alexametrics
28.7 C
Jember
Monday, 16 May 2022

Sepi Pembeli, Mau Berhenti Eman dengan Koleksi

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Di bahu kiri jalan Letjen S Parman, dari arah barat, nampak barisan pedagang yang tengah berjualan di atas trotoar. Di tepi jalan tersebut, terdapat salah satu dagangan yang tak asing bagi masyarakat, yakni lapak VCD.

Memasuki tahun ke tujuh, Ali (43) berjualan VCD di sebuah ruangan minimalis berukuran 1×3 meter. Ditemani istrinya yang nyambi berjualan pisang, dia masih bersabar menekuni bisnis lawas itu. Ya, semenjak 2018 omzet penjualan VCD miliknya semakin merosot akibat kehadiran teknologi.

Sebelumnya, sejak 2007 Ali berjualan VCD di sekitar Pasar Tanjung. Namun karena tak mampu membayar pajak, pada 2013 dia digusur. Hingga akhirnya dia memilih untuk melanjutkan bisnisnya di tepi jalan yang menjadi tempat lapaknya sampai saat ini.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Karena ini di pinggir jalan, jadi alhamdulillah masih berjalan. Meski semakin hari masyarakat sudah kenal kemudahan teknologi, jadi VCDnya mulai kalah,” ungkap ayah tiga anak tersebut.

Padahal saat dia baru berpindah tempat, masyarakat sering datang bergerombol untuk membeli VCD jualannya. Sehingga pada saat itu, dia mampu terjual hingga 50 keping. Jika dibanding saat ini, penjualan VCD miliknya hanya mencapai 10 keping saja. “Merosot tajam kalau yang sekarang ini,” ujarnya sambil membereskan koleksi VCD tahun 1990-an.

Tak hanya tergerus teknologi, kemerosotan omzetnya juga tak lain disebabkan oleh dampak pandemi. Sebab, sejak setahun terakhir ini masyarakat mulai jarang menanyakan koleksi VCD yang dijualnya. “Kalau dulu masih lumayan yang beli, tapi sekarang yang tanya saja sudah jarang,” paparnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Di bahu kiri jalan Letjen S Parman, dari arah barat, nampak barisan pedagang yang tengah berjualan di atas trotoar. Di tepi jalan tersebut, terdapat salah satu dagangan yang tak asing bagi masyarakat, yakni lapak VCD.

Memasuki tahun ke tujuh, Ali (43) berjualan VCD di sebuah ruangan minimalis berukuran 1×3 meter. Ditemani istrinya yang nyambi berjualan pisang, dia masih bersabar menekuni bisnis lawas itu. Ya, semenjak 2018 omzet penjualan VCD miliknya semakin merosot akibat kehadiran teknologi.

Sebelumnya, sejak 2007 Ali berjualan VCD di sekitar Pasar Tanjung. Namun karena tak mampu membayar pajak, pada 2013 dia digusur. Hingga akhirnya dia memilih untuk melanjutkan bisnisnya di tepi jalan yang menjadi tempat lapaknya sampai saat ini.

“Karena ini di pinggir jalan, jadi alhamdulillah masih berjalan. Meski semakin hari masyarakat sudah kenal kemudahan teknologi, jadi VCDnya mulai kalah,” ungkap ayah tiga anak tersebut.

Padahal saat dia baru berpindah tempat, masyarakat sering datang bergerombol untuk membeli VCD jualannya. Sehingga pada saat itu, dia mampu terjual hingga 50 keping. Jika dibanding saat ini, penjualan VCD miliknya hanya mencapai 10 keping saja. “Merosot tajam kalau yang sekarang ini,” ujarnya sambil membereskan koleksi VCD tahun 1990-an.

Tak hanya tergerus teknologi, kemerosotan omzetnya juga tak lain disebabkan oleh dampak pandemi. Sebab, sejak setahun terakhir ini masyarakat mulai jarang menanyakan koleksi VCD yang dijualnya. “Kalau dulu masih lumayan yang beli, tapi sekarang yang tanya saja sudah jarang,” paparnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Di bahu kiri jalan Letjen S Parman, dari arah barat, nampak barisan pedagang yang tengah berjualan di atas trotoar. Di tepi jalan tersebut, terdapat salah satu dagangan yang tak asing bagi masyarakat, yakni lapak VCD.

Memasuki tahun ke tujuh, Ali (43) berjualan VCD di sebuah ruangan minimalis berukuran 1×3 meter. Ditemani istrinya yang nyambi berjualan pisang, dia masih bersabar menekuni bisnis lawas itu. Ya, semenjak 2018 omzet penjualan VCD miliknya semakin merosot akibat kehadiran teknologi.

Sebelumnya, sejak 2007 Ali berjualan VCD di sekitar Pasar Tanjung. Namun karena tak mampu membayar pajak, pada 2013 dia digusur. Hingga akhirnya dia memilih untuk melanjutkan bisnisnya di tepi jalan yang menjadi tempat lapaknya sampai saat ini.

“Karena ini di pinggir jalan, jadi alhamdulillah masih berjalan. Meski semakin hari masyarakat sudah kenal kemudahan teknologi, jadi VCDnya mulai kalah,” ungkap ayah tiga anak tersebut.

Padahal saat dia baru berpindah tempat, masyarakat sering datang bergerombol untuk membeli VCD jualannya. Sehingga pada saat itu, dia mampu terjual hingga 50 keping. Jika dibanding saat ini, penjualan VCD miliknya hanya mencapai 10 keping saja. “Merosot tajam kalau yang sekarang ini,” ujarnya sambil membereskan koleksi VCD tahun 1990-an.

Tak hanya tergerus teknologi, kemerosotan omzetnya juga tak lain disebabkan oleh dampak pandemi. Sebab, sejak setahun terakhir ini masyarakat mulai jarang menanyakan koleksi VCD yang dijualnya. “Kalau dulu masih lumayan yang beli, tapi sekarang yang tanya saja sudah jarang,” paparnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/