alexametrics
27.7 C
Jember
Sunday, 3 July 2022

Ini Sosok yang Bantu Petani Kopi Mengemas Bubuk Kopi

Mobile_AP_Rectangle 1

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – PANDEMI Covid-19 memukul sendi-sendi perekonomian warga di Kabupaten Jember dan Indonesia. Bukan saja yang tinggal di kota, tetapi juga merangsek hingga ke pelosok desa. Situasi yang demikian justru menjadi peluang bagi Triyono Bambang Irawan untuk memulai usaha kemasan bubuk kopi murni.

Alasannya sederhana. Triyono menyebut, saat pandemi menghantam dan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) diberlakukan, otomatis berdampak pada turunnya daya beli masyarakat di semua lini. Penjualan kopi di lapak pedagang sepi dan tentunya berdampak pada petani. “Kalau di hilir seperti itu, petani juga sulit menjual. Nah, saya usaha niat membantu petani dengan membeli dan memasarkan kopi,” paparnya.

Triyono Bambang Irawan

Kopi dari petani yang dibeli, selanjutnya diolah menjadi bubuk kopi murni. Ada kopi robusta murni dan ada robusta-arabika murni. Dia mengklaim, kopi yang dikemas kualitasnya nomor satu, tetapi dijual dengan harga menengah ke bawah. “Jadi, ini bisa membantu memasarkan kopi dari petani dan bisa menambah usaha di masa pandemi,” ulas pria yang tinggal di KMP Jalan Kalimantan, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pengemasan kopi bubuk murni dengan berat 200 gram tersebut sengaja dilakukan, mengingat pada masa pandemi masih jarang orang ngopi di warung-warung. Sementara, pencinta kopi pastinya akan tetap minum kopi setiap hari. “Tujuh persen dari hasil, kami sedekahkan,” papar pria dua anak itu.

Dikatakannya, kopi dengan merek An-Nur itu mengandalkan hakikat cita rasa kopi. Artinya, kopi tersebut memiliki rasa yang khas dari kopi unggul yang ada di Jember. “Jadi, betul-betul orisinal dan beda dengan pabrikan,” ungkapnya.

- Advertisement -

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – PANDEMI Covid-19 memukul sendi-sendi perekonomian warga di Kabupaten Jember dan Indonesia. Bukan saja yang tinggal di kota, tetapi juga merangsek hingga ke pelosok desa. Situasi yang demikian justru menjadi peluang bagi Triyono Bambang Irawan untuk memulai usaha kemasan bubuk kopi murni.

Alasannya sederhana. Triyono menyebut, saat pandemi menghantam dan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) diberlakukan, otomatis berdampak pada turunnya daya beli masyarakat di semua lini. Penjualan kopi di lapak pedagang sepi dan tentunya berdampak pada petani. “Kalau di hilir seperti itu, petani juga sulit menjual. Nah, saya usaha niat membantu petani dengan membeli dan memasarkan kopi,” paparnya.

Triyono Bambang Irawan

Kopi dari petani yang dibeli, selanjutnya diolah menjadi bubuk kopi murni. Ada kopi robusta murni dan ada robusta-arabika murni. Dia mengklaim, kopi yang dikemas kualitasnya nomor satu, tetapi dijual dengan harga menengah ke bawah. “Jadi, ini bisa membantu memasarkan kopi dari petani dan bisa menambah usaha di masa pandemi,” ulas pria yang tinggal di KMP Jalan Kalimantan, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, tersebut.

Pengemasan kopi bubuk murni dengan berat 200 gram tersebut sengaja dilakukan, mengingat pada masa pandemi masih jarang orang ngopi di warung-warung. Sementara, pencinta kopi pastinya akan tetap minum kopi setiap hari. “Tujuh persen dari hasil, kami sedekahkan,” papar pria dua anak itu.

Dikatakannya, kopi dengan merek An-Nur itu mengandalkan hakikat cita rasa kopi. Artinya, kopi tersebut memiliki rasa yang khas dari kopi unggul yang ada di Jember. “Jadi, betul-betul orisinal dan beda dengan pabrikan,” ungkapnya.

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – PANDEMI Covid-19 memukul sendi-sendi perekonomian warga di Kabupaten Jember dan Indonesia. Bukan saja yang tinggal di kota, tetapi juga merangsek hingga ke pelosok desa. Situasi yang demikian justru menjadi peluang bagi Triyono Bambang Irawan untuk memulai usaha kemasan bubuk kopi murni.

Alasannya sederhana. Triyono menyebut, saat pandemi menghantam dan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) diberlakukan, otomatis berdampak pada turunnya daya beli masyarakat di semua lini. Penjualan kopi di lapak pedagang sepi dan tentunya berdampak pada petani. “Kalau di hilir seperti itu, petani juga sulit menjual. Nah, saya usaha niat membantu petani dengan membeli dan memasarkan kopi,” paparnya.

Triyono Bambang Irawan

Kopi dari petani yang dibeli, selanjutnya diolah menjadi bubuk kopi murni. Ada kopi robusta murni dan ada robusta-arabika murni. Dia mengklaim, kopi yang dikemas kualitasnya nomor satu, tetapi dijual dengan harga menengah ke bawah. “Jadi, ini bisa membantu memasarkan kopi dari petani dan bisa menambah usaha di masa pandemi,” ulas pria yang tinggal di KMP Jalan Kalimantan, Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, tersebut.

Pengemasan kopi bubuk murni dengan berat 200 gram tersebut sengaja dilakukan, mengingat pada masa pandemi masih jarang orang ngopi di warung-warung. Sementara, pencinta kopi pastinya akan tetap minum kopi setiap hari. “Tujuh persen dari hasil, kami sedekahkan,” papar pria dua anak itu.

Dikatakannya, kopi dengan merek An-Nur itu mengandalkan hakikat cita rasa kopi. Artinya, kopi tersebut memiliki rasa yang khas dari kopi unggul yang ada di Jember. “Jadi, betul-betul orisinal dan beda dengan pabrikan,” ungkapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/