alexametrics
26.6 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Membatik Jangan Mudah Menyerah

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tiasti Wulandari, warga yang tinggal di Jalan Merak, Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi, menekuni home industry batik. Perempuan kelahiran 30 September 1970 tersebut mengaku belajar secara khusus.

Baca Juga : Berteduh Mainan HP Malah Disambar Petir

Menurutnya, instruktur yang mengajari Tiasti membatik adalah saudaranya sendiri. Berkat keseriusannya, dia pun cepat terampil membatik. “Saya belajar membatik itu satu tahun,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ketika bekal pengetahuan membatik tersebut dirasa cukup, istri Hendra Kusuma itu lantas membeli kain untuk bereksperimen membatik tulis. Namun, karena hasil kurang memuaskan, batik hasil bikinan Tiasti itu belum bisa dipasarkan. Sang suami pun terus memotivasinya untuk tetap semangat mencoba.

Meski semua hambatan besar dihadapi, perempuan tersebut tetap bersikukuh untuk terus membatik. Dirinya merasa yakin bahwa modal yang dikeluarkan akan ada gantinya. “Alhasil, semua hambatan bisa dilalui. Aku sendiri terharu kini bisa pandai membatik bahkan menjadi pelaku usaha batik,” ujarnya sembari bernostalgia akan pahit manis pengalaman yang dilaluinya. Kini batik miliknya sudah bersaing di pasaran.

Nah, batik milik perempuan ini lebih mengandalkan motif tembakau. Hal ini dipilih karena menjadi ciri khas Kabupaten Jember. Namun, nuansa Madura masih terasa kental, terutama dari segi pewarnaannya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tiasti Wulandari, warga yang tinggal di Jalan Merak, Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi, menekuni home industry batik. Perempuan kelahiran 30 September 1970 tersebut mengaku belajar secara khusus.

Baca Juga : Berteduh Mainan HP Malah Disambar Petir

Menurutnya, instruktur yang mengajari Tiasti membatik adalah saudaranya sendiri. Berkat keseriusannya, dia pun cepat terampil membatik. “Saya belajar membatik itu satu tahun,” katanya.

Ketika bekal pengetahuan membatik tersebut dirasa cukup, istri Hendra Kusuma itu lantas membeli kain untuk bereksperimen membatik tulis. Namun, karena hasil kurang memuaskan, batik hasil bikinan Tiasti itu belum bisa dipasarkan. Sang suami pun terus memotivasinya untuk tetap semangat mencoba.

Meski semua hambatan besar dihadapi, perempuan tersebut tetap bersikukuh untuk terus membatik. Dirinya merasa yakin bahwa modal yang dikeluarkan akan ada gantinya. “Alhasil, semua hambatan bisa dilalui. Aku sendiri terharu kini bisa pandai membatik bahkan menjadi pelaku usaha batik,” ujarnya sembari bernostalgia akan pahit manis pengalaman yang dilaluinya. Kini batik miliknya sudah bersaing di pasaran.

Nah, batik milik perempuan ini lebih mengandalkan motif tembakau. Hal ini dipilih karena menjadi ciri khas Kabupaten Jember. Namun, nuansa Madura masih terasa kental, terutama dari segi pewarnaannya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tiasti Wulandari, warga yang tinggal di Jalan Merak, Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi, menekuni home industry batik. Perempuan kelahiran 30 September 1970 tersebut mengaku belajar secara khusus.

Baca Juga : Berteduh Mainan HP Malah Disambar Petir

Menurutnya, instruktur yang mengajari Tiasti membatik adalah saudaranya sendiri. Berkat keseriusannya, dia pun cepat terampil membatik. “Saya belajar membatik itu satu tahun,” katanya.

Ketika bekal pengetahuan membatik tersebut dirasa cukup, istri Hendra Kusuma itu lantas membeli kain untuk bereksperimen membatik tulis. Namun, karena hasil kurang memuaskan, batik hasil bikinan Tiasti itu belum bisa dipasarkan. Sang suami pun terus memotivasinya untuk tetap semangat mencoba.

Meski semua hambatan besar dihadapi, perempuan tersebut tetap bersikukuh untuk terus membatik. Dirinya merasa yakin bahwa modal yang dikeluarkan akan ada gantinya. “Alhasil, semua hambatan bisa dilalui. Aku sendiri terharu kini bisa pandai membatik bahkan menjadi pelaku usaha batik,” ujarnya sembari bernostalgia akan pahit manis pengalaman yang dilaluinya. Kini batik miliknya sudah bersaing di pasaran.

Nah, batik milik perempuan ini lebih mengandalkan motif tembakau. Hal ini dipilih karena menjadi ciri khas Kabupaten Jember. Namun, nuansa Madura masih terasa kental, terutama dari segi pewarnaannya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/