alexametrics
31.3 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

Celah Pengangguran Terbuka Selama Pandemi

Bisnis lewat Daring Masih Jadi Solusi

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Uap yang mengepul di atas racikan kopi itu seirama dengan arah adukan tangan Imam Sanusi. Aroma yang tersaji juga nikmat, khas arabika kopi susu. Bunyi dentingan sendok pada dinding gelas itu juga nyaring di telinga.

Ketiga indera fokus menanti racikan kopi susu itu selesai sebelum indera pengecap merasakan cita rasa kopi yang sesungguhnya. “Silakan dinikmati,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Kenikmatan yang tersaji berbanding terbalik dengan pengalaman yang diungkapkan warga Kelurahan Gebang itu. Siapa sangka, sebenarnya dia adalah pedagang ketan. “Saking lamanya jualan ketan, saya kerap dipanggil Imam Ketan,” lanjutnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Karena pandemi, Imam mengalami kesusahan berdagang ketan. Apalagi kala pandemi merebak di Kota Suwar-Suwir ini. “Sepi, nggak ada yang beli,” kata pria 48 tahun tersebut.

Akhirnya, dia banting setir dengan berdagang kopi. Imam memanfaatkan media sosial untuk berdagang. Kopi menjadi bisnis yang dia pilih, sebab menurutnya penikmat kopi di Jember cukup tinggi. “Dan pendapatan saya juga jauh lebih baik ketimbang berdagang ketan,” imbuhnya.

Meski begitu, Imam tak langsung berbalik hati. Dia juga masih berdagang ketan dengan memanfaatkan jejaring sosial. “Kalau ada yang pesan, baru saya buatkan. Jadi, saya juga aktif promosi di status-status WhatsApp, Instagram, dan Facebook,” tuturnya.

Terpisah, Wulan Apriyani yang juga terjun di bisnis UMKM pun sependapat. Menurut pandangannya, bisnis via online kini menjadi peluang yang besar. Sejak lulus kuliah pada 2019 lalu, dia kesusahan mendapatkan pekerjaan. “Ada, tapi harus sukwan guru. Gajinya nggak cukup,” ucap warga Desa Tegalsari, Kecamatan Ambulu, itu.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Uap yang mengepul di atas racikan kopi itu seirama dengan arah adukan tangan Imam Sanusi. Aroma yang tersaji juga nikmat, khas arabika kopi susu. Bunyi dentingan sendok pada dinding gelas itu juga nyaring di telinga.

Ketiga indera fokus menanti racikan kopi susu itu selesai sebelum indera pengecap merasakan cita rasa kopi yang sesungguhnya. “Silakan dinikmati,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Kenikmatan yang tersaji berbanding terbalik dengan pengalaman yang diungkapkan warga Kelurahan Gebang itu. Siapa sangka, sebenarnya dia adalah pedagang ketan. “Saking lamanya jualan ketan, saya kerap dipanggil Imam Ketan,” lanjutnya.

Karena pandemi, Imam mengalami kesusahan berdagang ketan. Apalagi kala pandemi merebak di Kota Suwar-Suwir ini. “Sepi, nggak ada yang beli,” kata pria 48 tahun tersebut.

Akhirnya, dia banting setir dengan berdagang kopi. Imam memanfaatkan media sosial untuk berdagang. Kopi menjadi bisnis yang dia pilih, sebab menurutnya penikmat kopi di Jember cukup tinggi. “Dan pendapatan saya juga jauh lebih baik ketimbang berdagang ketan,” imbuhnya.

Meski begitu, Imam tak langsung berbalik hati. Dia juga masih berdagang ketan dengan memanfaatkan jejaring sosial. “Kalau ada yang pesan, baru saya buatkan. Jadi, saya juga aktif promosi di status-status WhatsApp, Instagram, dan Facebook,” tuturnya.

Terpisah, Wulan Apriyani yang juga terjun di bisnis UMKM pun sependapat. Menurut pandangannya, bisnis via online kini menjadi peluang yang besar. Sejak lulus kuliah pada 2019 lalu, dia kesusahan mendapatkan pekerjaan. “Ada, tapi harus sukwan guru. Gajinya nggak cukup,” ucap warga Desa Tegalsari, Kecamatan Ambulu, itu.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Uap yang mengepul di atas racikan kopi itu seirama dengan arah adukan tangan Imam Sanusi. Aroma yang tersaji juga nikmat, khas arabika kopi susu. Bunyi dentingan sendok pada dinding gelas itu juga nyaring di telinga.

Ketiga indera fokus menanti racikan kopi susu itu selesai sebelum indera pengecap merasakan cita rasa kopi yang sesungguhnya. “Silakan dinikmati,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Kenikmatan yang tersaji berbanding terbalik dengan pengalaman yang diungkapkan warga Kelurahan Gebang itu. Siapa sangka, sebenarnya dia adalah pedagang ketan. “Saking lamanya jualan ketan, saya kerap dipanggil Imam Ketan,” lanjutnya.

Karena pandemi, Imam mengalami kesusahan berdagang ketan. Apalagi kala pandemi merebak di Kota Suwar-Suwir ini. “Sepi, nggak ada yang beli,” kata pria 48 tahun tersebut.

Akhirnya, dia banting setir dengan berdagang kopi. Imam memanfaatkan media sosial untuk berdagang. Kopi menjadi bisnis yang dia pilih, sebab menurutnya penikmat kopi di Jember cukup tinggi. “Dan pendapatan saya juga jauh lebih baik ketimbang berdagang ketan,” imbuhnya.

Meski begitu, Imam tak langsung berbalik hati. Dia juga masih berdagang ketan dengan memanfaatkan jejaring sosial. “Kalau ada yang pesan, baru saya buatkan. Jadi, saya juga aktif promosi di status-status WhatsApp, Instagram, dan Facebook,” tuturnya.

Terpisah, Wulan Apriyani yang juga terjun di bisnis UMKM pun sependapat. Menurut pandangannya, bisnis via online kini menjadi peluang yang besar. Sejak lulus kuliah pada 2019 lalu, dia kesusahan mendapatkan pekerjaan. “Ada, tapi harus sukwan guru. Gajinya nggak cukup,” ucap warga Desa Tegalsari, Kecamatan Ambulu, itu.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/