alexametrics
30.9 C
Jember
Monday, 16 May 2022

Jangan Salah, Produk Rumahan di Jember ini Bisa Jadi Ikon Loh

Mobile_AP_Rectangle 1

LEMBENGAN, RADARJEMBER.ID – Walau sekadar disajikan sebagai pelengkap hidangan atau camilan, kerupuk petulo dan rengginang ternyata mampu bertahan hingga kini. Bahkan di Dusun Krajan, Desa Lembengan, Kecamatan Ledokombo, produk rumahan tersebut telah diproduksi secara turun-temurun oleh warga selama tiga puluh tahun.

Untuk menemukan industri rumahan di dusun tersebut tidaklah sulit. Sebab, cukup dekat dari Kantor Desa Lembengan. Di dusun ini terdapat enam rumah yang menekuni pembuatan kerupuk dan rengginang. Aktivitas pembuatan kudapan tradisional itu dilakukan setiap hari. Dimulai pukul 04.30 selepas Subuh dan berakhir pukul 10.00. Kemudian, dijemur selama satu hari penuh di bawah terik matahari.

Jamak diketahui kerupuk petulo ini terbuat dari tepung beras dan tepung tapioka. Bentuknya menyerupai benang yang dirangkai seperti anyaman. Sementara, rengginang terbuat dari beras ketan. “Dalam sehari saya membutuhkan 10 kilogram tepung beras dan 30 kilo tepung tapioka. Untuk rengginang antara 25 sampai 50 kilogram beras ketan. Semua bahan itu dibeli dari toko sekitaran sini saja,” tutur Endang, salah seorang perajin.

Mobile_AP_Rectangle 2

Agar kerupuk dan rengginang itu terasa gurih, ibu tiga anak ini mencampurkan garam, bawang putih, dan terasi. Harganya per kilo cukup terjangkau. Antara Rp 13 ribu hingga Rp 18 ribu. Sedangkan rengginang dijual oleh Endang Rp 18 ribu per kilo.

Lutfiah, perajin yang lain, menuturkan, saat hari besar Islam seperti Maulid Nabi, Idul Fitri, dan Idul Adha, permintaan kerupuk dan rengginang ini melonjak. Sebab, biasanya warga menyuguhkan dua makanan ringan tersebut kepada tamu yang berkunjung atau menyertakan dalam kenduri ketika hajatan.

- Advertisement -

LEMBENGAN, RADARJEMBER.ID – Walau sekadar disajikan sebagai pelengkap hidangan atau camilan, kerupuk petulo dan rengginang ternyata mampu bertahan hingga kini. Bahkan di Dusun Krajan, Desa Lembengan, Kecamatan Ledokombo, produk rumahan tersebut telah diproduksi secara turun-temurun oleh warga selama tiga puluh tahun.

Untuk menemukan industri rumahan di dusun tersebut tidaklah sulit. Sebab, cukup dekat dari Kantor Desa Lembengan. Di dusun ini terdapat enam rumah yang menekuni pembuatan kerupuk dan rengginang. Aktivitas pembuatan kudapan tradisional itu dilakukan setiap hari. Dimulai pukul 04.30 selepas Subuh dan berakhir pukul 10.00. Kemudian, dijemur selama satu hari penuh di bawah terik matahari.

Jamak diketahui kerupuk petulo ini terbuat dari tepung beras dan tepung tapioka. Bentuknya menyerupai benang yang dirangkai seperti anyaman. Sementara, rengginang terbuat dari beras ketan. “Dalam sehari saya membutuhkan 10 kilogram tepung beras dan 30 kilo tepung tapioka. Untuk rengginang antara 25 sampai 50 kilogram beras ketan. Semua bahan itu dibeli dari toko sekitaran sini saja,” tutur Endang, salah seorang perajin.

Agar kerupuk dan rengginang itu terasa gurih, ibu tiga anak ini mencampurkan garam, bawang putih, dan terasi. Harganya per kilo cukup terjangkau. Antara Rp 13 ribu hingga Rp 18 ribu. Sedangkan rengginang dijual oleh Endang Rp 18 ribu per kilo.

Lutfiah, perajin yang lain, menuturkan, saat hari besar Islam seperti Maulid Nabi, Idul Fitri, dan Idul Adha, permintaan kerupuk dan rengginang ini melonjak. Sebab, biasanya warga menyuguhkan dua makanan ringan tersebut kepada tamu yang berkunjung atau menyertakan dalam kenduri ketika hajatan.

LEMBENGAN, RADARJEMBER.ID – Walau sekadar disajikan sebagai pelengkap hidangan atau camilan, kerupuk petulo dan rengginang ternyata mampu bertahan hingga kini. Bahkan di Dusun Krajan, Desa Lembengan, Kecamatan Ledokombo, produk rumahan tersebut telah diproduksi secara turun-temurun oleh warga selama tiga puluh tahun.

Untuk menemukan industri rumahan di dusun tersebut tidaklah sulit. Sebab, cukup dekat dari Kantor Desa Lembengan. Di dusun ini terdapat enam rumah yang menekuni pembuatan kerupuk dan rengginang. Aktivitas pembuatan kudapan tradisional itu dilakukan setiap hari. Dimulai pukul 04.30 selepas Subuh dan berakhir pukul 10.00. Kemudian, dijemur selama satu hari penuh di bawah terik matahari.

Jamak diketahui kerupuk petulo ini terbuat dari tepung beras dan tepung tapioka. Bentuknya menyerupai benang yang dirangkai seperti anyaman. Sementara, rengginang terbuat dari beras ketan. “Dalam sehari saya membutuhkan 10 kilogram tepung beras dan 30 kilo tepung tapioka. Untuk rengginang antara 25 sampai 50 kilogram beras ketan. Semua bahan itu dibeli dari toko sekitaran sini saja,” tutur Endang, salah seorang perajin.

Agar kerupuk dan rengginang itu terasa gurih, ibu tiga anak ini mencampurkan garam, bawang putih, dan terasi. Harganya per kilo cukup terjangkau. Antara Rp 13 ribu hingga Rp 18 ribu. Sedangkan rengginang dijual oleh Endang Rp 18 ribu per kilo.

Lutfiah, perajin yang lain, menuturkan, saat hari besar Islam seperti Maulid Nabi, Idul Fitri, dan Idul Adha, permintaan kerupuk dan rengginang ini melonjak. Sebab, biasanya warga menyuguhkan dua makanan ringan tersebut kepada tamu yang berkunjung atau menyertakan dalam kenduri ketika hajatan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/