alexametrics
23.4 C
Jember
Saturday, 28 May 2022

Jangan Ulang Preseden Penolakan Alsintan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sektor pertanian terus bergerak menuju modernisasi. Petani didorong agar menggunakan alat mesin pertanian (alsintan) dalam mengolah lahan, bercocok tanam, hingga proses pemanenan. Sebab, selain dinilai lebih efektif, hasil pertaniannya juga bisa lebih melimpah. Maka dari itu, pemerintah menggerojok beragam bantuan untuk modernisasi alat pertanian tersebut. Termasuk di Jember.

Namun, sekitar dua tahun lalu, penolakan Pemkab Jember terhadap bantuan alsintan dari Pemprov Jawa Timur dan pemerintah pusat disebut menjadi preseden buruk dalam upaya mendorong modernisasi pertanian tersebut. Karena itu, Plh Bupati Jember Hadi Sulistyo mewanti-wanti agar para pejabat di Pemkab Jember tidak lagi menolak bantuan alsintan. Baik dari pemerintah provinsi maupun pusat. “Jika ada bantuan alsintan, jangan ditolak,” pesannya.

Catatan Jawa Pos Radar Jember, penolakan bantuan alsintan itu pernah terjadi pada medio 2019 lalu. Kala itu, pemkab menampik bantuan alsintan dari Pemprov Jatim. Begitu pula dengan awal 2020 lalu, bantuan alsintan dari Kementerian Pertanian lewat Anggota DPR RI juga kembali ditolak.

Mobile_AP_Rectangle 2

Hadi Sulistyo yang menyampaikan pidato di hadapan aparatur sipil negara (ASN) Pemkab Jember di Aula PB Sudirman, awal pekan ini, cukup wajar. Sebab, pada waktu penolakan itu terjadi, Hadi sudah menjabat sebagai Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Kadis PKP) Jatim. Dialah yang mengeluarkan surat bantuan alsintan ke Jember.

Menurut dia, alsintan itu penting, karena untuk kemajuan pertanian. “Kemajuan pertanian apa pun itu sekarang tidak bisa lepas dari alsintan. Hanya mengandalkan secara tradisional, hasilnya akan kecil sekali,” jelasnya. Apalagi, kata dia, Jatim memberi sumbangsih tertinggi terhadap produksi beras nasional pada 2020 lalu. Data BPS di tahun yang sama, Jatim menempati peringkat pertama tertinggi produksi berasnya. Kedua Jawa Tengah, disusul oleh Jawa Barat.

Bahkan, kata dia, beras Jatim juga didistribusikan ke 16 provinsi lain di luar Jatim. Sementara itu, Jember juga termasuk daerah dengan produktivitas beras yang cukup tinggi untuk Jatim dan masuk dalam tiga besar. Dia pun berharap Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Pemkab Jember tidak terlalu fokus ke hulunya saja. “Tapi juga fokus ke hilirnya,” ucapnya.

Dia menjelaskan, hulu pertanian di Jember ini sudah andal dan petaninya sudah mampu mengatasinya. Dengan fokus menggarap sektor hilir, setidaknya tidak ada petani yang hanya menjual gabahnya, tapi sudah berupa beras. “Petani bisa jual beras, bukan gabah,” jelasnya.

Dia juga meminta setiap gabungan kelompok tani (gapoktan) mampu mengakomodasi anggota mereka supaya mampu menghasilkan beras sendiri. Dengan demikian, petani mendapatkan nilai tambah. Hadi juga ingin agar produksi tanaman hortikultura tidak hanya dijual dalam bentuk buahnya, tapi juga bagaimana memproduksi makanan olahannya. “Walau belum mampu ekspor, tapi setidaknya kualitasnya itu ekspor,” ujarnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sektor pertanian terus bergerak menuju modernisasi. Petani didorong agar menggunakan alat mesin pertanian (alsintan) dalam mengolah lahan, bercocok tanam, hingga proses pemanenan. Sebab, selain dinilai lebih efektif, hasil pertaniannya juga bisa lebih melimpah. Maka dari itu, pemerintah menggerojok beragam bantuan untuk modernisasi alat pertanian tersebut. Termasuk di Jember.

Namun, sekitar dua tahun lalu, penolakan Pemkab Jember terhadap bantuan alsintan dari Pemprov Jawa Timur dan pemerintah pusat disebut menjadi preseden buruk dalam upaya mendorong modernisasi pertanian tersebut. Karena itu, Plh Bupati Jember Hadi Sulistyo mewanti-wanti agar para pejabat di Pemkab Jember tidak lagi menolak bantuan alsintan. Baik dari pemerintah provinsi maupun pusat. “Jika ada bantuan alsintan, jangan ditolak,” pesannya.

Catatan Jawa Pos Radar Jember, penolakan bantuan alsintan itu pernah terjadi pada medio 2019 lalu. Kala itu, pemkab menampik bantuan alsintan dari Pemprov Jatim. Begitu pula dengan awal 2020 lalu, bantuan alsintan dari Kementerian Pertanian lewat Anggota DPR RI juga kembali ditolak.

Hadi Sulistyo yang menyampaikan pidato di hadapan aparatur sipil negara (ASN) Pemkab Jember di Aula PB Sudirman, awal pekan ini, cukup wajar. Sebab, pada waktu penolakan itu terjadi, Hadi sudah menjabat sebagai Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Kadis PKP) Jatim. Dialah yang mengeluarkan surat bantuan alsintan ke Jember.

