alexametrics
23.5 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Sopir Angkot Berharap Anak Sekolah Masuk Lagi

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) tak hanya diharapkan oleh para orang tua dan siswa. Hal itu juga menjadi harapan besar bagi para sopir angkutan kota (angkot). Sebab, sebagian besar penumpangnya berasal dari kalangan siswa.

Sugianto, 52, salah seorang sopir angkot tujuan Tawang Alun-Gladak Pakem, mengatakan, selama pandemi, dirinya merasakan penurunan penumpang yang sangat signifikan. Khususnya dari kalangan siswa. Sebelum pandemi, biasanya dia mampu membawa 10 hingga 15 penumpang siswa. Begitu juga dengan waktunya, yang mulai terjadwal sekitar pukul 07.00-16.00.

“Kalau dulu, sudah pasti jam-jam ramai itu jam berapa. Lokasi-lokasi yang ramai juga di mana. Kalau sekarang, kalaupun ada yang masuk sebagian, tapi jamnya saya tidak tahu jam berapa,” tuturnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Meski demikian, Sugianto tetap setia melaju dengan kendaraan roda empat berwarna kuning itu. Beruntung, sang pemilik angkot mengerti akan keadaannya yang serba sulit dalam mendapatkan penumpang. “Kalau bos saya terima-terima saja saya mau setor berapa. Karena memang ngerti kalau keadaan lagi repot. Dan lin ini kalau tidak jalan ya rusak lama-lama,” imbuhnya.

Hal senada juga dirasakan oleh Andri, 42, sopir angkot tujuan Tawang Alun-Pakusari. Selama pandemi, dia tak mampu menyetorkan sebagian penghasilannya setiap hari kepada juragannya. Sebab, jika disamakan dengan kondisi normal, bukan hanya tak dapat upah. Yang ada malah dia merugi dan tak balik modal.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) tak hanya diharapkan oleh para orang tua dan siswa. Hal itu juga menjadi harapan besar bagi para sopir angkutan kota (angkot). Sebab, sebagian besar penumpangnya berasal dari kalangan siswa.

Sugianto, 52, salah seorang sopir angkot tujuan Tawang Alun-Gladak Pakem, mengatakan, selama pandemi, dirinya merasakan penurunan penumpang yang sangat signifikan. Khususnya dari kalangan siswa. Sebelum pandemi, biasanya dia mampu membawa 10 hingga 15 penumpang siswa. Begitu juga dengan waktunya, yang mulai terjadwal sekitar pukul 07.00-16.00.

“Kalau dulu, sudah pasti jam-jam ramai itu jam berapa. Lokasi-lokasi yang ramai juga di mana. Kalau sekarang, kalaupun ada yang masuk sebagian, tapi jamnya saya tidak tahu jam berapa,” tuturnya.

Meski demikian, Sugianto tetap setia melaju dengan kendaraan roda empat berwarna kuning itu. Beruntung, sang pemilik angkot mengerti akan keadaannya yang serba sulit dalam mendapatkan penumpang. “Kalau bos saya terima-terima saja saya mau setor berapa. Karena memang ngerti kalau keadaan lagi repot. Dan lin ini kalau tidak jalan ya rusak lama-lama,” imbuhnya.

Hal senada juga dirasakan oleh Andri, 42, sopir angkot tujuan Tawang Alun-Pakusari. Selama pandemi, dia tak mampu menyetorkan sebagian penghasilannya setiap hari kepada juragannya. Sebab, jika disamakan dengan kondisi normal, bukan hanya tak dapat upah. Yang ada malah dia merugi dan tak balik modal.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) tak hanya diharapkan oleh para orang tua dan siswa. Hal itu juga menjadi harapan besar bagi para sopir angkutan kota (angkot). Sebab, sebagian besar penumpangnya berasal dari kalangan siswa.

Sugianto, 52, salah seorang sopir angkot tujuan Tawang Alun-Gladak Pakem, mengatakan, selama pandemi, dirinya merasakan penurunan penumpang yang sangat signifikan. Khususnya dari kalangan siswa. Sebelum pandemi, biasanya dia mampu membawa 10 hingga 15 penumpang siswa. Begitu juga dengan waktunya, yang mulai terjadwal sekitar pukul 07.00-16.00.

“Kalau dulu, sudah pasti jam-jam ramai itu jam berapa. Lokasi-lokasi yang ramai juga di mana. Kalau sekarang, kalaupun ada yang masuk sebagian, tapi jamnya saya tidak tahu jam berapa,” tuturnya.

Meski demikian, Sugianto tetap setia melaju dengan kendaraan roda empat berwarna kuning itu. Beruntung, sang pemilik angkot mengerti akan keadaannya yang serba sulit dalam mendapatkan penumpang. “Kalau bos saya terima-terima saja saya mau setor berapa. Karena memang ngerti kalau keadaan lagi repot. Dan lin ini kalau tidak jalan ya rusak lama-lama,” imbuhnya.

Hal senada juga dirasakan oleh Andri, 42, sopir angkot tujuan Tawang Alun-Pakusari. Selama pandemi, dia tak mampu menyetorkan sebagian penghasilannya setiap hari kepada juragannya. Sebab, jika disamakan dengan kondisi normal, bukan hanya tak dapat upah. Yang ada malah dia merugi dan tak balik modal.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/