alexametrics
31 C
Jember
Monday, 23 May 2022

Berdayakan Tetangga demi Tekan Pengangguran

Budi Daya Jamur Tiram, Prospektif di Masa Pandemi

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Hairus Soleh tampak serius mengamati pertumbuhan jamur tiram yang berada di sejumlah baglog. Beberapa mulai tumbuh setelah ditanam. Ada juga yang terlihat sudah siap dipanen. Namun, dia masih menunggu momen yang tepat. Sejurus kemudian, dia berkoordinasi dengan salah satu karyawannya untuk kemudian mencatat baglog mana saja yang bisa dipanen.

Kemudian, dia juga mengawasi pengolahan jamur tiram yang sudah dipanen, dan diubah menjadi beragam jenis makanan. Inilah yang menjadi keseharian warga Dusun Delima, Desa Kemiri, Kecamatan Panti, tersebut. Pria yang merupakan pengusaha jamur tiram ini tidak hanya mengelola budi daya jamur tiram. Namun, juga sekaligus pengolahannya.

Bukan hanya meracik serbuk kayu dan serbuk kulit kopi yang menjadi campuran bahan tempat budi dayanya, ada hal lain yang menjadi fokus Soleh. Yakni melibatkan warga sekitar untuk menjalankan prosesnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ya, dalam proses mengolah jamur menjadi berbagai olahan makanan yang bergizi dan sehat seperti jamur, bakso jamur, dan jamur krispi ini, Soleh memberdayakan para tetangganya. Itu agar mereka tak telantar atau menjadi perantau dan pengangguran. Dia mengajak puluhan remaja yang putus sekolah akibat keterbatasan ekonomi. Juga para anak muda yang telah di-PHK dari tempat kerjanya. Kemudian, juga kaum perempuan yang mengeluh kesulitan mendapatkan pekerjaan.

“Saya ajak mereka, sekitar tujuh sampai 15 orang, untuk mengelola. Karena di sini banyak yang ekonominya menengah ke bawah. Dan saya juga prihatin dengan kondisi ini. Daripada mereka harus kerja di luar kota,” ungkap ayah dua anak itu.

Bagi Soleh, ada pengalaman bermakna di balik keinginannya untuk mengurangi tingkat pengangguran di desanya tersebut. Dulu, dia merupakan seorang buruh pabrik dan kuli bangunan yang selalu berpindah-pindah tempat. Hidup di ranah perantauan selama dua tahun, Soleh mengaku tak mudah menjadi pemuda rantau di Surabaya. “Apalagi bagi pemuda desa yang sering dianggap tak bisa apa-apa,” kenangnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Hairus Soleh tampak serius mengamati pertumbuhan jamur tiram yang berada di sejumlah baglog. Beberapa mulai tumbuh setelah ditanam. Ada juga yang terlihat sudah siap dipanen. Namun, dia masih menunggu momen yang tepat. Sejurus kemudian, dia berkoordinasi dengan salah satu karyawannya untuk kemudian mencatat baglog mana saja yang bisa dipanen.

Kemudian, dia juga mengawasi pengolahan jamur tiram yang sudah dipanen, dan diubah menjadi beragam jenis makanan. Inilah yang menjadi keseharian warga Dusun Delima, Desa Kemiri, Kecamatan Panti, tersebut. Pria yang merupakan pengusaha jamur tiram ini tidak hanya mengelola budi daya jamur tiram. Namun, juga sekaligus pengolahannya.

Bukan hanya meracik serbuk kayu dan serbuk kulit kopi yang menjadi campuran bahan tempat budi dayanya, ada hal lain yang menjadi fokus Soleh. Yakni melibatkan warga sekitar untuk menjalankan prosesnya.

Ya, dalam proses mengolah jamur menjadi berbagai olahan makanan yang bergizi dan sehat seperti jamur, bakso jamur, dan jamur krispi ini, Soleh memberdayakan para tetangganya. Itu agar mereka tak telantar atau menjadi perantau dan pengangguran. Dia mengajak puluhan remaja yang putus sekolah akibat keterbatasan ekonomi. Juga para anak muda yang telah di-PHK dari tempat kerjanya. Kemudian, juga kaum perempuan yang mengeluh kesulitan mendapatkan pekerjaan.

“Saya ajak mereka, sekitar tujuh sampai 15 orang, untuk mengelola. Karena di sini banyak yang ekonominya menengah ke bawah. Dan saya juga prihatin dengan kondisi ini. Daripada mereka harus kerja di luar kota,” ungkap ayah dua anak itu.

Bagi Soleh, ada pengalaman bermakna di balik keinginannya untuk mengurangi tingkat pengangguran di desanya tersebut. Dulu, dia merupakan seorang buruh pabrik dan kuli bangunan yang selalu berpindah-pindah tempat. Hidup di ranah perantauan selama dua tahun, Soleh mengaku tak mudah menjadi pemuda rantau di Surabaya. “Apalagi bagi pemuda desa yang sering dianggap tak bisa apa-apa,” kenangnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Hairus Soleh tampak serius mengamati pertumbuhan jamur tiram yang berada di sejumlah baglog. Beberapa mulai tumbuh setelah ditanam. Ada juga yang terlihat sudah siap dipanen. Namun, dia masih menunggu momen yang tepat. Sejurus kemudian, dia berkoordinasi dengan salah satu karyawannya untuk kemudian mencatat baglog mana saja yang bisa dipanen.

Kemudian, dia juga mengawasi pengolahan jamur tiram yang sudah dipanen, dan diubah menjadi beragam jenis makanan. Inilah yang menjadi keseharian warga Dusun Delima, Desa Kemiri, Kecamatan Panti, tersebut. Pria yang merupakan pengusaha jamur tiram ini tidak hanya mengelola budi daya jamur tiram. Namun, juga sekaligus pengolahannya.

Bukan hanya meracik serbuk kayu dan serbuk kulit kopi yang menjadi campuran bahan tempat budi dayanya, ada hal lain yang menjadi fokus Soleh. Yakni melibatkan warga sekitar untuk menjalankan prosesnya.

Ya, dalam proses mengolah jamur menjadi berbagai olahan makanan yang bergizi dan sehat seperti jamur, bakso jamur, dan jamur krispi ini, Soleh memberdayakan para tetangganya. Itu agar mereka tak telantar atau menjadi perantau dan pengangguran. Dia mengajak puluhan remaja yang putus sekolah akibat keterbatasan ekonomi. Juga para anak muda yang telah di-PHK dari tempat kerjanya. Kemudian, juga kaum perempuan yang mengeluh kesulitan mendapatkan pekerjaan.

“Saya ajak mereka, sekitar tujuh sampai 15 orang, untuk mengelola. Karena di sini banyak yang ekonominya menengah ke bawah. Dan saya juga prihatin dengan kondisi ini. Daripada mereka harus kerja di luar kota,” ungkap ayah dua anak itu.

Bagi Soleh, ada pengalaman bermakna di balik keinginannya untuk mengurangi tingkat pengangguran di desanya tersebut. Dulu, dia merupakan seorang buruh pabrik dan kuli bangunan yang selalu berpindah-pindah tempat. Hidup di ranah perantauan selama dua tahun, Soleh mengaku tak mudah menjadi pemuda rantau di Surabaya. “Apalagi bagi pemuda desa yang sering dianggap tak bisa apa-apa,” kenangnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/