alexametrics
23.8 C
Jember
Tuesday, 17 May 2022

Rencana Sinergi Bisnis Hotel di Jember Tahun 2022

Mobile_AP_Rectangle 1

KALIWATES, RADARJEMBER.ID – Industri pariwisata seperti hotel dan restoran menjadi sektor yang terdampak langsung ganasnya pandemi Covid-19 yang mendera sejak awal 2020 lalu. Menurunnya tingkat kunjungan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, berimbas secara signifikan terhadap omzet sektor tersebut.

Ketika sejak awal Juli pemerintah pusat menerapkan PPKM berlevel untuk menurunkan angka kasus Covid-19, tamu hotel dan restoran malah semakin sepi karena aktivitas masyarakat dibatasi. Termasuk saat berada di warung atau restoran, yang tidak boleh lebih dari 30 menit. “Bisnis hotel bergantung pada pergerakan aktivitas. Ketika ada pembatasan, maka dampak tersebut membawa pengaruh besar terhadap hotel dan restoran. Orang tidak boleh ke mana-mana dan lebih memilih diam di rumah. Apalagi kondisi jalan gelap karena lampu dimatikan,” ungkap Andra, pimpinan salah satu hotel di Jember.

Pria kelahiran Ponorogo itu menambahkan, penurunan level PPKM di Kabupaten Jember disambut gembira oleh pemilik hotel dan restoran. Mereka berharap bisa bangkit kembali dari keterpurukan, akibat dihantam oleh virus korona dan membuat industri pariwisata dunia semakin suram.

Mobile_AP_Rectangle 2

Harapan serupa dilontarkan oleh Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Republik Indonesia (PHRI) Kabupaten Jember Tegoeh Soeprajitno. Meski saat ini Kabupaten Jember masuk level satu, namun untuk bisa menormalkan kembali hotel dan restoran tidak bisa dilakukan serta-merta.

PHRI berharap awal tahun 2022 hotel dan restoran mulai ramai kembali. Sebab, akibat hantaman Covid-19 industri pariwisata di Jember mengalami kemunduran. “Ketika Jember sudah berada di level satu, biro perjalanan bisa mengajak wisatawan untuk menikmati keindahan Jember,” kata Tegoeh.

- Advertisement -

KALIWATES, RADARJEMBER.ID – Industri pariwisata seperti hotel dan restoran menjadi sektor yang terdampak langsung ganasnya pandemi Covid-19 yang mendera sejak awal 2020 lalu. Menurunnya tingkat kunjungan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, berimbas secara signifikan terhadap omzet sektor tersebut.

Ketika sejak awal Juli pemerintah pusat menerapkan PPKM berlevel untuk menurunkan angka kasus Covid-19, tamu hotel dan restoran malah semakin sepi karena aktivitas masyarakat dibatasi. Termasuk saat berada di warung atau restoran, yang tidak boleh lebih dari 30 menit. “Bisnis hotel bergantung pada pergerakan aktivitas. Ketika ada pembatasan, maka dampak tersebut membawa pengaruh besar terhadap hotel dan restoran. Orang tidak boleh ke mana-mana dan lebih memilih diam di rumah. Apalagi kondisi jalan gelap karena lampu dimatikan,” ungkap Andra, pimpinan salah satu hotel di Jember.

Pria kelahiran Ponorogo itu menambahkan, penurunan level PPKM di Kabupaten Jember disambut gembira oleh pemilik hotel dan restoran. Mereka berharap bisa bangkit kembali dari keterpurukan, akibat dihantam oleh virus korona dan membuat industri pariwisata dunia semakin suram.

Harapan serupa dilontarkan oleh Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Republik Indonesia (PHRI) Kabupaten Jember Tegoeh Soeprajitno. Meski saat ini Kabupaten Jember masuk level satu, namun untuk bisa menormalkan kembali hotel dan restoran tidak bisa dilakukan serta-merta.

PHRI berharap awal tahun 2022 hotel dan restoran mulai ramai kembali. Sebab, akibat hantaman Covid-19 industri pariwisata di Jember mengalami kemunduran. “Ketika Jember sudah berada di level satu, biro perjalanan bisa mengajak wisatawan untuk menikmati keindahan Jember,” kata Tegoeh.

KALIWATES, RADARJEMBER.ID – Industri pariwisata seperti hotel dan restoran menjadi sektor yang terdampak langsung ganasnya pandemi Covid-19 yang mendera sejak awal 2020 lalu. Menurunnya tingkat kunjungan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, berimbas secara signifikan terhadap omzet sektor tersebut.

Ketika sejak awal Juli pemerintah pusat menerapkan PPKM berlevel untuk menurunkan angka kasus Covid-19, tamu hotel dan restoran malah semakin sepi karena aktivitas masyarakat dibatasi. Termasuk saat berada di warung atau restoran, yang tidak boleh lebih dari 30 menit. “Bisnis hotel bergantung pada pergerakan aktivitas. Ketika ada pembatasan, maka dampak tersebut membawa pengaruh besar terhadap hotel dan restoran. Orang tidak boleh ke mana-mana dan lebih memilih diam di rumah. Apalagi kondisi jalan gelap karena lampu dimatikan,” ungkap Andra, pimpinan salah satu hotel di Jember.

Pria kelahiran Ponorogo itu menambahkan, penurunan level PPKM di Kabupaten Jember disambut gembira oleh pemilik hotel dan restoran. Mereka berharap bisa bangkit kembali dari keterpurukan, akibat dihantam oleh virus korona dan membuat industri pariwisata dunia semakin suram.

Harapan serupa dilontarkan oleh Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Republik Indonesia (PHRI) Kabupaten Jember Tegoeh Soeprajitno. Meski saat ini Kabupaten Jember masuk level satu, namun untuk bisa menormalkan kembali hotel dan restoran tidak bisa dilakukan serta-merta.

PHRI berharap awal tahun 2022 hotel dan restoran mulai ramai kembali. Sebab, akibat hantaman Covid-19 industri pariwisata di Jember mengalami kemunduran. “Ketika Jember sudah berada di level satu, biro perjalanan bisa mengajak wisatawan untuk menikmati keindahan Jember,” kata Tegoeh.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/