alexametrics
28.4 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Lincah Layani Pembeli Meski Memiliki Satu Kaki

Mobile_AP_Rectangle 1

RADARJEMBER.ID -Terlahir memiliki keterbatasan tubuh, tidak membuat pria kelahiran 10 Juli 2001 itu merasa malu dan minder. Dia tidak mau menggantungkan hidup kepada orang lain.

Itulah prinsip hidup anak keempat dari pasangan Hadi Maryono dan Lutfiati.
“Saya jualan mie ayam ini sejak SD di depan RS DKT Jember. Saat itu sekadar membantu orangtua. Jualan mulai pukul 17.00 sampai pukul 23.00 WIB,” ungkap Wahyu.

Dari kebiasaan menemani orangtua berjualan, kini pemuda beralamatkan di Jalan Ciliwung, Kelurahan Jember Lor, Kecamatan Patrang, kini mencoba berjualan mie ayam di pusat kota Jember. Tepatnya di depan Pendapa Wahya Wibawa Graha.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Sudah dua bulan ini saya berjualan di Alun-alun. Pindah dari depan RS DKT ternyata pembelinya lebih ramai. Apalagi di malam Minggu,”bjelasnya.

- Advertisement -

RADARJEMBER.ID -Terlahir memiliki keterbatasan tubuh, tidak membuat pria kelahiran 10 Juli 2001 itu merasa malu dan minder. Dia tidak mau menggantungkan hidup kepada orang lain.

Itulah prinsip hidup anak keempat dari pasangan Hadi Maryono dan Lutfiati.
“Saya jualan mie ayam ini sejak SD di depan RS DKT Jember. Saat itu sekadar membantu orangtua. Jualan mulai pukul 17.00 sampai pukul 23.00 WIB,” ungkap Wahyu.

Dari kebiasaan menemani orangtua berjualan, kini pemuda beralamatkan di Jalan Ciliwung, Kelurahan Jember Lor, Kecamatan Patrang, kini mencoba berjualan mie ayam di pusat kota Jember. Tepatnya di depan Pendapa Wahya Wibawa Graha.

“Sudah dua bulan ini saya berjualan di Alun-alun. Pindah dari depan RS DKT ternyata pembelinya lebih ramai. Apalagi di malam Minggu,”bjelasnya.

RADARJEMBER.ID -Terlahir memiliki keterbatasan tubuh, tidak membuat pria kelahiran 10 Juli 2001 itu merasa malu dan minder. Dia tidak mau menggantungkan hidup kepada orang lain.

Itulah prinsip hidup anak keempat dari pasangan Hadi Maryono dan Lutfiati.
“Saya jualan mie ayam ini sejak SD di depan RS DKT Jember. Saat itu sekadar membantu orangtua. Jualan mulai pukul 17.00 sampai pukul 23.00 WIB,” ungkap Wahyu.

Dari kebiasaan menemani orangtua berjualan, kini pemuda beralamatkan di Jalan Ciliwung, Kelurahan Jember Lor, Kecamatan Patrang, kini mencoba berjualan mie ayam di pusat kota Jember. Tepatnya di depan Pendapa Wahya Wibawa Graha.

“Sudah dua bulan ini saya berjualan di Alun-alun. Pindah dari depan RS DKT ternyata pembelinya lebih ramai. Apalagi di malam Minggu,”bjelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/