alexametrics
23.4 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Terdampak Harga Bahan Dasar yang Melonjak

UMKM Bertekad Pertahankan Kualitas

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tangan kasar Teguh Adi Suprapto kala itu sibuk menggaruk kulit kepala bagian belakang. Tetapi, jangan salah sangka. Gerakan tersebut bukan berarti kulit kepalanya terasa gatal sehingga harus digaruk. Namun, hal itu merupakan upaya Teguh dalam mengekspresikan kebingungannya.

Maklum, musim hujan berkepanjangan ini membuat banyak harga kebutuhan pokok di pasaran melonjak. Akibatnya, kerap mengganggu produktivitas para pedagang.

Pemuda kelahiran Desa Andongrejo, Kecamatan Tempurejo, itu harus merogoh kocek lebih banyak jika dibandingkan dengan sebelumnya untuk membeli bahan dasar pembuatan jamu yang dia jual. Di antaranya temulawak, jahe, kunyit, serit, dan gula. Terlebih, stok empon-empon di pasaran kerap habis. “Soalnya, selama pandemi banyak yang minat beli empon-empon untuk meningkatkan imunitas,” paparnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurut dia, di antara bahan dasar itu, jahe yang paling mahal, mencapai Rp 30 ribu per kilogram. Beruntung, dia bisa langsung membeli dari petani. Sementara di pasaran, harga jahe mencapai Rp 50 ribu per kilogram.

Pria berusia 27 tahun itu menyatakan, dalam memproduksi jamu yang terbuat dari empon-empon tersebut, pihaknya sering kali dibenturkan dengan mahalnya harga bahan dasar itu. Namun, dia bertekad tidak mengurangi takaran untuk memangkas pembiayaan. “Bagaimanapun, kualitas yang utama,” tegasnya.

Dia menambahkan bahwa pilihannya hanya dua. Mengurangi produksi atau menaikkan harga. Namun, tidak dengan takaran resep jamu. Sebab, hal itu bisa mengurangi cita rasa sehingga membuat pelayanan kepada pelanggan menjadi menurun.

Ya, selain pengetahuan terkait pemasaran daring yang bisa membuat para pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) bertahan selama pandemi Covid-19, mereka juga perlu belajar supaya produknya tetap laku di pasaran meski banyak rintangan yang menerpa. Di antaranya, naiknya bahan dasar dan ongkos pengiriman. Hal tersebut terkesan sepele, namun kerap mengakibatkan para pelaku UMKM gulung tikar.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tangan kasar Teguh Adi Suprapto kala itu sibuk menggaruk kulit kepala bagian belakang. Tetapi, jangan salah sangka. Gerakan tersebut bukan berarti kulit kepalanya terasa gatal sehingga harus digaruk. Namun, hal itu merupakan upaya Teguh dalam mengekspresikan kebingungannya.

Maklum, musim hujan berkepanjangan ini membuat banyak harga kebutuhan pokok di pasaran melonjak. Akibatnya, kerap mengganggu produktivitas para pedagang.

Pemuda kelahiran Desa Andongrejo, Kecamatan Tempurejo, itu harus merogoh kocek lebih banyak jika dibandingkan dengan sebelumnya untuk membeli bahan dasar pembuatan jamu yang dia jual. Di antaranya temulawak, jahe, kunyit, serit, dan gula. Terlebih, stok empon-empon di pasaran kerap habis. “Soalnya, selama pandemi banyak yang minat beli empon-empon untuk meningkatkan imunitas,” paparnya.

Menurut dia, di antara bahan dasar itu, jahe yang paling mahal, mencapai Rp 30 ribu per kilogram. Beruntung, dia bisa langsung membeli dari petani. Sementara di pasaran, harga jahe mencapai Rp 50 ribu per kilogram.

Pria berusia 27 tahun itu menyatakan, dalam memproduksi jamu yang terbuat dari empon-empon tersebut, pihaknya sering kali dibenturkan dengan mahalnya harga bahan dasar itu. Namun, dia bertekad tidak mengurangi takaran untuk memangkas pembiayaan. “Bagaimanapun, kualitas yang utama,” tegasnya.

Dia menambahkan bahwa pilihannya hanya dua. Mengurangi produksi atau menaikkan harga. Namun, tidak dengan takaran resep jamu. Sebab, hal itu bisa mengurangi cita rasa sehingga membuat pelayanan kepada pelanggan menjadi menurun.

Ya, selain pengetahuan terkait pemasaran daring yang bisa membuat para pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) bertahan selama pandemi Covid-19, mereka juga perlu belajar supaya produknya tetap laku di pasaran meski banyak rintangan yang menerpa. Di antaranya, naiknya bahan dasar dan ongkos pengiriman. Hal tersebut terkesan sepele, namun kerap mengakibatkan para pelaku UMKM gulung tikar.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tangan kasar Teguh Adi Suprapto kala itu sibuk menggaruk kulit kepala bagian belakang. Tetapi, jangan salah sangka. Gerakan tersebut bukan berarti kulit kepalanya terasa gatal sehingga harus digaruk. Namun, hal itu merupakan upaya Teguh dalam mengekspresikan kebingungannya.

Maklum, musim hujan berkepanjangan ini membuat banyak harga kebutuhan pokok di pasaran melonjak. Akibatnya, kerap mengganggu produktivitas para pedagang.

Pemuda kelahiran Desa Andongrejo, Kecamatan Tempurejo, itu harus merogoh kocek lebih banyak jika dibandingkan dengan sebelumnya untuk membeli bahan dasar pembuatan jamu yang dia jual. Di antaranya temulawak, jahe, kunyit, serit, dan gula. Terlebih, stok empon-empon di pasaran kerap habis. “Soalnya, selama pandemi banyak yang minat beli empon-empon untuk meningkatkan imunitas,” paparnya.

Menurut dia, di antara bahan dasar itu, jahe yang paling mahal, mencapai Rp 30 ribu per kilogram. Beruntung, dia bisa langsung membeli dari petani. Sementara di pasaran, harga jahe mencapai Rp 50 ribu per kilogram.

Pria berusia 27 tahun itu menyatakan, dalam memproduksi jamu yang terbuat dari empon-empon tersebut, pihaknya sering kali dibenturkan dengan mahalnya harga bahan dasar itu. Namun, dia bertekad tidak mengurangi takaran untuk memangkas pembiayaan. “Bagaimanapun, kualitas yang utama,” tegasnya.

Dia menambahkan bahwa pilihannya hanya dua. Mengurangi produksi atau menaikkan harga. Namun, tidak dengan takaran resep jamu. Sebab, hal itu bisa mengurangi cita rasa sehingga membuat pelayanan kepada pelanggan menjadi menurun.

Ya, selain pengetahuan terkait pemasaran daring yang bisa membuat para pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) bertahan selama pandemi Covid-19, mereka juga perlu belajar supaya produknya tetap laku di pasaran meski banyak rintangan yang menerpa. Di antaranya, naiknya bahan dasar dan ongkos pengiriman. Hal tersebut terkesan sepele, namun kerap mengakibatkan para pelaku UMKM gulung tikar.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/