Menurut dia, alsintan itu penting, karena untuk kemajuan pertanian. “Kemajuan pertanian apa pun itu sekarang tidak bisa lepas dari alsintan. Hanya mengandalkan secara tradisional, hasilnya akan kecil sekali,” jelasnya. Apalagi, kata dia, Jatim memberi sumbangsih tertinggi terhadap produksi beras nasional pada 2020 lalu. Data BPS di tahun yang sama, Jatim menempati peringkat pertama tertinggi produksi berasnya. Kedua Jawa Tengah, disusul oleh Jawa Barat.

Bahkan, kata dia, beras Jatim juga didistribusikan ke 16 provinsi lain di luar Jatim. Sementara itu, Jember juga termasuk daerah dengan produktivitas beras yang cukup tinggi untuk Jatim dan masuk dalam tiga besar. Dia pun berharap Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Pemkab Jember tidak terlalu fokus ke hulunya saja. “Tapi juga fokus ke hilirnya,” ucapnya.

Dia menjelaskan, hulu pertanian di Jember ini sudah andal dan petaninya sudah mampu mengatasinya. Dengan fokus menggarap sektor hilir, setidaknya tidak ada petani yang hanya menjual gabahnya, tapi sudah berupa beras. “Petani bisa jual beras, bukan gabah,” jelasnya.

Dia juga meminta setiap gabungan kelompok tani (gapoktan) mampu mengakomodasi anggota mereka supaya mampu menghasilkan beras sendiri. Dengan demikian, petani mendapatkan nilai tambah. Hadi juga ingin agar produksi tanaman hortikultura tidak hanya dijual dalam bentuk buahnya, tapi juga bagaimana memproduksi makanan olahannya. “Walau belum mampu ekspor, tapi setidaknya kualitasnya itu ekspor,” ujarnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sektor pertanian terus bergerak menuju modernisasi. Petani didorong agar menggunakan alat mesin pertanian (alsintan) dalam mengolah lahan, bercocok tanam, hingga proses pemanenan. Sebab, selain dinilai lebih efektif, hasil pertaniannya juga bisa lebih melimpah. Maka dari itu, pemerintah menggerojok beragam bantuan untuk modernisasi alat pertanian tersebut. Termasuk di Jember.

Namun, sekitar dua tahun lalu, penolakan Pemkab Jember terhadap bantuan alsintan dari Pemprov Jawa Timur dan pemerintah pusat disebut menjadi preseden buruk dalam upaya mendorong modernisasi pertanian tersebut. Karena itu, Plh Bupati Jember Hadi Sulistyo mewanti-wanti agar para pejabat di Pemkab Jember tidak lagi menolak bantuan alsintan. Baik dari pemerintah provinsi maupun pusat. “Jika ada bantuan alsintan, jangan ditolak,” pesannya.

Catatan Jawa Pos Radar Jember, penolakan bantuan alsintan itu pernah terjadi pada medio 2019 lalu. Kala itu, pemkab menampik bantuan alsintan dari Pemprov Jatim. Begitu pula dengan awal 2020 lalu, bantuan alsintan dari Kementerian Pertanian lewat Anggota DPR RI juga kembali ditolak.

Hadi Sulistyo yang menyampaikan pidato di hadapan aparatur sipil negara (ASN) Pemkab Jember di Aula PB Sudirman, awal pekan ini, cukup wajar. Sebab, pada waktu penolakan itu terjadi, Hadi sudah menjabat sebagai Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Kadis PKP) Jatim. Dialah yang mengeluarkan surat bantuan alsintan ke Jember.

Menurut dia, alsintan itu penting, karena untuk kemajuan pertanian. “Kemajuan pertanian apa pun itu sekarang tidak bisa lepas dari alsintan. Hanya mengandalkan secara tradisional, hasilnya akan kecil sekali,” jelasnya. Apalagi, kata dia, Jatim memberi sumbangsih tertinggi terhadap produksi beras nasional pada 2020 lalu. Data BPS di tahun yang sama, Jatim menempati peringkat pertama tertinggi produksi berasnya. Kedua Jawa Tengah, disusul oleh Jawa Barat.

Bahkan, kata dia, beras Jatim juga didistribusikan ke 16 provinsi lain di luar Jatim. Sementara itu, Jember juga termasuk daerah dengan produktivitas beras yang cukup tinggi untuk Jatim dan masuk dalam tiga besar. Dia pun berharap Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Pemkab Jember tidak terlalu fokus ke hulunya saja. “Tapi juga fokus ke hilirnya,” ucapnya.

Dia menjelaskan, hulu pertanian di Jember ini sudah andal dan petaninya sudah mampu mengatasinya. Dengan fokus menggarap sektor hilir, setidaknya tidak ada petani yang hanya menjual gabahnya, tapi sudah berupa beras. “Petani bisa jual beras, bukan gabah,” jelasnya.

Dia juga meminta setiap gabungan kelompok tani (gapoktan) mampu mengakomodasi anggota mereka supaya mampu menghasilkan beras sendiri. Dengan demikian, petani mendapatkan nilai tambah. Hadi juga ingin agar produksi tanaman hortikultura tidak hanya dijual dalam bentuk buahnya, tapi juga bagaimana memproduksi makanan olahannya. “Walau belum mampu ekspor, tapi setidaknya kualitasnya itu ekspor,” ujarnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/