alexametrics
25.2 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Produksi Kedelai Lokal Kurang Serius

Mobile_AP_Rectangle 1

SLAWU, Radar Jember – Naiknya harga kedelai impor yang berdampak langsung kepada perajin tahu dan tempe bukan hal yang baru lagi. Isu nasional ini bahkan membuat sejumlah perajin tahu dan tempe memutuskan untuk mengecilkan ukuran tahu dan tempe atau mengurangi jumlah produksi.

Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Jember Prof Soetriono mengungkapkan, antisipasi tentang kebutuhan kedelai itu masih kurang. Berbicara apakah kedelai lokal bisa gantikan kedelai impor dalam pembuatan tahu dan tempe, bagi Soetriono ini sejatinya sangat bisa. “Tapi kedelai lokal itu apakah bisa memenuhi kebutuhan perajin tahu tempe? Cari 500 kilogram kedelai lokal setiap hari saja susah,” terangnya.

Dia melihat banyak faktor mengapa produksi dan produktivitas kedelai lokal itu rendah. Pertama, untuk saat ini kendalanya yaitu tentang pupuk. Selain itu juga tidak ada proteksi harga jual bagi petani.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sejatinya, tambah Soetriono, sejak dulu ada program dari pemerintah bernama Pajuli, yaitu padi, jagung, dan kedelai. Bahkan juga ada bantuan benih kedelai. Namun, dari riset yang pernah dilakukan di daerah selatan, benih bantuan tersebut justru tidak tumbuh.

Selain itu, bila harga kedelai impor itu murah, maka pemerintah juga punya kebijakan tidak membuka kran impor besar-besaran. Sebab bila impor kedelai impor luar biasa, petani juga enggan menanam kedelai. “Beragam kesulitan seperti itulah, yang membuat petani enggan tanam kedelai dan ganti komoditas yang lain,” ujarnya.

Dia melakukan penelitian tentang kedelai di Jawa Timur pada 2019 silam, dengan sampel Banyuwangi, Kediri, dan Malang. Karena ketiga daerah tersebut menjadi sentra kedelai, yaitu Banyuwangi pada sisi produksi, Kediri pada sisi industri tahu tempe, dan Malang pada sisi produksi dan industri tahu tempe. Namun sayangnya kedelai lokal yang diproduksi petani setempat justru tidak masuk ke industri tahu tempe. “90 persen itu pakai kedelai impor,” terangnya.

- Advertisement -

SLAWU, Radar Jember – Naiknya harga kedelai impor yang berdampak langsung kepada perajin tahu dan tempe bukan hal yang baru lagi. Isu nasional ini bahkan membuat sejumlah perajin tahu dan tempe memutuskan untuk mengecilkan ukuran tahu dan tempe atau mengurangi jumlah produksi.

Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Jember Prof Soetriono mengungkapkan, antisipasi tentang kebutuhan kedelai itu masih kurang. Berbicara apakah kedelai lokal bisa gantikan kedelai impor dalam pembuatan tahu dan tempe, bagi Soetriono ini sejatinya sangat bisa. “Tapi kedelai lokal itu apakah bisa memenuhi kebutuhan perajin tahu tempe? Cari 500 kilogram kedelai lokal setiap hari saja susah,” terangnya.

Dia melihat banyak faktor mengapa produksi dan produktivitas kedelai lokal itu rendah. Pertama, untuk saat ini kendalanya yaitu tentang pupuk. Selain itu juga tidak ada proteksi harga jual bagi petani.

Sejatinya, tambah Soetriono, sejak dulu ada program dari pemerintah bernama Pajuli, yaitu padi, jagung, dan kedelai. Bahkan juga ada bantuan benih kedelai. Namun, dari riset yang pernah dilakukan di daerah selatan, benih bantuan tersebut justru tidak tumbuh.

Selain itu, bila harga kedelai impor itu murah, maka pemerintah juga punya kebijakan tidak membuka kran impor besar-besaran. Sebab bila impor kedelai impor luar biasa, petani juga enggan menanam kedelai. “Beragam kesulitan seperti itulah, yang membuat petani enggan tanam kedelai dan ganti komoditas yang lain,” ujarnya.

Dia melakukan penelitian tentang kedelai di Jawa Timur pada 2019 silam, dengan sampel Banyuwangi, Kediri, dan Malang. Karena ketiga daerah tersebut menjadi sentra kedelai, yaitu Banyuwangi pada sisi produksi, Kediri pada sisi industri tahu tempe, dan Malang pada sisi produksi dan industri tahu tempe. Namun sayangnya kedelai lokal yang diproduksi petani setempat justru tidak masuk ke industri tahu tempe. “90 persen itu pakai kedelai impor,” terangnya.

SLAWU, Radar Jember – Naiknya harga kedelai impor yang berdampak langsung kepada perajin tahu dan tempe bukan hal yang baru lagi. Isu nasional ini bahkan membuat sejumlah perajin tahu dan tempe memutuskan untuk mengecilkan ukuran tahu dan tempe atau mengurangi jumlah produksi.

Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Jember Prof Soetriono mengungkapkan, antisipasi tentang kebutuhan kedelai itu masih kurang. Berbicara apakah kedelai lokal bisa gantikan kedelai impor dalam pembuatan tahu dan tempe, bagi Soetriono ini sejatinya sangat bisa. “Tapi kedelai lokal itu apakah bisa memenuhi kebutuhan perajin tahu tempe? Cari 500 kilogram kedelai lokal setiap hari saja susah,” terangnya.

Dia melihat banyak faktor mengapa produksi dan produktivitas kedelai lokal itu rendah. Pertama, untuk saat ini kendalanya yaitu tentang pupuk. Selain itu juga tidak ada proteksi harga jual bagi petani.

Sejatinya, tambah Soetriono, sejak dulu ada program dari pemerintah bernama Pajuli, yaitu padi, jagung, dan kedelai. Bahkan juga ada bantuan benih kedelai. Namun, dari riset yang pernah dilakukan di daerah selatan, benih bantuan tersebut justru tidak tumbuh.

Selain itu, bila harga kedelai impor itu murah, maka pemerintah juga punya kebijakan tidak membuka kran impor besar-besaran. Sebab bila impor kedelai impor luar biasa, petani juga enggan menanam kedelai. “Beragam kesulitan seperti itulah, yang membuat petani enggan tanam kedelai dan ganti komoditas yang lain,” ujarnya.

Dia melakukan penelitian tentang kedelai di Jawa Timur pada 2019 silam, dengan sampel Banyuwangi, Kediri, dan Malang. Karena ketiga daerah tersebut menjadi sentra kedelai, yaitu Banyuwangi pada sisi produksi, Kediri pada sisi industri tahu tempe, dan Malang pada sisi produksi dan industri tahu tempe. Namun sayangnya kedelai lokal yang diproduksi petani setempat justru tidak masuk ke industri tahu tempe. “90 persen itu pakai kedelai impor,” terangnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/