22.9 C
Jember
Tuesday, 7 February 2023

Tetap Eksis meski Jualan di Event Tertentu

Mobile_AP_Rectangle 1

KRATON, Radar Jember – Kerajinan wayang di era milenial ini sudah jarang ditemui. Meski begitu, masih ada saja perajin wayang yang tetap eksis. Salah satunya adalah Rasid. Pria tua asli Kencong kelahiran 1953 itu sudah mulai membuat kerajinan wayang sejak tahun 1997 silam.

BACA JUGA : 26 Beragama Konghucu di seluruh Indonesia Terima Remisi Khusus Imlek 2023

Dirinya menjual kerajinan tangan wayang dari acara satu ke acara lainnya. Seperti hajatan di desa-desa, pesta rakyat, ludruk, acara kebudayaan, hingga acara gelaran wayang. “Kebanyakan orang-orang yang mau beli pesan terlebih dahulu. Yang paling banyak dipesan beberapa tokoh wayang khusus. Seperti Sembadra, Punakawan, dan Pandawa,” jelasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurut Rasid, bila tepat momennya dengan gelaran wayang, dirinya dapat memetik banyak keuntungan dari penjualan. “Karena tontonannya wayang. Jadi, ya, beli suvenirnya kerajinan wayang,” bebernya.

Dia menambahkan, kerajinan yang dibuatnya bisa memakai tiga bahan berbeda. Mulai dari bahan kertas, mika, hingga kulit. Bila memakai bahan kertas, prosesnya bisa memakan waktu tiga hari. Bila pakai mika, mulai lima sampai tujuh hari pengerjaan. Kulit lebih lama lagi, yakni tujuh hingga sepuluh hari pengerjaan.

“Tentu ada proses tahapannya. Mulai dari membuat polanya dahulu. Setelah itu dipahat, dan membuat pegangannya,” jelas Rasid. (mg3/c2/bud)

- Advertisement -

KRATON, Radar Jember – Kerajinan wayang di era milenial ini sudah jarang ditemui. Meski begitu, masih ada saja perajin wayang yang tetap eksis. Salah satunya adalah Rasid. Pria tua asli Kencong kelahiran 1953 itu sudah mulai membuat kerajinan wayang sejak tahun 1997 silam.

BACA JUGA : 26 Beragama Konghucu di seluruh Indonesia Terima Remisi Khusus Imlek 2023

Dirinya menjual kerajinan tangan wayang dari acara satu ke acara lainnya. Seperti hajatan di desa-desa, pesta rakyat, ludruk, acara kebudayaan, hingga acara gelaran wayang. “Kebanyakan orang-orang yang mau beli pesan terlebih dahulu. Yang paling banyak dipesan beberapa tokoh wayang khusus. Seperti Sembadra, Punakawan, dan Pandawa,” jelasnya.

Menurut Rasid, bila tepat momennya dengan gelaran wayang, dirinya dapat memetik banyak keuntungan dari penjualan. “Karena tontonannya wayang. Jadi, ya, beli suvenirnya kerajinan wayang,” bebernya.

Dia menambahkan, kerajinan yang dibuatnya bisa memakai tiga bahan berbeda. Mulai dari bahan kertas, mika, hingga kulit. Bila memakai bahan kertas, prosesnya bisa memakan waktu tiga hari. Bila pakai mika, mulai lima sampai tujuh hari pengerjaan. Kulit lebih lama lagi, yakni tujuh hingga sepuluh hari pengerjaan.

“Tentu ada proses tahapannya. Mulai dari membuat polanya dahulu. Setelah itu dipahat, dan membuat pegangannya,” jelas Rasid. (mg3/c2/bud)

KRATON, Radar Jember – Kerajinan wayang di era milenial ini sudah jarang ditemui. Meski begitu, masih ada saja perajin wayang yang tetap eksis. Salah satunya adalah Rasid. Pria tua asli Kencong kelahiran 1953 itu sudah mulai membuat kerajinan wayang sejak tahun 1997 silam.

BACA JUGA : 26 Beragama Konghucu di seluruh Indonesia Terima Remisi Khusus Imlek 2023

Dirinya menjual kerajinan tangan wayang dari acara satu ke acara lainnya. Seperti hajatan di desa-desa, pesta rakyat, ludruk, acara kebudayaan, hingga acara gelaran wayang. “Kebanyakan orang-orang yang mau beli pesan terlebih dahulu. Yang paling banyak dipesan beberapa tokoh wayang khusus. Seperti Sembadra, Punakawan, dan Pandawa,” jelasnya.

Menurut Rasid, bila tepat momennya dengan gelaran wayang, dirinya dapat memetik banyak keuntungan dari penjualan. “Karena tontonannya wayang. Jadi, ya, beli suvenirnya kerajinan wayang,” bebernya.

Dia menambahkan, kerajinan yang dibuatnya bisa memakai tiga bahan berbeda. Mulai dari bahan kertas, mika, hingga kulit. Bila memakai bahan kertas, prosesnya bisa memakan waktu tiga hari. Bila pakai mika, mulai lima sampai tujuh hari pengerjaan. Kulit lebih lama lagi, yakni tujuh hingga sepuluh hari pengerjaan.

“Tentu ada proses tahapannya. Mulai dari membuat polanya dahulu. Setelah itu dipahat, dan membuat pegangannya,” jelas Rasid. (mg3/c2/bud)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca