarin, sapi milik saudara saya minta dijual seharga Rp 20 juta. Namun, pedagang sapi rata-rata berani nawar di bawah Rp 10 juta,” aku Khotib.

Anjloknya harga sapi itu tak lain disebabkan merebaknya wabah PMK. Namun demikian, masyarakat tidak bisa berbuat banyak, memaksakan kehendak mereka agar ternaknya laku dengan harga normal. “Dari beberapa kenalan saya juga banyak yang sambat karena harga sapi sudah rusak. Bahkan ada yang sapinya mati sebelum dijual,” tambah dia.

Apa yang dialami Khotib beserta keluarganya itu baru contoh kecil dari ribuan kasus PMK yang sudah merebak di Jember. Di lapangan, tidak tertutup kemungkinan lebih parah lagi.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Merebaknya wabah PMK ini sebenarnya sudah sedemikian masif menyasar hewan ternak, khususnya sapi. Ini terjadi hampir di semua desa/kecamatan di Jember. Kasusnya terus bertambah dari hari ke hari. Padahal, dampak wabah itu tidak hanya soal kematian hewan ternak, namun juga berpengaruh pada perekonomian di masyarakat. Hal ini pun mulai berdampak pada usaha-usaha kecil yang juga memanfaatkan daging sapi ini.

BACA JUGA : Produksi Susu Terjun Bebas Akibat PMK

Tidak berhenti di situ, menjelang pelaksanaan Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Kurban, sejatinya menjadi kesempatan masyarakat panen raya mendulang cuan dari ternak sapi mereka. Namun, harapan itu sepertinya sirna lantaran harga sapi yang justru turun.

Salah satu faktor anjloknya harga sapi disampaikan Khotib, warga asal Kecamatan Rambipuji. “Kemarin, sapi milik saudara saya minta dijual seharga Rp 20 juta. Namun, pedagang sapi rata-rata berani nawar di bawah Rp 10 juta,” aku Khotib.

Anjloknya harga sapi itu tak lain disebabkan merebaknya wabah PMK. Namun demikian, masyarakat tidak bisa berbuat banyak, memaksakan kehendak mereka agar ternaknya laku dengan harga normal. “Dari beberapa kenalan saya juga banyak yang sambat karena harga sapi sudah rusak. Bahkan ada yang sapinya mati sebelum dijual,” tambah dia.

Apa yang dialami Khotib beserta keluarganya itu baru contoh kecil dari ribuan kasus PMK yang sudah merebak di Jember. Di lapangan, tidak tertutup kemungkinan lebih parah lagi.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/