alexametrics
27.9 C
Jember
Sunday, 22 May 2022

Tunawisma Terbanyak Kedua di Jawa Timur

Ada Indikasi Kiriman dari Luar Kota

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID –  Kalangan tunawisma menjadi salah satu fenomena yang tidak bisa lepas dari kehidupan. Di Jember, keberadaan mereka sangat mudah dijumpai. Misalnya di sepanjang emperan toko Jalan Trunojoyo.

Nyatanya, berdasarkan data yang dihimpun oleh Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, Jember menjadi kota nomor dua dengan jumlah tunawisma terbanyak. Setidaknya, jumlahnya mencapai 299 juta jiwa selama kurun waktu 2019. Jawa Pos Radar Jember pun mencoba mengonfirmasi Dinas Sosial Jember. Sayangnya, pihak Dinas Sosial Jember tak mau berkomentar banyak. “Untuk saat ini saya tidak mau berkomentar banyak tentang apa pun itu,” ungkap Plt Kadinsos Jember Wahyu S Handayani.

Terpisah, pakar ilmu kesejahteraan Universitas Jember, Kris Hendrijanto, memprediksi, banyaknya jumlah gelandangan di Jember disebabkan oleh kiriman dari luar kota. Sama halnya dengan jumlah anak jalanan di Jember. “Kami belum melakukan kajian lebih lanjut. Namun, kemungkinan bisa jadi adanya kiriman dari luar kota, seperti Probolinggo. Sama seperti ODGJ (orang dengan gangguan jiwa, Red),” kata dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik itu.

Mobile_AP_Rectangle 2

Lebih jauh, keberadaan gelandangan dan pengemis berasal dari berbagai permasalahan hidup yang dihadapi. Beberapa permasalahan yang dialami oleh gelandangan dan pengemis adalah masalah ekonomi, masalah pendidikan, dan masalah sosial budaya. Masalah ekonomi yang dialami adalah tentang masalah kemiskinan.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID –  Kalangan tunawisma menjadi salah satu fenomena yang tidak bisa lepas dari kehidupan. Di Jember, keberadaan mereka sangat mudah dijumpai. Misalnya di sepanjang emperan toko Jalan Trunojoyo.

Nyatanya, berdasarkan data yang dihimpun oleh Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, Jember menjadi kota nomor dua dengan jumlah tunawisma terbanyak. Setidaknya, jumlahnya mencapai 299 juta jiwa selama kurun waktu 2019. Jawa Pos Radar Jember pun mencoba mengonfirmasi Dinas Sosial Jember. Sayangnya, pihak Dinas Sosial Jember tak mau berkomentar banyak. “Untuk saat ini saya tidak mau berkomentar banyak tentang apa pun itu,” ungkap Plt Kadinsos Jember Wahyu S Handayani.

Terpisah, pakar ilmu kesejahteraan Universitas Jember, Kris Hendrijanto, memprediksi, banyaknya jumlah gelandangan di Jember disebabkan oleh kiriman dari luar kota. Sama halnya dengan jumlah anak jalanan di Jember. “Kami belum melakukan kajian lebih lanjut. Namun, kemungkinan bisa jadi adanya kiriman dari luar kota, seperti Probolinggo. Sama seperti ODGJ (orang dengan gangguan jiwa, Red),” kata dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik itu.

Lebih jauh, keberadaan gelandangan dan pengemis berasal dari berbagai permasalahan hidup yang dihadapi. Beberapa permasalahan yang dialami oleh gelandangan dan pengemis adalah masalah ekonomi, masalah pendidikan, dan masalah sosial budaya. Masalah ekonomi yang dialami adalah tentang masalah kemiskinan.

JEMBER, RADARJEMBER.ID –  Kalangan tunawisma menjadi salah satu fenomena yang tidak bisa lepas dari kehidupan. Di Jember, keberadaan mereka sangat mudah dijumpai. Misalnya di sepanjang emperan toko Jalan Trunojoyo.

Nyatanya, berdasarkan data yang dihimpun oleh Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, Jember menjadi kota nomor dua dengan jumlah tunawisma terbanyak. Setidaknya, jumlahnya mencapai 299 juta jiwa selama kurun waktu 2019. Jawa Pos Radar Jember pun mencoba mengonfirmasi Dinas Sosial Jember. Sayangnya, pihak Dinas Sosial Jember tak mau berkomentar banyak. “Untuk saat ini saya tidak mau berkomentar banyak tentang apa pun itu,” ungkap Plt Kadinsos Jember Wahyu S Handayani.

Terpisah, pakar ilmu kesejahteraan Universitas Jember, Kris Hendrijanto, memprediksi, banyaknya jumlah gelandangan di Jember disebabkan oleh kiriman dari luar kota. Sama halnya dengan jumlah anak jalanan di Jember. “Kami belum melakukan kajian lebih lanjut. Namun, kemungkinan bisa jadi adanya kiriman dari luar kota, seperti Probolinggo. Sama seperti ODGJ (orang dengan gangguan jiwa, Red),” kata dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik itu.

Lebih jauh, keberadaan gelandangan dan pengemis berasal dari berbagai permasalahan hidup yang dihadapi. Beberapa permasalahan yang dialami oleh gelandangan dan pengemis adalah masalah ekonomi, masalah pendidikan, dan masalah sosial budaya. Masalah ekonomi yang dialami adalah tentang masalah kemiskinan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/