Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Siapa yang Diuntungkan dan Dirugikan Saat Rupiah Melemah?

R
TUMPUKAN UANG : Uang rupiah. ( ilustrasi)
TUMPUKAN UANG : Uang rupiah. ( ilustrasi)

Advertisement

RADAR JEMBER – Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi menguntungkan eksportir, namun merugikan pengusaha yang bergantung pada bahan baku impor. 

Dampaknya berbeda-beda, bergantung pada sumber pendapatan, biaya produksi, dan kebutuhan transaksi valuta asing setiap perusahaan.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI), rupiah berada di level Rp18.139 per dolar AS pada Selasa (27/10/2026). 

Advertisement

Posisi tersebut melemah 1,47 persen dibandingkan akhir September 2026 yang tercatat Rp17.877 per dolar AS.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai pelemahan rupiah dapat meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar internasional.

“Kalau buat ekspor menambah daya saing,” kata Airlangga di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Selasa (27/10/2026).

Advertisement

Pelemahan rupiah dapat menguntungkan eksportir yang menerima pembayaran dalam dolar AS. 

Ketika pendapatan tersebut ditukar ke rupiah, nilai yang diterima bisa lebih besar dibandingkan saat rupiah menguat, dengan asumsi jumlah dolar yang diterima tetap.

Namun, keuntungan itu tidak otomatis dirasakan seluruh eksportir. 

Perusahaan yang menggunakan bahan baku impor harus mengeluarkan lebih banyak rupiah untuk membeli barang dengan harga dolar yang sama. 

Advertisement

Artikel Terkait

Rupiah Tertekan hingga Rp18.135 per Dolar AS, Ini Tiga Faktor yang Jadi Pemicu

Rupiah Tertekan hingga Rp18.135 per Dolar AS, Ini Tiga Faktor yang Jadi Pemicu

Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Tekanan tersebut dinilai tidak hanya dipicu kondisi global, tetapi juga dipengaruhi persoalan fiskal dan meningkatnya risiko investasi di dalam neg

MSCI Usulkan Indonesia Turun Kelas Standalone Market, Dua Tingkat di Bawah Status Saat Ini

MSCI Usulkan Indonesia Turun Kelas Standalone Market, Dua Tingkat di Bawah Status Saat Ini

MSCI pada Kamis (15/10) membuka konsultasi atas usulan penurunan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market, kategori yang saat ini tidak dihuni satupun negara Asia Pasifik. MSCI menilai

Vietnam Melesat 9,95 Persen di Kuartal III 2026, Indonesia Masih Tunggu data

Vietnam Melesat 9,95 Persen di Kuartal III 2026, Indonesia Masih Tunggu data

ekonomi Vietnam tancap gas. Kantor Statistik Nasional Vietnam melaporkan produk domestik bruto (PDB) negara itu naik 9,95 persen year-on-year (yoy) pada kuartal III 2026, naik dari 8,81 persen di kuartal sebelumnya dan m

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer