alexametrics
23.3 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

Dituding Abaikan Pekerja Lokal

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Buntut keluhan masyarakat terhadap aktivitas tambak yang berada di sekitar jalur lintas selatan (JLS) Dusun Jeni, Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas, rupanya kian meluber. Warga setempat tak hanya menyoal aktivitas tambak yang diduga membuang limbah tanpa daur ulang. Namun, mereka juga mempermasalahkan soal rekrutmen tenaga kerja yang dinilai kurang melibatkan masyarakat setempat.

Warga menganggap, selama ini perusahaan tambak yang beroperasi itu lebih banyak merekrut karyawan dari luar daerah Gumukmas, atau bukan warga Gumukmas. “Warga sekitar sini sedikit sekali yang bekerja di tambak. Kalau ada, paling hanya ada satu atau dua. Hitungan jari,” beber Sukat, ketua RT di Dusun Jeni.

Kendati tidak menyebut tambak mana saja, tapi ia mengungkapkan, pihak tambak memang sengaja tidak mempekerjakan warga sekitar. “Dari pemilik tambak yang ada ini, banyak dimiliki oleh orang dari luar, termasuk pekerjanya juga dari luar,” imbuh Sukat.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ia menyatakan, seharusnya perusahaan tambak bisa melibatkan warga untuk dipekerjakan. Sebab, dengan begitu, ada timbal balik yang positif antara warga setempat dengan keberadaan tempat pengolahan tambak.

Jawa Pos Radar Jember sempat memantau kondisi salah satu tambak di Dusun Jeni. Dari pengakuan beberapa pekerja, memang mereka ada yang berasal dari luar kecamatan. Seperti dari Arjasa dan Jenggawah. Selebihnya, tidak mengakui asalnya.

Pihak pengelola tambak justru menampik tudingan itu. Mereka berdalih, pengelola tambak bukan tidak mempekerjakan warga setempat. Namun, warga sendiri yang justru banyak memilih menjadi nelayan ketimbang bekerja di tambak. “Sudah pernah kami tawarkan ke warga, tapi warga tidak mau. Dan lebih memilih bekerja nelayan,” aku Didik, salah satu pengelola tambak di Dusun Jeni.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Buntut keluhan masyarakat terhadap aktivitas tambak yang berada di sekitar jalur lintas selatan (JLS) Dusun Jeni, Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas, rupanya kian meluber. Warga setempat tak hanya menyoal aktivitas tambak yang diduga membuang limbah tanpa daur ulang. Namun, mereka juga mempermasalahkan soal rekrutmen tenaga kerja yang dinilai kurang melibatkan masyarakat setempat.

Warga menganggap, selama ini perusahaan tambak yang beroperasi itu lebih banyak merekrut karyawan dari luar daerah Gumukmas, atau bukan warga Gumukmas. “Warga sekitar sini sedikit sekali yang bekerja di tambak. Kalau ada, paling hanya ada satu atau dua. Hitungan jari,” beber Sukat, ketua RT di Dusun Jeni.

Kendati tidak menyebut tambak mana saja, tapi ia mengungkapkan, pihak tambak memang sengaja tidak mempekerjakan warga sekitar. “Dari pemilik tambak yang ada ini, banyak dimiliki oleh orang dari luar, termasuk pekerjanya juga dari luar,” imbuh Sukat.

Ia menyatakan, seharusnya perusahaan tambak bisa melibatkan warga untuk dipekerjakan. Sebab, dengan begitu, ada timbal balik yang positif antara warga setempat dengan keberadaan tempat pengolahan tambak.

Jawa Pos Radar Jember sempat memantau kondisi salah satu tambak di Dusun Jeni. Dari pengakuan beberapa pekerja, memang mereka ada yang berasal dari luar kecamatan. Seperti dari Arjasa dan Jenggawah. Selebihnya, tidak mengakui asalnya.

Pihak pengelola tambak justru menampik tudingan itu. Mereka berdalih, pengelola tambak bukan tidak mempekerjakan warga setempat. Namun, warga sendiri yang justru banyak memilih menjadi nelayan ketimbang bekerja di tambak. “Sudah pernah kami tawarkan ke warga, tapi warga tidak mau. Dan lebih memilih bekerja nelayan,” aku Didik, salah satu pengelola tambak di Dusun Jeni.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Buntut keluhan masyarakat terhadap aktivitas tambak yang berada di sekitar jalur lintas selatan (JLS) Dusun Jeni, Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas, rupanya kian meluber. Warga setempat tak hanya menyoal aktivitas tambak yang diduga membuang limbah tanpa daur ulang. Namun, mereka juga mempermasalahkan soal rekrutmen tenaga kerja yang dinilai kurang melibatkan masyarakat setempat.

Warga menganggap, selama ini perusahaan tambak yang beroperasi itu lebih banyak merekrut karyawan dari luar daerah Gumukmas, atau bukan warga Gumukmas. “Warga sekitar sini sedikit sekali yang bekerja di tambak. Kalau ada, paling hanya ada satu atau dua. Hitungan jari,” beber Sukat, ketua RT di Dusun Jeni.

Kendati tidak menyebut tambak mana saja, tapi ia mengungkapkan, pihak tambak memang sengaja tidak mempekerjakan warga sekitar. “Dari pemilik tambak yang ada ini, banyak dimiliki oleh orang dari luar, termasuk pekerjanya juga dari luar,” imbuh Sukat.

Ia menyatakan, seharusnya perusahaan tambak bisa melibatkan warga untuk dipekerjakan. Sebab, dengan begitu, ada timbal balik yang positif antara warga setempat dengan keberadaan tempat pengolahan tambak.

Jawa Pos Radar Jember sempat memantau kondisi salah satu tambak di Dusun Jeni. Dari pengakuan beberapa pekerja, memang mereka ada yang berasal dari luar kecamatan. Seperti dari Arjasa dan Jenggawah. Selebihnya, tidak mengakui asalnya.

Pihak pengelola tambak justru menampik tudingan itu. Mereka berdalih, pengelola tambak bukan tidak mempekerjakan warga setempat. Namun, warga sendiri yang justru banyak memilih menjadi nelayan ketimbang bekerja di tambak. “Sudah pernah kami tawarkan ke warga, tapi warga tidak mau. Dan lebih memilih bekerja nelayan,” aku Didik, salah satu pengelola tambak di Dusun Jeni.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/