alexametrics
28.6 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Jangan Ulang Preseden Penolakan Alsintan

Mobile_AP_Rectangle 1

Sebenarnya, dia kembali menegaskan, keberadaan alsintan bagi petani jelas dibutuhkan. Sebab, selama ini banyak petani menggarap lahan mereka secara manual. Kalaupun ada yang menggunakan alat atau mesin, jumlahnya masih sedikit.

Terpisah, Ketua Paguyuban Petani asal Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, Suroso, menyatakan, alsintan tak hanya memengaruhi hasil produksi pertanian, tapi juga biaya tanam hingga panen. Sebab, dengan terbatasnya alsintan yang tersedia, biaya produksi semakin besar. Dia mencontohkan petani di daerahnya sendiri, Desa Sumberejo. “Di sekitar persawahan Rowogebang di Desa Sumberejo ini cukup luas, sementara ketersediaan alsintan masih terbatas,” katanya.

Kalaupun ada, lanjut dia, tidak semua petani memiliki. Bahkan, petani yang tergabung dalam kelompok tani atau gapoktan kondisinya juga sama. “Tidak semua kelompok tani punya alat pertanian. Yang ada selama ini petani masih menyewa ke perorangan,” imbuhnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Selama ini, pihaknya juga kerap menerima keluhan petani di sekitar desanya. Rata-rata mereka memang mengeluhkan biaya operasional pengolahan sawah mereka yang terus mengalami peningkatan. Mulai dari kelangkaan pupuk subsidi, sampai biaya sewa alat pertanian yang lebih mahal.

Ia juga menyayangkan, bantuan alsintan tahun lalu itu ditolak oleh Pemkab Jember. Padahal, jika pemerintah bisa memfasilitasi penyaluran bantuan alsintan tersebut, hal itu dinilainya bisa membantu petani karena ongkos operasionalnya bakal lebih hemat. “Jelas bisa lebih irit kalau alatnya disediakan pemerintah,” pungkasnya.

 

Jurnalis : Dwi Siswanto/Maulana
Fotografer : Dwi Siswanto
Redaktur : Mahrus Sholih

- Advertisement -

Sebenarnya, dia kembali menegaskan, keberadaan alsintan bagi petani jelas dibutuhkan. Sebab, selama ini banyak petani menggarap lahan mereka secara manual. Kalaupun ada yang menggunakan alat atau mesin, jumlahnya masih sedikit.

Terpisah, Ketua Paguyuban Petani asal Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, Suroso, menyatakan, alsintan tak hanya memengaruhi hasil produksi pertanian, tapi juga biaya tanam hingga panen. Sebab, dengan terbatasnya alsintan yang tersedia, biaya produksi semakin besar. Dia mencontohkan petani di daerahnya sendiri, Desa Sumberejo. “Di sekitar persawahan Rowogebang di Desa Sumberejo ini cukup luas, sementara ketersediaan alsintan masih terbatas,” katanya.

Kalaupun ada, lanjut dia, tidak semua petani memiliki. Bahkan, petani yang tergabung dalam kelompok tani atau gapoktan kondisinya juga sama. “Tidak semua kelompok tani punya alat pertanian. Yang ada selama ini petani masih menyewa ke perorangan,” imbuhnya.

Selama ini, pihaknya juga kerap menerima keluhan petani di sekitar desanya. Rata-rata mereka memang mengeluhkan biaya operasional pengolahan sawah mereka yang terus mengalami peningkatan. Mulai dari kelangkaan pupuk subsidi, sampai biaya sewa alat pertanian yang lebih mahal.

Ia juga menyayangkan, bantuan alsintan tahun lalu itu ditolak oleh Pemkab Jember. Padahal, jika pemerintah bisa memfasilitasi penyaluran bantuan alsintan tersebut, hal itu dinilainya bisa membantu petani karena ongkos operasionalnya bakal lebih hemat. “Jelas bisa lebih irit kalau alatnya disediakan pemerintah,” pungkasnya.

 

Jurnalis : Dwi Siswanto/Maulana
Fotografer : Dwi Siswanto
Redaktur : Mahrus Sholih

Sebenarnya, dia kembali menegaskan, keberadaan alsintan bagi petani jelas dibutuhkan. Sebab, selama ini banyak petani menggarap lahan mereka secara manual. Kalaupun ada yang menggunakan alat atau mesin, jumlahnya masih sedikit.

Terpisah, Ketua Paguyuban Petani asal Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, Suroso, menyatakan, alsintan tak hanya memengaruhi hasil produksi pertanian, tapi juga biaya tanam hingga panen. Sebab, dengan terbatasnya alsintan yang tersedia, biaya produksi semakin besar. Dia mencontohkan petani di daerahnya sendiri, Desa Sumberejo. “Di sekitar persawahan Rowogebang di Desa Sumberejo ini cukup luas, sementara ketersediaan alsintan masih terbatas,” katanya.

Kalaupun ada, lanjut dia, tidak semua petani memiliki. Bahkan, petani yang tergabung dalam kelompok tani atau gapoktan kondisinya juga sama. “Tidak semua kelompok tani punya alat pertanian. Yang ada selama ini petani masih menyewa ke perorangan,” imbuhnya.

Selama ini, pihaknya juga kerap menerima keluhan petani di sekitar desanya. Rata-rata mereka memang mengeluhkan biaya operasional pengolahan sawah mereka yang terus mengalami peningkatan. Mulai dari kelangkaan pupuk subsidi, sampai biaya sewa alat pertanian yang lebih mahal.

Ia juga menyayangkan, bantuan alsintan tahun lalu itu ditolak oleh Pemkab Jember. Padahal, jika pemerintah bisa memfasilitasi penyaluran bantuan alsintan tersebut, hal itu dinilainya bisa membantu petani karena ongkos operasionalnya bakal lebih hemat. “Jelas bisa lebih irit kalau alatnya disediakan pemerintah,” pungkasnya.

 

Jurnalis : Dwi Siswanto/Maulana
Fotografer : Dwi Siswanto
Redaktur : Mahrus Sholih

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/