alexametrics
28.3 C
Jember
Saturday, 22 January 2022

Manfaatkan Kayu Bekas di Jember Jadi Duit

Geluti Furnitur Minimalis

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – SELAIN usaha makanan, bisnis furniture juga tengah naik daun. Banyak anak-anak muda yang membidik usaha ini. Salah satunya adalah Neily Kharisatul Umami. Nelly mulai berwirausaha di bidang furnitur sejak 2020 lalu. Kendati masih terbilang baru, namun usahanya terus meningkat.

Bisnis ini dia rintis dari iseng-iseng saja. Bermula dari Nelly yang menyukai membuat pernak-pernik dari kayu. Biasanya ia membuat untuk tempat make up, rak buku, dan lainnya. Bahan-bahan dasar yang digunakannya adalah kayu bekas yang dipakai ayahnya untuk berbenah perabotan. Alat yang digunakan juga sangat minimalis. Tidak secanggih saat ini. “Kayu-kayunya sisa-sisa punya ayahku. Alatnya pakai gergaji seperti umumnya,” ungkapnya.

Hingga suatu ketika, salah satu temannya menyarankan agar Nelly mulai memproduksi furnitur secara profesional dan dikomersialkan. Ia pun mulai membuatnya hanya berbekal tutorial di YouTube. Kendala awal yang dialami adalah alat yang terbatas dan kesulitan mencari pemasok kayu. “Jadi, alatnya pakai seadanya dari orang tua. Seperti potong kayu pakai gergaji. Ngamplas juga manual. Untuk bahan baku, awal-awal masih belum tahu belinya di mana,” papar mahasiswa fakultas hukum itu.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurut dia, peluang pasar untuk bisnis furnitur cukup menjanjikan. Sebab, saat ini trennya orang-orang lebih memilih dekorasi atau furnitur custom atau seusai pesanan pelanggan. Dengan demikian, konsumen dapat memesan sesuai dengan bujet (budget) yang dimiliki. “Tapi, selama pandemi ini banyak yang tanya furniturnya harus dibikin seperti apa,” terangnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – SELAIN usaha makanan, bisnis furniture juga tengah naik daun. Banyak anak-anak muda yang membidik usaha ini. Salah satunya adalah Neily Kharisatul Umami. Nelly mulai berwirausaha di bidang furnitur sejak 2020 lalu. Kendati masih terbilang baru, namun usahanya terus meningkat.

Bisnis ini dia rintis dari iseng-iseng saja. Bermula dari Nelly yang menyukai membuat pernak-pernik dari kayu. Biasanya ia membuat untuk tempat make up, rak buku, dan lainnya. Bahan-bahan dasar yang digunakannya adalah kayu bekas yang dipakai ayahnya untuk berbenah perabotan. Alat yang digunakan juga sangat minimalis. Tidak secanggih saat ini. “Kayu-kayunya sisa-sisa punya ayahku. Alatnya pakai gergaji seperti umumnya,” ungkapnya.

Hingga suatu ketika, salah satu temannya menyarankan agar Nelly mulai memproduksi furnitur secara profesional dan dikomersialkan. Ia pun mulai membuatnya hanya berbekal tutorial di YouTube. Kendala awal yang dialami adalah alat yang terbatas dan kesulitan mencari pemasok kayu. “Jadi, alatnya pakai seadanya dari orang tua. Seperti potong kayu pakai gergaji. Ngamplas juga manual. Untuk bahan baku, awal-awal masih belum tahu belinya di mana,” papar mahasiswa fakultas hukum itu.

Menurut dia, peluang pasar untuk bisnis furnitur cukup menjanjikan. Sebab, saat ini trennya orang-orang lebih memilih dekorasi atau furnitur custom atau seusai pesanan pelanggan. Dengan demikian, konsumen dapat memesan sesuai dengan bujet (budget) yang dimiliki. “Tapi, selama pandemi ini banyak yang tanya furniturnya harus dibikin seperti apa,” terangnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – SELAIN usaha makanan, bisnis furniture juga tengah naik daun. Banyak anak-anak muda yang membidik usaha ini. Salah satunya adalah Neily Kharisatul Umami. Nelly mulai berwirausaha di bidang furnitur sejak 2020 lalu. Kendati masih terbilang baru, namun usahanya terus meningkat.

Bisnis ini dia rintis dari iseng-iseng saja. Bermula dari Nelly yang menyukai membuat pernak-pernik dari kayu. Biasanya ia membuat untuk tempat make up, rak buku, dan lainnya. Bahan-bahan dasar yang digunakannya adalah kayu bekas yang dipakai ayahnya untuk berbenah perabotan. Alat yang digunakan juga sangat minimalis. Tidak secanggih saat ini. “Kayu-kayunya sisa-sisa punya ayahku. Alatnya pakai gergaji seperti umumnya,” ungkapnya.

Hingga suatu ketika, salah satu temannya menyarankan agar Nelly mulai memproduksi furnitur secara profesional dan dikomersialkan. Ia pun mulai membuatnya hanya berbekal tutorial di YouTube. Kendala awal yang dialami adalah alat yang terbatas dan kesulitan mencari pemasok kayu. “Jadi, alatnya pakai seadanya dari orang tua. Seperti potong kayu pakai gergaji. Ngamplas juga manual. Untuk bahan baku, awal-awal masih belum tahu belinya di mana,” papar mahasiswa fakultas hukum itu.

Menurut dia, peluang pasar untuk bisnis furnitur cukup menjanjikan. Sebab, saat ini trennya orang-orang lebih memilih dekorasi atau furnitur custom atau seusai pesanan pelanggan. Dengan demikian, konsumen dapat memesan sesuai dengan bujet (budget) yang dimiliki. “Tapi, selama pandemi ini banyak yang tanya furniturnya harus dibikin seperti apa,” terangnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca