alexametrics
24.3 C
Jember
Friday, 20 May 2022

SMP Mulai Cari Uang, Jalan Hidupnya Masih Panjang

Tidak semua orang hidup dengan keterbatasan seperti Mulyono Efendi. Pemuda ini harus berjuang hidup tidak seperti kebanyakan anak lain. Dia yatim karena ibunya meninggal, dan harapannya belum tercapai.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Mulyono Efendi menjadi satu di antara sekian banyak orang yang pantang menyerah. Dia tumbuh sejak kecil dengan dibesarkan bapaknya, karena ibunya lebih dulu meninggal dunia saat usianya tiga tahun.

Baca Juga : Sepuluh Pejabat dalam Pusaran Dugaan Korupsi Dana Covid-19 Rp 107 M

Lantas, Yono, sapaan akrabnya, hidup bersama ayahnya. Namun, sebelum dirinya lulus sekolah dasar (SD), bapaknya menikah lagi. Sejak itu, Yono kecil mulai hidup mandiri karena ayahnya kerap pulang ke rumah ibu tirinya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pria ini mengaku, sejak ayahnya pulang ke rumah ibu tirinya, dia masih dibiayai mulai sekolah sampai urusan makannya. Namun, dia harus tinggal sendiri di rumahnya. Kadang dia bersama saudaranya yang ada di sekitar rumah. Dia tinggal di rumah peninggalan ibunya bersama tiga saudaranya, adik dan kakaknya. “Bapak tetap bertanggung jawab pada saya,” katanya saat ditemui di tempat kerjanya, Rabu (23/3).

Setelah lulus SD, Yono pun mulai masuk sekolah menengah pertama (SMP). Nah, sejak itulah dia memulai perjuangan hidupnya. Dia belajar mandiri, dengan mulai mencari rezeki sendiri. “Sejak SMP saya sudah belajar mencari uang sendiri, sehingga saya berusaha tidak merepotkan ayah saya. Bapak tetap memberi kewajibannya ke saya, tetapi saya tidak mau mengandalkan,” katanya.

Sejak SMP dia mulai bekerja dengan membantu tetangganya memproduksi tahu. Meski upahnya tak seberapa, tetap disyukurinya. Hingga masuk sekolah menengah atas (SMA) dia tetap rutin membantu tetangganya memproduksi tahu sepulang sekolah. Hingga lulus sekolah, dia memutuskan bekerja di Surabaya sebagai seorang karyawan.

Tidak berselang lama di Surabaya dia memutuskan pulang karena terjadi kecelakaan kerja. “Saya pulang karena dulu itu tangan saya pernah terkena mesin pres. Meskipun tidak terlalu parah, waktu penyembuhan membutuhkan waktu yang lama,” katanya.

Setelah tangannya dirasa sembuh, Yono memutuskan bekerja sebagai pedagang bakso. Dirasa kurang dalam penghasilan, selanjutnya dia memutuskan merantau ke Bali hingga dirinya diharuskan pulang akibat pandemi.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Mulyono Efendi menjadi satu di antara sekian banyak orang yang pantang menyerah. Dia tumbuh sejak kecil dengan dibesarkan bapaknya, karena ibunya lebih dulu meninggal dunia saat usianya tiga tahun.

Baca Juga : Sepuluh Pejabat dalam Pusaran Dugaan Korupsi Dana Covid-19 Rp 107 M

Lantas, Yono, sapaan akrabnya, hidup bersama ayahnya. Namun, sebelum dirinya lulus sekolah dasar (SD), bapaknya menikah lagi. Sejak itu, Yono kecil mulai hidup mandiri karena ayahnya kerap pulang ke rumah ibu tirinya.

Pria ini mengaku, sejak ayahnya pulang ke rumah ibu tirinya, dia masih dibiayai mulai sekolah sampai urusan makannya. Namun, dia harus tinggal sendiri di rumahnya. Kadang dia bersama saudaranya yang ada di sekitar rumah. Dia tinggal di rumah peninggalan ibunya bersama tiga saudaranya, adik dan kakaknya. “Bapak tetap bertanggung jawab pada saya,” katanya saat ditemui di tempat kerjanya, Rabu (23/3).

Setelah lulus SD, Yono pun mulai masuk sekolah menengah pertama (SMP). Nah, sejak itulah dia memulai perjuangan hidupnya. Dia belajar mandiri, dengan mulai mencari rezeki sendiri. “Sejak SMP saya sudah belajar mencari uang sendiri, sehingga saya berusaha tidak merepotkan ayah saya. Bapak tetap memberi kewajibannya ke saya, tetapi saya tidak mau mengandalkan,” katanya.

Sejak SMP dia mulai bekerja dengan membantu tetangganya memproduksi tahu. Meski upahnya tak seberapa, tetap disyukurinya. Hingga masuk sekolah menengah atas (SMA) dia tetap rutin membantu tetangganya memproduksi tahu sepulang sekolah. Hingga lulus sekolah, dia memutuskan bekerja di Surabaya sebagai seorang karyawan.

Tidak berselang lama di Surabaya dia memutuskan pulang karena terjadi kecelakaan kerja. “Saya pulang karena dulu itu tangan saya pernah terkena mesin pres. Meskipun tidak terlalu parah, waktu penyembuhan membutuhkan waktu yang lama,” katanya.

Setelah tangannya dirasa sembuh, Yono memutuskan bekerja sebagai pedagang bakso. Dirasa kurang dalam penghasilan, selanjutnya dia memutuskan merantau ke Bali hingga dirinya diharuskan pulang akibat pandemi.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Mulyono Efendi menjadi satu di antara sekian banyak orang yang pantang menyerah. Dia tumbuh sejak kecil dengan dibesarkan bapaknya, karena ibunya lebih dulu meninggal dunia saat usianya tiga tahun.

Baca Juga : Sepuluh Pejabat dalam Pusaran Dugaan Korupsi Dana Covid-19 Rp 107 M

Lantas, Yono, sapaan akrabnya, hidup bersama ayahnya. Namun, sebelum dirinya lulus sekolah dasar (SD), bapaknya menikah lagi. Sejak itu, Yono kecil mulai hidup mandiri karena ayahnya kerap pulang ke rumah ibu tirinya.

Pria ini mengaku, sejak ayahnya pulang ke rumah ibu tirinya, dia masih dibiayai mulai sekolah sampai urusan makannya. Namun, dia harus tinggal sendiri di rumahnya. Kadang dia bersama saudaranya yang ada di sekitar rumah. Dia tinggal di rumah peninggalan ibunya bersama tiga saudaranya, adik dan kakaknya. “Bapak tetap bertanggung jawab pada saya,” katanya saat ditemui di tempat kerjanya, Rabu (23/3).

Setelah lulus SD, Yono pun mulai masuk sekolah menengah pertama (SMP). Nah, sejak itulah dia memulai perjuangan hidupnya. Dia belajar mandiri, dengan mulai mencari rezeki sendiri. “Sejak SMP saya sudah belajar mencari uang sendiri, sehingga saya berusaha tidak merepotkan ayah saya. Bapak tetap memberi kewajibannya ke saya, tetapi saya tidak mau mengandalkan,” katanya.

Sejak SMP dia mulai bekerja dengan membantu tetangganya memproduksi tahu. Meski upahnya tak seberapa, tetap disyukurinya. Hingga masuk sekolah menengah atas (SMA) dia tetap rutin membantu tetangganya memproduksi tahu sepulang sekolah. Hingga lulus sekolah, dia memutuskan bekerja di Surabaya sebagai seorang karyawan.

Tidak berselang lama di Surabaya dia memutuskan pulang karena terjadi kecelakaan kerja. “Saya pulang karena dulu itu tangan saya pernah terkena mesin pres. Meskipun tidak terlalu parah, waktu penyembuhan membutuhkan waktu yang lama,” katanya.

Setelah tangannya dirasa sembuh, Yono memutuskan bekerja sebagai pedagang bakso. Dirasa kurang dalam penghasilan, selanjutnya dia memutuskan merantau ke Bali hingga dirinya diharuskan pulang akibat pandemi.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/